Bioskop Kenangan itu….

Dibandingkan sama teman-teman gue yang lain, gue perlu mengaku bahwa gue nggak hip urusan nongkrong-menongkrong, hang-out hang-out-an, apalagi yang pake istilah wisata kuliner. Udah pasti gue ketinggalan jauh dan yang ada kalo dapet ajakan, undangan ngumpul-ngumpul sama temen-temen ke suatu tempat baru, resto baru, gue pasti langsung tanya temen-temen gue, “eh lo tau tempat ini gak? Dimana ya? Kesana naek apa ya? Deket mana ya?” atau gak, “ eh itu tempatnya kayak gimana ya, makanannya apa aja ya?” and the bla.. bla.. (sambil mengibarkan bendera putih tanda menyerah).

Tapi ada satu tempat favorit gue, mungkin bisa dikatakan my silent heaven, artinya surgaku dalam diamku, satu dari sedikit tempat yang bisa bikin gue silent mode on, dan menikmati banget ada di sana. Oke, gue blum bikin list-nya sih, secara nggak banyak juga, salah satunya Kinokuniya PS. Tapi gue gak akan bahas soal tempat tersebut, melainkan satu tempat yang lain yang dinamakan :

Djakarta Theatre XXI alias bioskop Djaktet*

*istilah ini sering muncul saat gila-gilanya gue membahas film sama mahluk ini.

Yak, pasti semua udah tauu dong bioskop yang satu ini. Lokasinya di sebelah Gedung Sarinah dan deket Sabang (trus?? Gak sih, ini membantu mengembangkan imajinasi aja). Sebagai penonton film setia, gue lumayan sering (banget) dan suka pindah-pindah mall cuman buat nonton di bioskopnya, walopun areanya masih di Selatan Jakarta, dan si bioskop Djaktet ini itungannya masih jarang gue datengin. Simply karena tempatnya udah bates paling jauh gue berani keliling kota (mentok) jadi selalu terkalahkan oleh PS, PIM atau malah Blok M yang lebih deket dari rumah gue.

Tapi entah kenapa, nilai historis disana sama historisnya dengan kenangan-kenangan yang gue alamin selama jadi pengunjung tempat tersebut. Pertama kali, gue inget banget, pas gue kecil, jalan2 sama nyokap bokap gue, filmnya lagi muterin Pretty Woman trus gue yang merengek-rengek minta nonton dilarang ama nyokap gue soale itu film orang gede, katanya. Trus pas kesana lagi, gue agak gedean dikit, gue sekeluarga nonton Independence Day di sana dan masih ada balkon-balkonya gitu (kayak nonton opera di film-film). Dalam ingatan masa kecil gue, bioskop ini sangat megah dan klasik. Tahun berganti dan tumbuhlah gue menjadi salah satu penikmat film. Trus yang gue inget tu bioskop sempet direnovasi beberapa bulan (apa tahun ya?), dan sesudahnya : gue jadi makin cinta karena studio 1 nya kereeen banget (gede banget dan megah banget), kayaknya kapasitasnya bisa 300-400an orang deh.  Beberapa film yang gue inget nonton di sana ada : Pursuit of Happyness, Superman Returns, The Omen, Davinci Code, dll (gak begitu banyak sih). Hingga di penghujung tahun 2006, gue mengenal satu event yang namanya :

JAKARTA INTERNATIONAL FILM FESTIVAL (JIFFEST).

Pada tahun 2006 itu, Djaktet menjadi salah satu venue penyelenggaraan Jiffest. Dalam kurun waktu 2 minggu penyelenggaraaannya, hampir 9 s/d 10 hari gue pasti eksis di sana dan pastinya bolak-balik ke Djaktet. Either gue sendiri, atau sama temen-temen gue. Momen paling berkesan (salah satu yg bikin gue euphoria kalo ke Djaktet)  adalah saat gue lagi nonton satu film Jiffest, berbarengan dengan gala premiere film Jakarta Undercover, which isss banyak bintang bertaburan tiba-tiba di sekitar gue. You named it!. Mungkin tulisan temen gue sesama saksi mata ini bisa disimak.  Dengan penampilan apa adanya, gue udah kayak Alice in Wonderland, kamera TV dimana-mana, red carpet, blitz kamera.. whoaaaaa….

Cerita lebihnya mungkin di sini aja yah (Timo, gue pinjem tulisan lo).

Makin terikat gue dengan bioskop ini berlanjut sampe setahun kemudian, masih di event Jiffest 2007, dan dalam sekian hari berturut2 gue nonton di sana mulu. (dan ada bbrp kisah gak penting di event tersebut sih).. You know prinsip habituasi, gue tiba-tiba bisa jadi mellow mode on saking harus melepaskan rutinitas itu seiring berakhirnya Jiffest dan nggak pernah diadain di sana lagi. Huhuhuhu 😦

Sekarang, studio 1-nya udah direnovasi dan studio 1 termegah itu sudah Wassalam, makin sedih, tapi gue juga makin kangen. Gak tau kenapa. Like emotionally connected, gak jago ngungkapin dengan kata-kata.  See, lo pernah gak sih ada di suatu tempat yang memorable, karena di sana lo pernah spend bareng orang-orang yang lo anggap istimewa dan mungkin  lo jarang ketemu lagi sama mereka? Trus suasana yang bikin lo berada di tempat yang bisa bikin lo bilang, “ kayaknya kok gue familiar banget yaa ama tempat ini??”.. kira-kira gitu.

Kemarin, setelah keliling kota di hari terakhir cuti bersama Lebaran, bersama Ocha dan Oliph, gue maksa mampir ke Djaktet lagi. Untuk sekedar menjenguk, kayak apa siih sekarang? Dan seketika, memori itu pun bangkit kembali… *hadeehh.. (menghela nafas)

Advertisements

7 thoughts on “Bioskop Kenangan itu….

  1. @ candrakirana : eh iya bo, nicholas saputra di smoking room jaktet damn! Harusnya gw samperin ya liph;(

    @ introverto : haduh, udah deh, bioskop deket rumah dulu dicoba yuk! Sapatau sensasinya sama ky kuburan hehe

    @ war.m : wah ntr cerita2 ya gmn dsana. Skalian gw mau minta komisi ama pihak 21 krn jd ada 1 pengunjung baru yg tertarik mau ntn dsana. Hehe salam kenal and thx ud mampir

    @ Zulhaq : oya? Kok bisa? Seriusan?
    Hahaha *berusaha membayangkan* thx sudah mampir yah. Salam!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s