BlackBerry, harus ya?? (Bag:1)

I already bought new handphone 🙂 . Bukan, bukan untuk pamer (walaupun pamer ama ngasih tau itu beda tipis ya..), tetapi gue pengen cerita mengenai konflik batin versus akal sehat gue dalam memutuskan bahwa sudah saatnya gue ganti handphone dan belum saatnya gue punya BlackBerry.

Handphone gue yang lama, yang sudah ada dalam genggaman gue sejak Februari 2007 namanya Nokia 2610 warnanya hitam. Hampir tidak ada yang istimewa dari handphone itu kecuali bahwa harganya murah abis (apalagi sekarang gue rasa udah gak diproduksi lagi saking murahnya), kecil, nggak ribet deh pokoknya. But the most important thing is, gue beli hape itu pake tabungan gue sendiri sebagai mahasiswa. Selama 2,5 tahun hidupnya, si 2610 ini nggak pernah sekalipun mampir ke Service Center. Kalo diibaratkan manusia, dia itu seperti tokoh David Dunn dalam Unbreakable. Nggak pernah sakit dan tahan banting dalam segala bencana yang menghadang. Semua surat-suratnya masih lengkap, kotaknya, chargernya, manual book, kartu garansi, sampe bon pembelian masih gue simpen dengan rapih.

Kondisi saat ini, karena nggak gue kasih pelindung, bagian belakangnya agak kegores-gores dikit tapi layarnya sih nggak. Fitur-fiturnya sangat sederhana, ibaratnya cuman bisa telepon, sms, pasang alarm, ngitung duit pake kalkulator, dan ngerekam suara. But the best part is : gue masih bisa buka update Facebook dan Twitter lewat fasilitas WAP (dan mungkin GPRS ya, gue gak ngerti deh) yang ada di dalamnya. Artinya secara komunikasi di dunia nyata dan dunia maya, gue udah cukup eksis lah.. hehe 🙂

Cuma, selama 2,5 tahun itu lah, gue merasa gimana ya, kurang update dalam hal entertainment. Dan sepertinya cukup deh, 2,5 tahun aja gue gak update-nya. Misalnya nih, tu handphone kan gak ada kamera, jadi kalo gue ada event, gue musti bawa kamera digital sendiri (dan itu pun pinjem punya bokap). Jadi kalo gue mau lihat-lihat fotonya, gue musti pindahin dulu ke PC, atau dicetak sekalian (karena gue agak males upload foto ke FB). Kalo gue kangen ama temen-temen gue, gue gak bisa setiap saat buka-buka HP dan memandang foto-foto mereka. Sangat ribet harus bawa kamera digital kemana-mana (dan gue juga gak suka bawa barang berharga banyak-banyak), dengan harapan, siapa tahu di tempat tak terduga gue ketemu bintang film favorit gue trus gue tinggal foto bareng dari HP gue. kira-kira gitu.

Aspek entertainment lain adalah tidak adanya fitur musik apapun di HP gue itu. Cuma ada ringtone ama voice recorder doang. Kalo gue pathetic sih bisa aja gue rekam suara Westlife dari radio, trs gue jadiiin MP3 gadungan, hehe.. Kalo gue lagi pengen denger musik di rumah, oke lah, gue cuma harus nyalain radio dan puter CD. Tapi, kalo lagi di jalan (dan sebagian besar umur gue habis di angkot-angkot dan bis kota berdebu), gue suka kesepian (haiyaaah..), bingung mau ngapain, kalo ngantuk tidur, kalo nggak ngantuk, bengong aja dan ujung-ujungnya berkhayal yang nggak-nggak. Maksudnya kan, mending sesekali gue bisa dengerin musik dari HP gue, mengingat gue juga nggak punya i-Pod dan MP3 Player (alasannya sama, males membawa banyak barang berharga dalam satu tas).

Alasan lainnya, karena kebetulan gue udah kerja, ya gue pengen beli sesuatu dari hasil kerja gue. Selama ini penghasilan gue hanya bertahan dalam buku tabungan, hanya nominal, tapi gue butuh wujud konkrit, ya semacam apa ya, semacam bukti nyata aja sih, “Ini lho, hasil kerja gue, gue bisa beli handphone sendiri”, Ya, cuma handphone sih, but it matters karena gue gak gitu suka ama perhiasan (walaupun katanya investasi yang bagus), gue gak gadget-mania, dan gue juga jarang belanja (baju/tas/sepatu). Selama ini paling gaji gue habis buat transport ama nonton film (nggak makan gapapa deh, ibaratnya gitu). Menghilang begitu aja buat pleasure gue *haduh susah ya mau kaya doang*

Nah dengan beberapa pertimbangan itulah, beberapa hari belakangan ini, gue kerap diliputi perasaan bingung, makin banyak bengong, makin banyak nanya sama beberapa temen gue (tentang kebingungan gue), hingga akhirnya, tepat saat 8 tahun tragedi 11 September 2001 (gak ada hubungannya, hehe!), dengan gagah berani, gue datang sendiri ke counter handphone dan menunjuk handphone yang sudah gue incar tersebut. Dan kebimbangan gue pun berakhir.

Nanti akan gue ceritakan lagi bagian lain, saat konflik batin versus akal sehat itu gue alami. Seperti apa dan bagaimana, di post yang berikutnya yah 🙂

Advertisements

2 thoughts on “BlackBerry, harus ya?? (Bag:1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s