Setelah Hari Ini, Remmy

Ramiaji Kusumawardhana

Setelah hari ini,

Kuharap tawa itu masih menghias mimpi

Menghapus pagi yang sedih dan detik yang berlari

Genggamku tidak lagi bisa selalu menemani

Sosok penghibur hati, penuh misteri

Remmy, yakinlah jika kau butuh bahu lain di sisi

Tak akan sia-sia kau mencarinya hingga ujung hari

Setelah hari ini,

Hanya doa yang mampu mengganti canda

Mungkin ada sesal, aku mengerti

Tapi yang pergi, tak mungkin terganti

Ia hanya mengejar harapan diri, untuk kelak kembali lagi

Remmy, kita bersua karena rencana-Nya

Pun kau beranjak adalah isyarat-Nya

Aku bisa apa?

Tapi percayalah, semua akan manis dirasa

Mungkin tidak sekarang, tapi nanti pada akhirnya

Setelah hari ini,

Kuharap air mata tidak lagi menemani pedih

Saat ku mengenang lampau yang berhujan kasih

Sahabat yang hadir meski tak abadi

Remmy, sambutlah peluk ini, penawar gulana

Yang ingin mengantarmu mengetuk pintu dunia

Walau mungkin ku tak ada, saat kau bahagia

Pinta ini satu, mungkin lucu, menggelitik kalbu

Kita yang pernah bersilang jalan dan bertemu

Oh, betapa kusyukuri itu

Jakarta, 30 Oktober 2009

* Note :

Well, what can i say about Remmy?

Semua teman-teman gue boleh sirik ama dia, mengingat selama hampir 7 bulan terakhir, dia lah orang terdekat bagi gue di kantor. Seorang teman, sahabat dekat yang 5 hari dalam seminggu, 9 jam kerja/hari selalu berinteraksi, bercanda, bercerita tentang apapun, shalat bareng (i’m gonna miss this one, karena Remmy imam gue yang paling okeh! hehe ;D), makan siang bareng, sampe nyampahin timeline Twitter bareng-bareng..

Semua tempat jajahan tongkrongan after-hours, dari mulai Ambas, Blok M Square hingga Pacific Place, nyobain Atmosfear FX, Sour Sally hingga nyari kado bareng, mungkin akan menjadi bagian dari cerita-cerita seru dan indah (pastinya!) untuk dikenang.

Per 1 November 2009, Remmy udah nggak di kantor gue lagi, dia resign dan akan melanjutkan kariernya sebagai Pegawai Negeri Sipil (ya, PNS) di Departemen Perdagangan.

Oh, I’m gonna miss my Remcew..

Sukses yaaah Remcew, semoga kelak kita bisa bertemu lagi.

Bareng Remcew

I’m not gonna say good-bye, but i prefer : till we meet again. 🙂

Advertisements

Untuk Sahabatku, Mungkin Kamu

Bila tiba saatnya, akan kurelakan senjaku hilang

Karena kuyakin malamku ‘kan datang

Menembus pekatnya langitku dengan binarmu

Sahabatku,

Mungkin cita kita terpisah cakrawala,

Adakalanya hati kita terpasung kata-kata

Tapi kuyakin mimpi itu sama, sahabatku

Ada masa penuh tawa, kadang bersela lara

Namun percayalah aku tetap disini, sahabatku

Menanti kisah indahmu , yang bisiknya menembus kalbu

Lalu dimana indah kita bermuara?

dan cahaya yang Dia janjikan nyata?

Mampukah kita arungi bersama, dipandu bias maya

Saat jejak itu semakin layu, kuyakin aku mampu

karena ada dirimu, Sahabatku

Puisi ini buat sahabat-sahabatku,

Agar kalian tahu, walau jauh

Genggam tangan ini merindu

Maaf ya, postingannya puisi lagi..

Mumpung ada inspirasi dan semoga terhibur.. hehe 🙂

Puisi ini sebenernya terdorong oleh request-nya si Enno, salah satu sahabat gue, nah dia sirik tampaknya gue bisa bikinin puisi buat bos gue, tapi buat dia belum pernah hehe.. Nih ya No, gue bikin buat elo deh, tapi boleh dong di-rapel sama anak-anak yang lain sekalian?? 😀

I miss you all so damn much.

Puisi buat Bu NN

Beberapa hari lagi bos gue ulang tahun yang ke-40. (my big big boss, actually)..

nah, beliau sudah ada plan mau ngadain syukuran dan yaaa.. celebrate kecil-kecilan lah, di salah satu restoran di daerah Menteng, which is akan dihadiri oleh seluruh penghuni kantor gue yang kira-kira berjumlah 40-an orang (sounds so fourty banget yaaa)..

beberapa surprise sudah disiapkan, dengan MC tentunya teman baik gue yang satu ini. List lagu buat nanti dinyanyikan juga udah disiapkan. Iseng punya iseng, pas dulu lagi nyiapin printilan rundown acara, gue iseng aja bilang, hmm.. daripada gue disuruh nyanyi atau main games yang gue ga tau apa, mending gue baca puisi aja deh.. gitu pikir gue.

Padahal pas bilang gt, gue belum nyiapin puisi apa-apa. Boro-boro, yakin beneran kebikin tu puisi aja nggak kebayang… ehhh malam ini, tak disangka, dengan 30 menit mengurung diri di kamar sambil meras otak dikit, duh gimana yaa kata-katanya, dll dsb, akhirnya jadi jugaaa nih puisi. Voila! mungkin belum sebagus si Oliph, tapi monggo kalo mau dilihat dulu. (dan menyumbangkan judul, mungkin… secara belum ada judulnya.. :D)

Dalam titian pelangi ku melihat sosok Srikandi

Lembut dalam senyum, teguh menempa hati

Kuyakin ia merajut hari penuh bakti

Untuk mencapai langkah kini

Bolehkah aku mengenalnya?

Atau bolehkah ku sekedar berharap, ia pernah singgah dalam imaji

Membingkai wujud masa depanku, kelak, nanti

Dalam matanya ada sejuta inspirasi,

Mungkin belum mampu kupahami

Tapi kuyakin ia akan selalu berdiri, menyambut uluran tanganku

dan tangan-tangan muda haus kasih

Empat dasawarsa sudah ia lalui

Namun ia masih menanti, mencari arti

Ah, ceritakanlah senandung hidupmu padaku, Srikandi

Mungkin langkahku berliku, ingin melayang dalam merdunya kisahmu

Tidak, bukan menjadi dirimu

Melainkan menemukan sebongkah semangatmu, dalam hatiku

Saat pelangiku pudar, Ijinkan aku tetap disini, Srikandiku

Menatapmu, dalam satu tekuk lututku

Tidak, bukan untuk memujamu

Hanya menyematkan sebaris lantun doaku

Semoga senyum itu abadi, dalam sisa detik yang masih misteri

Asa yang terpatri di hati, niscaya sanggup merengkuh mimpi

Terimalah bait-bait kata ini, Srikandiku,

Mungkin tak indah, tak sempurna

Hanya membantu cerah, dalam lagumu yang penuh warna

sekarang sisa menyiapkan diri tampil di atas panggung deh. Wish me luck yah!

Hope she’ll like this. 🙂

What Can I Say, Mr. Tarantino?

Tau si Bapak ini dong??

QuentinTarantinoPhoto

Yup. The one and only, Mr. Quentin Tarantino.

Salah satu sutradara terkenal dengan beberapa karyanya yang fenomenal seperti : Pulp Fiction, Reservoir Dogs, Kill Bill Vol 1-2, hingga tentunya yang terakhir, yang kemarin gue tonton : “The Inglorious Basterds”.

Inglorious Basterds

Gue bukan penikmat film-film Tarantino. Gue bahkan lupa kapan terakhir kali gue menikmati Pulp Fiction secara utuh (dan belum pernah mencoba menontonnya kembali), gue entah kenapa belum tertarik menonton Kill Bill, tapi sampe sekarang gue penasaran pengen nonton Reservoir Dogs. Yang gue dengar, gue baca dan gue amati hanyalah sepak terjang dan bagaimana khas-nya sutradara ini meramu film-filmnya menjadi sesuatu yang brilian, dari segi cerita, teknik penyutradaraan yang meliputi bagaimana kamera bergerak, akting pemain dan penokohannya yang unik, berkarakter, score music, serta bumbu-bumbu khas yang hampir selalu muncul dalam film-filmnya, salah satunya udah pasti : dialog yang kuat (provoking!), darah, kekerasan brutal namun (herannya) bisa lucu di saat yang sama. Beberapa contoh ciri khas dia yang lain bisa dibaca di sini 🙂

Dan kemarin, Mr. Tarantino membuat gue terpukau. Mungkin untuk pertama kalinya.

Tidak, gue tidak akan membahas lebih dalam mengenai Inglorious Basterds itu sendiri, gue bukan penulis review film yang baik dan tidak menemukan kalimat-kalimat yang tepat untuk bisa menceritakan “Inglorious Basterds itu tentang apa sih? Kayak apa sih ceritanya, ceritain dong, In!”, Nope. Gue hanya bisa memberikan beberapa informasi (semoga bukan spoiler), beberapa adegan, dialog, dan signature khas Tarantino yang gue suka di film ini.

Mulai dari awal film dimana ia membagi-bagi cerita menjadi beberapa chapter, dan tiap chapter punya esensi yang unik, kejutan-kejutan yang benar-benar di luar prediksi gue (mungkin karena gak terlalu ngikutin film-filmnya sebelumnya). Bahkan sosok Brad Pitt di film itu (Ya! Brad Pitt!! One of my favorite actor) nyaris gue lupakan. Oke, Brad Pitt berakting dengan baik di film itu, tapi apa yang diberikan Tarantino seolah jauh lebih membekas di hati penonton (seperti gue). Surprisingly, semua aktor-aktornya bermain tanpa cela, padahal nama dan wajah mereka mungkin tidak terlalu familiar di mata dan telinga penonton Indonesia.

Gue suka adegan – adegan :

  1. Di awal film saat seorang peternak sapi Perancis diinterogasi oleh Col. Hans Landa. (itu menegangkan bagi gue, karena awalnya gue ter-mind set akan “waduh dibunuh nih, dibunuh nih, darah nih, darah nih..” dan Mr. Tarantino pintar memainkan ketegangan gue!)
  2. Di sebuah restoran saat Shosanna bertemu Col. Hans Landa untuk pertama kalinya sejak pembantaian keluarganya 4 tahun lalu. (Dialog tentang susu itu gokil banget!)
  3. Di bar bawah tanah saat Bridget van Hammersmark mau kasih informasi soal Hitler dll dll, ke dua anggota Basterds yang menyamar.
  4. Di ruang proyektor saat Shosanna lagi muterin filmnya trus ada yang ngetok-ngetok pintunya, dan… voila! (muncul salah satu aksi baku tembak paling cool yang pernah gue tonton)
  5. Pastinya, adegan terakhir saat Lt. Aldo Raine bilang :

You know something, Utvich, I think this might just be my masterpiece.”

Oya, sedikit yang gue coba telusuri mengenai latar belakang Quentin Tarantino itu sendiri ternyata sama uniknya dengan film-film yang ia buat. Gue mencoba mencari tahu sedikit biografi dan perjalanan hidup dia, dan wow, lihat apa yang gue temukan :

  1. bahwa dia DO dari SMA, tapi ber- IQ 160
  2. bahwa ibunya melahirkannya saat usia 16 tahun, lalu bercerai dengan ayahnya, tidak lama kemudian.
  3. bahwa ia terinspirasi oleh Alfred Hitchcock, Martin Scorsese dan Brian de Palma.
  4. bahwa ia ingin sekali jadi novelis, dan pada akhirnya terlihat dari gaya penceritaan film-filmnya yang berbentuk bab per bab.
  5. bahwa dia berdarah Indian dan lahir di Tennessee, persis dengan gambaran latar belakang tokoh Lt. Aldo Raine yang diperankan oleh Brad Pitt.
  6. dan masih banyak lagi yang bisa dilihat di sini 🙂

Hmm.. Interesting!

So, Mr. Tarantino, May I have your number??? 😀 😀

Kebingungan (Standar) tentang Masa Depan

To be honest, sampe sekarang gue nggak tau mau jadi apa.

Semakin umur gue merangkak, gue malah semakin blur tentang masa depan gue. Ya, I made plan, tapi itu duluuu sekali. Pas gue lulus SMA mungkin masa depan cerah masih terbayang jelas di benak gue. Mulai dari ambil kuliah Psikologi, mempelajari Psikologi klinis lebih dalam dan akhirnya lulus. That’s it. Nah, pertanyaan mengenai mau jadi apa setelahnya, gue masih nggak tauuuu (hwaaaaa… bahayaaaa iniiiii..) 😦 😦

Separah-parahnya gue gak tau, gue dulu nyaris apply pekerjaan apapun yang sekiranya sesuai ama kepribadian gue dan kapasitas otak gue. Mulai dari sok-sok-an tes MT program di bank-bank, jadi reporter majalah, selain jadi HR lah yaa tentunyaa, sampe akhirnya bermuara di kantor gue sekarang.

Gue sirik banget sama temen-temen gue yang mungkin punya master plan yang lebih sistematis buat hidup mereka. Suatu hari gue tau, Naomi, temen kuliah gue dulu, sekarang udah praktek-praktek ajaaa gituu dan bentar lagi dia jadi psikolog deh. Baca-baca ceritanya via Twitter-nya dan blog-nya, gue super sirik parah! Sirik abis karena hampir semua plan dia mungkin sama kayak impian gue. Ambil S-2, bidang Klinis dewasa, trus ngerasain praktek di Rumah Sakit Jiwa and in the end, kerja di RS atau buka praktek sendiri. Baca 1 (satu!) tweet dari dia aja gue udah gatel-gatel berasa pengen terbang ke kampus trus minta formulir S-2. huhuhu.. gimana dong..

Oya, kalo ditanya kenapa sampe sekarang gue belum merencanakan dengan pasti untuk melanjutkan kuliah, simply karena : gue masih belum siap masuk lagi ke dunia perkuliahan, khususnya dunia psikologi. Membayangkan gue akan menemui mata kuliah yang sama dan a litte bit traumatic, trus memikirkan ide-ide penelitian A, B, C bla..bla.. How shallow yah? gue butuh reinforcements yang bisa membantu gue mengesampingkan sumber-sumber ketakutan itu.

Oke, lupakan kuliah. Let’s say gue menjalani peran sebagai karyawati sekarang ini, lagi-lagi gue masih bingung sih apakah pekerjaan gue yang sekarang bener-bener yang gue inginkan apa nggak. Kalo sebatas bertemu dan mempelajari karakter orang-orang, gue mendapatkannya disini, walaupun lingkupnya beda (bukan dalam konteks klinis, tapi dunia Industri dan Organisasi banget). Kalo masalah memenuhi kebutuhan gue secara finansial, ya itu dicukup-cukupin lah, artinya gue bahagia kok dengan kondisi gue sekarang. Saking bahagianya sampe belum kepikiran untuk banting setir ke profesi lain, termasuk beralih menekuni pekerjaan impian gue jaman dulu : jad penulis, reporter atau apapun yang penting bisa nulis dan nama gue masuk majalah. Hihihi..(benar-benar bodoh). 😀

Gimana kalo jadi PNS? Temen gue yang satu ini, dengan sok asiknya punya 2 (dua) planning yang agak jomplang buat gue. Satu, nerusin kuliah di luar negeri,  atau dua, jadi PNS (sambil tetep nyari beasiswa, katanya). Dan lebih sialannya lagi, proyek iseng-iseng tapi mau juga-nya dia ini nyaris berhasil mengingat dia udah lolos tahap 2 aja gituuu.. ya ya.. Sebenernya pertimbangan untuk coba-coba ikut ujian PNS atau berkarir jadi PNS sih sempat terbersit di benak gue. Tapi yang selalu menganggu adalah persyaratannya yang menurut gue ribet, ngurus surat ini-itu, trus syarat-syarat prosedural lainnya. Mungkin gue bukan tipe challenger yaah, bagi gue nyiapain semua printilan itu sangat membuang-buang waktu buat sesuatu yang (menurut gue) kemungkinan untuk gak pasti-nya lebih besar. Trus entah kenapa gue selalu beranggapan, dunia PNS itu begitu hambar, kurang warna, meskipun gue salut sih bagi orang-orang yang dengan senang hati mengabdikan dirinya buat jadi PNS padahal mungkin dia punya capability untuk berkarir di multinational company. Hmm.. kalo gitu, jadi PNS mungkin nggak dulu kali yaa…

Atau jadi ibu rumah tangga seperti nyokap gue? Katanya pekerjaan tersulit di dunia itu adalah Ibu Rumah Tangga. O pastinya, gue setuju sekali. Dan gue sebenernya nggak keberatan menjalani peran tersebut suatu hari nanti, tapi gue ingin itu terjadi saat semua rasa penasaran gue akan karier dan mengenyam pendidikan sudah terpuaskan.

Jadi?

Jadi intinya : gue masih bingung. Titik.

😦 😦 😦 😦 😦 😦

NGGAK SUKA, dan JANGAN TANYA KENAPA

Treat people the way you want to be treated

Anonymous

Oke, for your information, I’m an Introvert person.

Nah apa hubungannya sisi introvert gue tersebut dengan kata-kata diatas? Oke, gue ada-adain deh. Jadi gini, ngerti dong, kita memang harus memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan sama mereka (literally, that’s the meaning, right?) jangan mukul kalo gak mau dipukul (kecuali ngajak berantem), jangan MT kalo gak mau di-MT-in balik, ya mungkin itu contohnya.

Nah karena gue introvert, gue nggak koar-koar ke sekeliling gue tentang bagaimana gue minta diperlakukan. Even ke sahabat atau orang-orang terdekat yang gue temui sehari-hari, misalnya rekan-rekan di kantor atau keluarga gue sendiri. Ya orang ekstrovert mungkin ada juga ya yang kayak gitu… hehe 😀  Nah, hal ini sering menimbulkan masalah (Ya! di gue ini jadi MASALAH! *sambil nyolot), di saat gue merasa: ada orang memperlakukan gue dengan tidak semestinya (dalam standard-nya gue ya), padahal gue merasa gak pernah memperlakukan mereka kayak gitu. Get it? Ujung-ujungnya, karena gue introvert, gue tidak akan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan gue tersebut, melainkan memilih mengekspresikannya lewat raut muka atau bahasa tubuh gue saja.

Contohnya pada kondisi yang kayak gimana seperti apa dan bagaimana, salah satunya adalah kalau ada orang yang bilang gini ke gue :

“ Eh, Iin, pake baju baru ya?” (dan baju disini bisa diganti ama sepatu, celana, tas, dsb pokoknya outfit)

“ In, tumben beda nih sekarang, mau pergi kemana?” (either dandanan, penampilan, dsb)

Silent mode on.

Oke, mungkin buat sebagian orang, kalimat tersebut terkesan biasa aja yah. Trus buat sebagian orang, ketidaksukaan gue terhadap kalimat tersebut diatas sangat lebay. Tapiii sorry to say saudara-saudara, gue gak suka kalian bertanya atau berkomentar seperti itu kepada saya. Titik.

(bayangkan gue ngomong sambil tereak di kuping kalian yang merasa pernah ngomong gitu ke gue, wkwkwkwk..)

Pertama, terlepas apakah hari itu gue lagi pake baju baru atau tidak, it’s none of your business. Jadi terima kasih sebelumnya kalau kalian merasa itu hanyalah bentuk ungkapan rasa care kalian terhadap gue, tapi message yang sampai di gue tidaklah demikian.  So, tanpa mengurangi rasa hormat, gue akan sangat berterimakasih apabila ada orang yang paham hal tersebut dan gak nekad bertanya hal tersebut kepada gue. Oke, kalau penasaran atau iseng, mending gosipin gue di belakang gapapa deh ya (setidaknya gue gak tau dan gue gak jadi bete dengernya), pokoknya never frankly asking about that.

Beberapa kali gue menjumpai kondisi ini, penyebabnya sih simpel ya, mungkin karena gue udah kerja, trus kan di kantor itu gue musti dandan yaa, dan outfitnya juga formal kayak orang kantoran gitu, nah gue juga tipe yang pewe-an make baju, jadi kalo ada baju yang udah nyaman gue pake, akan gue pake terus-terusan sampe orang-orang sekitar gue familiar banget. Alhasil, kalo suatu hari gue lagi pake satu baju lama yang ketumpuk di lemari, dituduhnya itu baju baru. Nah kalo beneran gue pake baju baru pun, gue juga gak akan lah ya pamer-pamer “Hey, baju gue baru lho, bagus gak menurut lo?” gt, gak mungkin.

Efeknya adalah : gue langsung drop abis digituin. Hilang mood gue dan rasanya pengen gue tereak di depan mukanya trus bilang,

“Bisa gak, gak usah komentar gitu??” sambil ngajak berantem.

So, despite of something wrong with my brain, please don’t ruin my mood, oke?

Nah, kadang temen-temen gue tuh masih aja ada yang nggak ngeh kalo gue nggak nyaman ditanya-tanya kayak gitu. Masih adaaa aja yang komentar, bahkan lebih parah lagi, Bantu-bantuin publikasi segala,

“Cie, iin sekarang tampil beda loooh, bajunya baru niih..”

With some of them emang sotoy, some of them emang jadi saksi mata (nemenin gue beli baju yang kebetulan emang baru), but still ya, menurut gue mereka nggak ada hak untuk publish itu ke seluruh jagat raya.

Kenapa demikian,

Balik lagi ke ungkapan di awal postingan ini,  gue adalah orang yang paling males ambil pusing sama outfit dan package seseorang (secara penampilan luar ya). selama orang itu baik, trus gak rese’ ya udah, beres lah. Cuman gue gak akan tuh, sok-sok komentar, “Eh baju lo baru ya?” ciee baru nih.. beli dimana, berapa, bla bla..”  Kenapa, karena gue udah cukup banyak urusan so gue nggak mau nambah-nambahin sesuatu yang sebenernya bukan urusan gue. Ditambah lagi, apa coba urgensinya gue bertanya seperti itu? Buat gue sih gak ada ya, kecuali basa-basi doang. Dan kayaknya gue bisa memikirkan kalimat lain yang lebih berkelas deh dibanding memberikan uneg2 tentang penampilan seseorang, even itu sahabat gue sendiri.

Jadi, karena gue males dan ogah ngomongin hal-hal kayak gitu, please treat me like I treat you.

Jadi, karena gue introvert, daripada gue ngomong sok-sok asik “ah, bisa aja sih lo, gak kok ini baju lama..” atau “eh, thank you banget ya” (yang mana gue tidak ahli dalam hal itu), dengan muka pura-pura padahal sebenernya gue gak suka, mendingan gue kasih tau aja ya, lewat blog ini.

Semoga message-nya nyampe.

Tiba-tiba gue pengen blog gue yang ini dibaca semua orang. Khususnya yang mau berinteraksi sama gue. Ya ya, udah tau kan gue kayak gimana??

(karena ditulis dengan rasa gondok, akhir kata, gue ucapkan alhamdulillah, sedikit beban kegondokan gue berkurang).

Thank you for reading and for your understanding. 🙂

Benci dan Rindu pada Hujan

Sometimes,

Gue suka hujan. Gue suka hujan apabila saat itu gue sedang di rumah, setengah lapar, setengah ngantuk, trus bikin mie rebus sambil nonton TV, lebih bagus lagi kalo pas kebeneran ada acara bagus atau ada film drama komedi romantis sedikit mellow sedang ditayangkan. Kalo nggak ada, hmm.. maunya sih nonton DVD, tapi gue trauma soalnya speaker TV pernah bunyi boom! gitu pas gue nekat nonton DVD lagi hujan petir. Jadi, mungkin nyetel TV biasa ajah.

Gue suka hujan kalau pas hujan itu gue lagi di kamar, setengah ngantuk, terus lanjut tidur (sangat enak!). Oke, kalau blum ngantuk, gue akan menatap keluar jendela kamar, terus melihat jalan depan rumah gue, menghitung rintik hujan yang turun membasahi kanopi halaman, trus bengong-bengong bentar. Buka-buka album foto lama, buka lemari buku, kalo pas lagi ada bacaan, gue baca sambil tertidur. (jadi intinya : tidur).

Gue suka hujan kalau pas hujan itu gue lagi di mobil, (tentunya bukan gue dong yang nyetir), hehe, atau di Patas AC yang dingin, gue duduk dekat jendela, terus memandang suasana di jalan. Meraba-raba derasnya hujan lewat kaca mobil depan, sambil dengerin musik pop setengah mellow yang isinya tentang kerinduan dan patah hati (selalu).

Gue suka hujan kalau disaat hujan itu gue lagi di mall, menghabiskan waktu dengan nonton dan ke toko buku (tiba-tiba pingin ke PS dan Kinokuniya-nya).

Sometimes,

Gue benci hujan. Gue benci hujan kalo pas hujan itu gue lagi di bis, udah deket tujuan, mau turun tapi gue nggak bawa payung, trus dituruninnya bukan di halte. Intinya gue keujanan, basah kuyup dan hancur semua rencana gue saat itu.

Gue benci hujan kalau rumah gue ada genteng bocor atau tampias berlebihan.

Gue benci hujan kalau udah ada rencana pergi kemana, trus hujan dan gue batal pergi.

Gue benci hujan kalau pas hujan itu tiba-tiba gue teringat peristiwa yang indah yang gue alamin sama seseorang (di kala hujan), trus sekarang orang tersebut udah nggak ada di samping gue.

Gue benci hujan karena sejujurnya, gue takut sendirian (di saat hujan).

*gambar diambil dari sini