What Can I Say, Mr. Tarantino?

Tau si Bapak ini dong??

QuentinTarantinoPhoto

Yup. The one and only, Mr. Quentin Tarantino.

Salah satu sutradara terkenal dengan beberapa karyanya yang fenomenal seperti : Pulp Fiction, Reservoir Dogs, Kill Bill Vol 1-2, hingga tentunya yang terakhir, yang kemarin gue tonton : “The Inglorious Basterds”.

Inglorious Basterds

Gue bukan penikmat film-film Tarantino. Gue bahkan lupa kapan terakhir kali gue menikmati Pulp Fiction secara utuh (dan belum pernah mencoba menontonnya kembali), gue entah kenapa belum tertarik menonton Kill Bill, tapi sampe sekarang gue penasaran pengen nonton Reservoir Dogs. Yang gue dengar, gue baca dan gue amati hanyalah sepak terjang dan bagaimana khas-nya sutradara ini meramu film-filmnya menjadi sesuatu yang brilian, dari segi cerita, teknik penyutradaraan yang meliputi bagaimana kamera bergerak, akting pemain dan penokohannya yang unik, berkarakter, score music, serta bumbu-bumbu khas yang hampir selalu muncul dalam film-filmnya, salah satunya udah pasti : dialog yang kuat (provoking!), darah, kekerasan brutal namun (herannya) bisa lucu di saat yang sama. Beberapa contoh ciri khas dia yang lain bisa dibaca di sini 🙂

Dan kemarin, Mr. Tarantino membuat gue terpukau. Mungkin untuk pertama kalinya.

Tidak, gue tidak akan membahas lebih dalam mengenai Inglorious Basterds itu sendiri, gue bukan penulis review film yang baik dan tidak menemukan kalimat-kalimat yang tepat untuk bisa menceritakan “Inglorious Basterds itu tentang apa sih? Kayak apa sih ceritanya, ceritain dong, In!”, Nope. Gue hanya bisa memberikan beberapa informasi (semoga bukan spoiler), beberapa adegan, dialog, dan signature khas Tarantino yang gue suka di film ini.

Mulai dari awal film dimana ia membagi-bagi cerita menjadi beberapa chapter, dan tiap chapter punya esensi yang unik, kejutan-kejutan yang benar-benar di luar prediksi gue (mungkin karena gak terlalu ngikutin film-filmnya sebelumnya). Bahkan sosok Brad Pitt di film itu (Ya! Brad Pitt!! One of my favorite actor) nyaris gue lupakan. Oke, Brad Pitt berakting dengan baik di film itu, tapi apa yang diberikan Tarantino seolah jauh lebih membekas di hati penonton (seperti gue). Surprisingly, semua aktor-aktornya bermain tanpa cela, padahal nama dan wajah mereka mungkin tidak terlalu familiar di mata dan telinga penonton Indonesia.

Gue suka adegan – adegan :

  1. Di awal film saat seorang peternak sapi Perancis diinterogasi oleh Col. Hans Landa. (itu menegangkan bagi gue, karena awalnya gue ter-mind set akan “waduh dibunuh nih, dibunuh nih, darah nih, darah nih..” dan Mr. Tarantino pintar memainkan ketegangan gue!)
  2. Di sebuah restoran saat Shosanna bertemu Col. Hans Landa untuk pertama kalinya sejak pembantaian keluarganya 4 tahun lalu. (Dialog tentang susu itu gokil banget!)
  3. Di bar bawah tanah saat Bridget van Hammersmark mau kasih informasi soal Hitler dll dll, ke dua anggota Basterds yang menyamar.
  4. Di ruang proyektor saat Shosanna lagi muterin filmnya trus ada yang ngetok-ngetok pintunya, dan… voila! (muncul salah satu aksi baku tembak paling cool yang pernah gue tonton)
  5. Pastinya, adegan terakhir saat Lt. Aldo Raine bilang :

You know something, Utvich, I think this might just be my masterpiece.”

Oya, sedikit yang gue coba telusuri mengenai latar belakang Quentin Tarantino itu sendiri ternyata sama uniknya dengan film-film yang ia buat. Gue mencoba mencari tahu sedikit biografi dan perjalanan hidup dia, dan wow, lihat apa yang gue temukan :

  1. bahwa dia DO dari SMA, tapi ber- IQ 160
  2. bahwa ibunya melahirkannya saat usia 16 tahun, lalu bercerai dengan ayahnya, tidak lama kemudian.
  3. bahwa ia terinspirasi oleh Alfred Hitchcock, Martin Scorsese dan Brian de Palma.
  4. bahwa ia ingin sekali jadi novelis, dan pada akhirnya terlihat dari gaya penceritaan film-filmnya yang berbentuk bab per bab.
  5. bahwa dia berdarah Indian dan lahir di Tennessee, persis dengan gambaran latar belakang tokoh Lt. Aldo Raine yang diperankan oleh Brad Pitt.
  6. dan masih banyak lagi yang bisa dilihat di sini 🙂

Hmm.. Interesting!

So, Mr. Tarantino, May I have your number??? 😀 😀

Advertisements

5 thoughts on “What Can I Say, Mr. Tarantino?

  1. eliabintang says:

    tapi ada beberapa saat di film ini yang ngebosenin yah.. misalnya dialog2 yg kepanjangan.. tapi overall bagus sih. endingnya klimaks apalagi yg orang2 jerman itu kebakar di dlm bioskop diiringin suara ketawanya si cewe yg punya bioskop.. 😀

    • @ eliabintang iyaa dialognya panjang2. but somehow isinya padat banget. terutama dialog chapter 1 antara si Landa dengan peternak Perancis itu yang ttg tikus-tikus.. itu keren banget maknanya.. hehe gue sampe ntn 2x :))

      • setuju, dalam dialog yang panjang2 itu, kata2nya gak wasted sama sekali, malahan menggambarkan psychological war dengan simbol2 yang pas, profound (gue gak nemu padanan bahasa Indonesianya), kick ass banget!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s