Mengenangmu, 2009

Setiap malam pergantian tahun, gue selalu jadikan momen itu sebagai momen mengenang ketimbang menggagas harapan dan resolusi-resolusi buat tahun berikutnya.

Ya, resolusi mungkin ada ( tapi pasti biasanya lupa di tengah perjalanan karena ter-distract dengan accidental things and wishes that might come into my life) hahaha 😀

Gue akan baru menyusun resolusi kalo gue udah puas mengenang2, ber-mellow2, dan sok-reflektif dan akhirnya berujar alhamdulillah bersyukur atas apa yang udah gue peroleh dan gue alamin selama 1 tahun kebelakang.

Tahun 2009 bagi gue secara garis besar sih standar aja. Karena lingkungan gue mostly hanya sebatas gue, teman-teman gue dan pekerjaan gue. Cuma, kalau boleh napak tilas, tahun 2009 inilah ada beberapa peristiwa dan orang-orang baru yang sedikit banyak mengubah hidup gue.

Point pertama pastinya my job. Gue baru bekerja di tempat kerja gue sekarang itu kan dari bulan Februari, dan selama itu pulalah, bisa dibilang bertubi-tubi hal-hal baru gue alamin. Alhamdulillah, raga dan jiwa ini ada persinggahannya sejenak untuk bisa diberdayakan. Dan buat gue, bertahan sampe hari ini suatu hal yang amazing. Diantara  naik turunnya kerjaan, trus naik-turunnya motivasi dan emosi, gue beruntung bisa belajar banyak ilmu baru, ketemu orang-orang baru yang “ajaib-ajaib”, seru-seru, hingga masalah-masalah baru yang mungkin gak kebayang sebelumnya. I‘m so New Kids on The Block tiba-tiba, but I enjoy it.

Trus kalo berkaitan lagi dengan orang-orang baru yang gue temuin, mostly gue dapet ya dari lingkungan kantor gue juga. Let say, my boss : Mbak Yani,  trus rekan-rekan yang lain gue list deh : Mbak Meily, Stephanie, Angela, Wete, Irin, Mas Indra, mas Bobby, dll.. banyaaak.. hehe.. trus Remmy, temen kantor yang berlanjut jadi temen jalan after-hours bahkan hingga setelah dia udah resign, wah glad to know them banget banget.

Ingatan gue mulai merinci masa-masa gue kenal yg namanya weekly meeting, trus latihan meeting di tempat klien, wawancara dengan kandidat2  gue, bikin daily reports, some difficult problems yang muncul (love, life, and work stuffs), temen-temen yang resign dan cuma bisa gue kenal dalam tempo yang singkat. Trus momen-momen after-hours ke beberapa tempat baru, itulah salah satu yang berkesan. Gara-gara influence temen gue yang baik hati inilah, gue bisa  sedikit eksis dan melanglang buana ke beberapa tempat baru. Well, Cuma mall to mall sih, tapi restoran-restoran baru, lumayan nambah lah wawasan gue hehe.

Tahun ini gue juga nyobain pengalaman pertama belanja online, untuk barang2 yang gue sukain (lebih tepatnya : gue banget). Dan gue nganggepnya, itu adalah pengalaman yg seru, nagih dan mampu sedikit mereduksi rasa parno dan mempertebal rasa percaya gue sama orang *biasanya gak percayaan*

Trus, kalo dari segi pertemanan, tahun ini, gue ama temen-temen gue ber 8, kita bikin terobosan baru, yakni bikin ARISAN. Hwahaha. Setelah sejak kuliah bareng-bareng, baru deh terdorong untuk bikin acara kumpul2 rutin dan dilengkapi dengan arisan. I’m so glad i have them, till now. Gue yang biasanya “biasa aja dan cenderung males” kalo urusan jalan2, jadi lebih antusias, karena gue tau gue akan habiskan itu dengan mereka semua. Dari Kemang, Ancol, hingga Bandung. yaaakkk!! Gue ke Bandung juga deh tahun ini. Another short holiday experience yang terkabul. *lebay yah*. Maklum deh gue kan ke Bandung berasa ke Bali bok, rempongnya.

Selain itu,  gue juga masih bisa menghadiri kegiatan akhir tahun favorit gue, yakni Jiffest. Tahun 2009 ini adalah tahun ke-4 juga nonton Jiffest. Selalu dalam hati kecil gue bertanya2, “Ya ampun, mungkin nggak ya, gue bisa nonton lagi tahun depan?” *lebay lagi* Intinya, Jiffest ini udah gue anggap bulan Ramadhan kedua deh, doanya aja sama : semoga bertemu lagi dengan Ramadhan dan Jiffest tahun depan. 😀

Last but not least, kegiatan gue di dunia maya juga mulai berkembang. Yakni dengan mulainya gue ber-Twitter dan ber-blog ria. Dan dari sinilah gue mulai kenal banyak temen-temen baru dari dunia maya, yang mengisi waktu boring gue dengan blog-blog mereka yang sarat makna, ada yg lucu, sedih, dalem dan informatif. Trus di Twitter, juga ketemu orang-orang baru, yang punya minat sama ama gue, dan ajaibnya masih bisa nyambung ngobrolnya meskipun kita baru ketemu 1x atau malah belum pernah ketemu sama sekali.

Wow, saya nulis udah panjang juga yah, (telepas dari kelebay-an gue dalam menulis). Which means, momen-momen yang seems just pass me by, ternyata ada bekasnya di hati gue.

Sebelum gue bikin resolusi (yang gue belum kepikiran banget apaan), biarkan gue ingat2 dulu peristiwa kemarin. Yang besar, yang kecil, yang penting, yang nggak penting, yang stay lama, yang cuma sebentar, semua itu..

Terima kasih Tuhaaaan, Kau membuatnya ada untuk hidupku.

Buat semua orang yang mengisi hidupku di tahun 2009 ini,

Selamat Tahun Baru 2010.

Semoga kalian akan terus menemani hingga tahun depan, tahun depannya lagi, tahun berikutnya, dan selanjutnya, dan seterusnya…

Advertisements

Jadi, Sudah Siapkah Gue Berubah?

Gue adalah orang yang entah kenapa selalu percaya, kalo yang namanya karakter itu, nggak bisa diubah. Ya, tell me I’m shallow, tapi ya begitulah. Ini sih opini pribadi aja. Dulu jaman kuliah gue merasa sangat beruntung bisa belajar mengenal karakter-karakter orang lain, lewat buku, film, share dari dosen-dosen, interaksi dengan teman-teman, hingga mereka yang pernah jadi subjek-subjek buat tugas  dan skripsi gue.  Well, itu hal yang menyenangkan, somehow makes me feel grateful dan terkagum-kagum (“Oh, ada yaa ternyata orang yang kayak gini, kayak gitu, sikapnya gini saat begitu, begitu saat begini.. dll dsb”), lebih ke memperkaya wawasan pribadi gue aja, hwahahaha (sambil mempertanyakan kembali, apa cocok gue jadi psikolog kalo kayak gini?)

Nah, dengan kepercayaan yang gue anut itulah, yang bikin pagi hari gue saat ini, jadi agak-agak terganggu. Terganggunya lebih ke kepikiran sih, sama pembicaraan pagi hari dengan salah satu rekan kantor yang jauh lebih senior dari gue.

Beberapa hari sebelumnya, dia sempet tanya, resolusi gue di tahun 2010 apaan, nah gue yang nggak siap ama pertanyaannya jadi gagu mau jawab apa ya, secara gue bukan tipikal yang punya resolusi2 gitu, hwaa.. trus gue balik tanya aja, “ Kalo lo apa, Mas?”

Trus dia jawab beberapa target-target hidup dia yang.. hmm sifatnya masih becandaan kali ya (gak serius2 amet).

Sampe pagi tadi,

Karena abis libur Natal, dan gue pikir dia masih cuti, gue terus terang agak kaget dikit sih, pas dia nyamperin gue duluan ke ruangan, trus tau-tau kita udah ngobrol aja. Mulanya masih ngebahas tentang kegiatan Natal dia kemarin ngapain aja, hal-hal ringan seputar kota Bandung (karena dia tinggal disana), trus baru deh dia bercerita sedikit   tentang kondisi dirinya, kesehariannya, statement2 seperti : “gue tuh orangnya gini lho .., kalo sama orang sukanya yang gini.. kalo ada masalah biasanya gini..” dll dsb.

Gue kenal sama dia ini ya kurang lebih setahunan (selama gue kerja di kantor gue skarang ini lah ya), nah sepenilaian gue pribadi sih, emang ni orang sangat tertutup. Introvert se pol-polnya, tapi di sisi lain, yang gue kagumin adalah, dia punya wawasan luas, tau banyak hal, pokoknya kalo semua orang yang lo tanya gak tau, lo tanya ke dia, dia pasti tahu. Kombinasi yang sempurna karena dia banyak menghabiskan waktunya dengan membaca, instead of membina relasi dengan orang lain.

Apa yang gue temukan pagi ini dari dia ternyata lebih parah dari dugaan gue (yang gue kira udah parah itu). Tiba-tiba dia bilang gini, : “ Gue pengen berubah In, gue pengen membenahi karakter gue. Dan itu jadi resolusi gue tahun depan.”

Gue tanya dong, “ Berubah jadi yang kayak gimana? Apa yang mau diubah?”

Dia bilang : “ Gue mau jadi orang yang lebih sabar, trus lebih terbuka sama orang lain, karena gue merasa gue selama ini sangat egois. Dan itu udah sering lho diprotes oleh temen-temen gue, bahkan mantan-mantan gue. Mereka satu persatu menjauhi gue, dan ya gue bener-bener kehilangan kontak dengan teman-teman baik gue.”

Gue pun bertanya lebih jauh, “Ha? How come? Menjauhi lo yang kayak gimana nih? Trus usaha-usaha lo apa? contoh-contoh keegoisan lo yang kayak gimana?” dengan penuh tanda tanya besar, plus wondering “ni orang lebay apa beneran ye, kok tampaknya ekstrim banget ya kondisinya..”

Dan ternyata beneran seekstrim itu bo.  Beberapa kondisi yang dia jelaskan misalnya :

  • Bahwa dia merasa dia nggak cocok kerja dalam tim, dia lebih suka kerja sendiri, nggak ada yang ganggu, dan bercerita ttg kondisi kerjanya dulu yang banyak cewek dan mereka sering ngobrol saat dia kerja, dan itu a little bit annoying (mungkin) buat dia.
  • Bahwa dia hanya akan bertanya ke orang, menghampiri orang lain, kalau dia butuh saja. Intinya, dia gak bisa tuh basa-basi atau membangun chit-chat ringan dengan orang lain.
  • Dia tidak membina banyak pertemanan dengan teman kuliahnya. Tiga teman dekatnya kondisinya udah lose contact semua sama dia, yang 2 tinggal di luar negeri, yang 1, sengaja menjauh dari dia, entah karena apa (mungkin karena dia egois itu tadi, ya..)
  • Dia merasa ke tidak acuh-nya dia dengan sekeliling itu juga lah yang membuat dia gagal dengan mantan-mantannya.

Intinya, ketidakpedulian dia, keegoisan dia itu yang dia rasa memberi kontribusi terhadap perilaku orang-orang saat ini terhadap dia. Hmm..

Lebih mengerikannya, adalah dia bahkan menghindari tuh yg namanya acara kondangan, reuni, atau sekedar jalan ke mall, karena ramai dan dia males harus berhaha-hihi dengan orang lain, kira-kira gitu. Area pertemanannya saat ini ya hanya sebatas di kantor saja, bahkan di tempat kost pun dia sendirian.

So, atas dasar tingkat ke-introvert-an dia yang dinilai sudah cukup parah itu lah, makanya dia kepengen berubah. Wokee, gue pas denger ceritanya tuh, berkali-kali nanggepin dengan kata : “Oya?!” .. “Ow, Oke..” “ Masa?” yang kayak gitu-gitu deh, saking gue amaze-nya, karena sebagian besar gue banget, dan sisanya justru lebih parah dari gue.

Thought-provoking-nya percakapan ini buat gue adalah beberapa quotes dari dia yang bilang gini :

“ apapun perilaku orang lain kepada kita, pasti disebabkan lebih dulu oleh perilaku kita ke orang lain. Karena apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai.”

“ gue rasa kalo gak sekarang gue coba berubah, kapan lagi?”

“ Gue masih mencari-cari hal-hal apa saja yang sebaiknya harus gue lakukan, btw, gue udah beli bahan batik looohh, biar nanti kalo gue dateng kondangan, gue udah siap ama baju batiknya. Hehe..”

“ Jadi gue paham in sekarang artinya loneliness, sama emptiness..”

Ya Ampun. Gue inget siapa coba? Gue inget diri gue sendiri seketika. Bahkan dia udah beraksi sedemikian rupa untuk mewujudkan niat dia berubah itu. Nah gue??
Beberapa hari ini gue sedang di puncak ke-egoisan gue, sebenernya, ada beberapa hal deh, nanti saja gue ceritakan. Dan ada ketakutan di gue bahwa mungkin itulah karakter sejati gue, dan itu nggak akan bisa berubah. Gue selalu berharap ada orang yang dapat memahami karakter gue itu, ya sahabat-sahabat gue, tapi sahabat gue berapa banyak sih? What if mereka fed-up dan males dan akhirnya bersikap seperti temennya temen kantor gue tadi, sudah siapkah gue?

Jadi masihkah gue percaya bahwa karakter itu sesuatu yang statis? Yang nature, bawaan lahir dan udah gak mungkin diapa-apain lagi?

What if kalo ternyata bisa berubah, dan gue terlambat untuk (let say) jadi manusia yang lebih baik?

Langsung deh banyak pertanyaan berkeliaran di pikiran gue pagi tadi. Pertanyaan2 kayak gitu tuh. Damn. Dan gue bahkan belum bikin resolusi apa-apa, selain keinginan ngelanjutin kuliah, (yang katanya rekan sekantor gue ini : bukan resolusi In, itu mah pasti bisa deh, yang paling sulit dan paling menantang, itulah resolusi.) Hwaaaw.. mampus lah gue.

Mampus lah gue kalau tahun depan.. setahun dari sekarang, ternyata resolusi dia tercapai, hidup dia jadi lebih baik (sesuai dengan harapan dia ya), dan gue.. gue masih disini. Orang yang sama, seperti saat ini.

Thank you yah, mas, sudah mau berbagi. It means a lot.

(Maap, dipinjem ceritanya.) 😀

Bertemu Rangga dalam Nyata

Ada satu kisah istimewa yang gue alamin kemarin, persis pas closing acara Jiffest (again!, Jiffest lagi topiknya). Tadinya sih cerita ini pengen gue masukkin di postingan tentang Jiffest aja sekalian, tapi gue pikir, eummmmm.. nggak deh. Cerita ini terlalu istimewa buat gue personally,karena melibatkan keberanian, ke-tahanan dalam menahan malu, dan pada akhirnya berujung pada kebahagiaan tak terkira. (Awas gue lebay, tapi semoga kalian yang membaca mengerti yah.. hehehe 😀 😀 )

Kemarin malam, 12 Desember 2009, akhirnya gue berhasil foto bareng Nicholas Saputra.

WOOOO-HOOOOO!!!

Haduh, nih ya, meskipun cuman total-total 10-15 menit dari keseluruhan proses perburuan, serta proses 1 x take kamera doang yang nggak nyampe 3 menit, tapi puasnya ampun-ampunan.. Gue nggak ngerti musti bilang makasih segimana banyaknya buat temen gue Nining. Pertama, karena gue pas dateng Jiffest ama dia, so udah pasti ada temennya buat motoin, temen buat nahan malu dan temen buat minta support, about what should i do, and how.. hwahahhahaa *peluk-peluk*

Kronologisnya begini,

Sekitar jam 6 sore, gue and Nining udah nongkrong di sofa2 merah di Blitz GI, kita abis nonton film terakhir kita di Jiffest. Gue udah bilang sih ke Nining, kalo better kita duduk2 disini dulu sampe jam 7-an, karena jam 7 ada closing serta pemutaran film New York I Love You yang dihadiri undangan(which is pasti ada artisnya, tapi nggak tau siapa.. wahaha) Duduk, duduk, ngobrol, sampe akhirnya si Nicholas itu melintas di depan idung gue. Nah yang ngeh duluan itu si Nining, karena posisi gue agak serong membelakangi arah datangnya Nico. Si Nico dateng sama 2-3 orang gitu, mungkin manajernya atau rekan kerjanya, nggak ngerti deh (yang pasti bukan ceweknya, eh emang dia masih ama Mariana Renata ya? Wahaha) Cuma pake jeans dan t-shirt putih polos, trus topi yang dipake kebalik. GANTENG!!! Haduh starstruck sesaat gitu gue. Bener-bener aura-nya dia tuh dapet banget. Cool yet mysterious.

Oke, reaksi awal gue udah pasti bengong dulu dong, trus nge-tweet di Twitter dulu (bahaha penting abis!), trus yang gue liat, si Nico dkk udah pada masuk ke dalam area Blitz deket tempat beli popcorn gitu, sambil ngobrol-ngobrol.

Nah trus gue bilang ke Nining, enaknya gue foto bareng apa jadi stalker yah? trus bingung musti gimana tapi nggak mau ngelewatin kesempatan berharga ini.. O My God, what should i do?? Akhirnya diputuskan, ya udah kita ikutin aja dia dulu ke dalem, dan karena kamera HP gue 3,2 MP tapi suka bego, gue prefer pake kamera BB Nining, tapi batere dia low-batt. OMG. Tutorial singkat penggunaan kamera gue pada Nining yang akan jadi eksekutor pengambilan foto, kami pun ngikutin Nico ke dalem. Karena rame, kita sempet kehilangan jejak, tapi temen-temen Nico itu masuk ke smoking room semua, kecuali Nico. Waduh, bingung dong kita.

Cuman alhamdulillah gue dianugerahi insting yang mayan tajam (taaae), gue menduga Nico lagi ke toilet, so kita nunggu di depan Audi 11, yang posisinya sebelahan ama toilet cowok. Untungnya di koridor itu gak begitu rame orang lalu-lalang, so gue bisa liat jelas las lassss… Nico keluar dari toilet ALAAAAMAAAAKKKKKK… ganteng ganteng ganteng ganteng. Toooo handsome to resist deh. Parah!!!! Uda gitu emang auranya cool dari sononya kali yeeee.. ga ngerti dari mana mulanya, tiba-tiba gue udah nyamperin dia dan bilang :

“ Nico, boleh poto bareng nggak?”

Dan gue masih inget jelassss jawaban dia :

“ Boleh, tapi agak cepat ya.” Dengan nada masih cool gitu. (bukan sok cool ya, tapi beneran cool!)

BAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHHAHHAA

Asli pas dia jawab gitu gue langsung “waduh, musti cepetan nih, aduh kamera musti bener nih, aduh gimana kalo gak fokus, gimana kalo gambarnya jelek, dll dsb..” panik abis!!!

Trus Nico langsung merapat ke sebelah gue (sangat rapat sampe gue berhasil merasakan lengan gue bersentuhan dengan lengannya yang halusssss lussss lusss mampussss), dan gue ambil aba-aba ke Nining. Voilaa!!!! Inilah hasilnya….

Haduh gue aneh banget yaaa bo, di foto itu, muka berminyak dimana-mana, tapi nggak apa-apa de, yang penting : SEBELAH GUE GANTEEEEEENGGG.. Yihiiiii dan Nico-nya juga lagi ganteng banget yaaahh.. ya kan? Ya kan?

Pas udah 1 x ambil foto itu, begonya gue lupa salaman ama Nico, pokonya tiba-tiba dia ilang aja gitu, bilang makasih ke dia juga nggak. Hahhahaha Maaf ya Nico.. 😀 😀

Trus setelah kejadian itu, gue langsung tweet dong ah ke Twitter sambil tangan gemeteran.. dan gak henti2nya bilang : Oh my God, Oh my God.. Gue yakin ada setidaknya 2 temen gue nun jauh disana yang sirik abis, yakni Enno dan Oliph.. Haiii gals!! Maap nih kita nyolong start.. bahahahaa..

Padahal kalo diulik ke belakang, sebenernya dibilang ngefans2 amet gue ama Nicholas Saputra sih nggak segitunya juga yah. Yaaa biasa aja lah, cuman memang udah lama gue akuin dia cakep, aktingnya bagus dan yang pasti dia pinter. Sejak jaman AADC, hingga terakhir di 3 Hari untuk Selamanya dan 3 Doa 3 Cinta, Nico tidak pernah mengecewakan gue. Udah gitu, menurut gue sih, dia pinter banget yaa menempatkan diri dia sebagai artis (maksudnya nggak ngartis, gitu), bagaimana dia selama ini membentuk imej dia di publik (dengan konsekuensi, kita jadi nggak tau banyak soal kehidupan pribadi dia), hal-hal itulah yang bikin gue respek. Dan kemarin pas ketemu, gue menangkap kesan demikian (yang begitu kuat) pada dirinya. Bukan tipikal artis yang banci foto, mungkin not comfortable being on the spotlight yaaa (tapi on my Nokia 5630’s blitz semoga dia nyaman2 aja… amin… hwahahahah).. 🙂 🙂

Dengan beberapa alasan tersebut diatas, gue pernah berharap, kalau suatu saat gue bisa minta foto bareng sama 1 orang artis, minta 1 hariiiii aja gue habiskan sama dia, mungkin Nico salah satunya.

Oya dan si Oliph yang sirik abis itu (piss, Liph 😀 ), tiba-tiba tanya gini di Twitter :

“ How’s his voice? Does his voice has a bewitched power that can melt your heart away? I’m so having him in my dream tonight..”

Jawaban gue :

“ Suara dia biasa aja sih, nggak yang berat2 gimana gitu..*karena gue biasanya suka melting ama cowok2 bersuara berat*, tapi kamu tau yang bikin gue meleleh leh leh… pandangan matanya. Oh Tuhan. Pandangan matanya bener-bener the sweetest curse. Kutukan termanis. Membuat gue rela menyerahkan apapun. Apapun. Segalanya. Buat dia. Hanya di satu tatapan pertama.”

BWAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHHA MATEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEKKK

Dan si Rangga, yang gue saksikan di layar beskop hampir 9 tahun yang lalu, ternyata benar-benar ada dalam realita. Rangga itu Nico, Nico itu Rangga. Entah itu hanya perasaan gue saja, tapi dalam pandangan kekaguman malam itu, yang pasti : gue bahagia. Bahagia karena : satu idola dalam khayal gue, berhasil gue temui dalam nyata yang sempurna.

Kamu nggak pernah mengecewakanku, Nico.

It’s Jiffest Invasion (Part 2)

Sambungan dari postingan sebelumnya, perjalanan gue di Jiffest 2009 masih berlanjut. Pas weekdays, gue cuman ambil 1 sesi pemutaran, yakni Selasa 8 Desember jam 18.30. Pengen sih tiap abis jam kerja kesana, cuman gue udah bayangin bakal capek banget karena gue akan pulang malem terus sementara besok masih harus kerja, serta lebih bokek lagi karena udah pasti pulang naek taksi GI – Ciledug. Bwahahaha.. Baru pas hari terakhir, Sabtu 12 Desember gue borong 2 film, plus jadi stalker kecil-kecilan karena malemnya ada Closing Pemutaran film New York I Love You (invitation only) berharap-harap ada arteiisss yang dateng hihihi..

Berikut ini beberapa review singkat 3 film terakhir yang gue tonton di Jiffest, dimana 2 film teratas diantaranya menurut gue masuk kategori WAJIB TONTON meskipun lo nggak ikut Jiffest.

1. Mammoth

Mammoth ini salah satu film yang udah gue incer sejak jadwal Jiffest disebar di web-nya 2 minggu sebelum hari H. Unsur utamanya adalah : karena yang maen GAEL GARCIA BERNAL. Kalo ada yang belum tau, Gael ini yang dulu pernah maen di Babel, Y Tu Mama Tambien ama Motorcycle Diaries. Alhamdulillah jadwalnya pas ama gue. Nah inti kisahnya sih, tentang sebuah keluarga di New York, Leo dan Ellen (diperankan Gael dan Michelle Williams), suami istri dengan 1 anak perempuan bernama Jackie. Mereka juga punya pengasuh asal Filipina yang dekeet banget sama Jackie (dan sepertinya kedekatan Jackie dengan Nanny-nya ini melebihi kedekatan dia sama Ellen, ibunya sendiri, which is menjadi salah satu permasalahan utama yang diangkat di film ini). Suatu hari si Leo ada tugas kerja ke Thailand, so musti ninggalin keluarganya selama berbulan-bulan. Nah mulai deh, satu demi satu masalah muncul, yang pada intinya membawa ke satu kesimpulan : “Mana sih yang akan lo pertahankan? Keluarga, cinta? Atau harta dan kenikmatan sesaat?” kira-kira gitu. Si Leo dapet masalah di Thailand, si Ellen punya masalah dengan pekerjaannya plus hubungannya dengan Jackie, serta si Nanny-nya mendapat berita bahwa keluarganya di Filipina tertimpa musibah. Gue terus terang meneteskan air mata di film ini. Terutama pas saat si Jackie bilang : “ I Miss Gloria..” (Gloria itu si Nanny-nya), saat nonton bareng sama Ibunya. Kayaknya gue bisa ngerasain banget hati seorang Ibu saat anaknya lebih sayang ama orang lain dibanding dirinya. Hwahaha lebay abis gak sih gue? 😀 (Rating 8,5/10)

2. Departures ( Okuribito)

Ini film JUARAAAAA!!! My Best Movie on Jiffest 2009. Parah parah parah bagusnya! Departures ini film Jepang yang menang Best Foreign Language Film di ajang Oscar 2009. Dan juri Oscar tidak salah pilih! Bener-bener perpaduan kisah yang menyentuh dengan nuansa kultur dan pemandangan negara Jepang yang keren. (Sakura, salju dan pegunungan) hahaha.

Ceritanya tentang seorang pemain cello di sebuah orkestra bernama Daigo Kobayashi, yang terpaksa kehilangan pekerjaan karena orkestranya dibubarin. Dia lalu nyari kerjaan baru, pas baca iklan di koran, dia tertarik ke satu iklan yang ada tulisan “Departures”-nya. Awalnya dia pikir itu travel agent gitu, ternyata itu pekerjaan sebagai “Nokanshi” atau perias jenazah. Karena gajinya gede, dia terima pekerjaan itu. Padahal orang-orang di sekitarnya banyak yang gak setuju termasuk istrinya sendiri, “ bukan pekerjaan yang normal”, gitu kata mereka. Tapi Daigo gak nyerah, ia lanjuuut terus kerja, bodo amet deh, mungkin gitu pikirnya. Sampe suatu ketika ia dengar kabar ayahnya meninggal dunia. FYI, si Daigo ini dari dulu benci banget ama ayahnya karena ninggalin dia sama ibunya waktu kecil, trus nggak kedengeran lagi kabarnya. Perang batin dalam diri Daigo inilah yang bikin gue nangis ngis ngis ngis.. dan semua penonton di studio ikutan sedih ( sebelah kanan gue nangis, kiri nangis, pas film uda kelar masih pada duduk saking butuh waktu agak lama untuk netral kembali emosinya). Apalagi diiringi adegan2 si Daigo maenin cello-nya, menyayat hati banget (asli yang ini gak pake lebay!). Pokoknya ini film bener2 ngingetin gue sama bokap, ngingetin gue untuk serius ama pekerjaan gue, punya keyakinan bahwa kalo kita udah niat ngejalani sesuatu, jalanilah dengan sepenuh hati. Oya, dan yang maen jadi Daigo Kobayashi itu GANTENG sekaleeehh! 😀 (Rating : 9 / 10)

3. Little Soldier

Another Danish movie yang gue tonton. Buset, gue nonton film Denmark sampe 3x selama Jiffest, dan film ini termasuk yang agak datar sih dari segi cerita. Nothing special walopun punya cerita yang cukup kuat. Tentang seorang cewek bernama Lotte, yang baru balik dari pekerjaannya sebagai tentara di Afghanistan. Maksud hati sih pengen cari kerja lagi, trus minjem duit ke bapaknya, cuma akhirnya bapaknya memperkerjakan dia sebagai sopir buat PSK-PSK yang emang ia sewakan (Bapaknya punya rumah bordil gitu). Ada 1 PSK yang deket banget sama si Lotte, dan si PSK ini (lupa namanya) ceritain soal kisah hidupnya, anaknya yang baru berumur 9 tahun, dll Pokoknya saking deketnya, si Lotte punya rencana sendiri yang udah ia siapkan buat si PSK ini. Nah cuman, masalah muncul saat si ayah tahu rencana dia. Gimana ya nasib Lotte? Itulah yang hendak dijawab film ini. Endingnya cukup oke, meskipun ya itu tadi, dibawakannya dengan datar. Buat film terakhir yang gue tonton di Jiffest sih jadi agak2 antiklimaks, apalagi sebelumnya gue baru nonton Departures, jadi agak2 kebanting. Hehehe (Rating : 6 / 10)

And finally, berakhir sudah perjalanan gue di Jiffest 2009. Overall, dengan beberapa perubahan drastis disana-sini (dari segi teknis, seperti venue, sistem tiket, dll), gue seneng dan puas lah ama event ini. Malah sedikit menyesal karena gue nggak sempet nonton beberapa free screening dan sesi dokumenter yang katanya menghadiri narasumber berupa filmmaker-nya langsung plus sesi tanya jawab. Hiks.

Oya, ada oleh-oleh kecil dari hari terakhir tadi malam. Gue akhirnya bertemu Joko Anwar. Hwahaaha! Sutradara yang satu ini hip banget di Twitter kan, ya gak sih? sejak gue following dia di Twitter dan aksi bugilnya di Circle K, trus baca2 blognya, gue jadi admire him a lot. Semua film-filmnya udah gue tonton kecuali Pintu Terlarang (asli, yang ini belum berani nonton karena ngeri). Pas dia lagi menghadiri closing dan pemutaran film New York I Love You, gue dan teman gue, Nining, udah ambil kuda-kuda. Gue sih tepatnya yang antusias, “Aduh, foto bareng apa minta tanda tangan yah Ning?”, karena emang rame banget dan yaaa gue agak-agak malu sih minta foto ama Joko Anwar hahaha.. akhirnya gue putuskan untuk minta tandatangan aja. Big thanks buat Nining yang dengan rela maju duluan buat menghampiri Joko Anwar. Aslinya ramah juga, dan tanda tangannya bagusssss hihihi.. Sekarang gue nyesel nggak skalian minta foto bareng, soale ternyata dia minta diajak ngobrol banget orangnya. Shit, gue saking bingungnya sampe lupa, harusnya gue tanya2 soal blognya, film2 dia berikutnya, dll dll.. Arrrggghh!! Gue cuma sempet tanya soal aktivitas dia beberapa hari lalu yang dia publish di Twitter, itupun setelah dia tanya, “ kalian pasti yang follow2 di Twitter yaaaaah?” wahahahha.. yakin banget nih si mas Joko. Untung bener, Mas (si Nining sih yang gak follow dia). Dan untung dia nggak tanya2 soal Pintu Terlarang… Agrrhh gue jadi pengen cepet2 nonton Pintu Terlarang. Grrr….

Last but not least, so long Jiffest, till we meet again next year. Semoga gue masih terus diberi waktu, tenaga dan biaya (pastinya) untuk bisa melebur di dalam meriahmu.

It’s Jiffest Invasion (Part 1)

Udah lama nggak update blog. Mengawali Desember ini, sekalian aja gue coba ceritakan sedikit mengenai salah satu event tahunan yang emang udah gue tunggu-tunggu sejak lama, yakni : “Jakarta International Film Festival 2009“. Alhamdulillah gue masih diberikan kesempatan untuk menghadiri event ini, dan kemarin, pas tanggal 5 dan 6 Desember, gue marathon 5 film sekaligus di Jiffest.

Agak beda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana tahun ini, venue acara terpusat di Blitz Megaplex Grand Indonesia, trus sekarang kalo beli tiket bisa sekalian pake nomer kursi, jadi nggak rebutan tempat kayak dulu2.

Kalo ditanya perasaan gue 2 hari kemarin, waduh, gimana ya.. Pertama, udah pasti gue antusias, to die for demi bisa nonton film-filmnya deh. Bela-belain nguber waktu padahal sabtu siangnya ujan gede dan gue nyaris telat masuk bioskop. Untungnya masih keburu.. Soal pemilihan film, sebenernya pas milih film2nya, gue lebih mentingin jadwal yang emang kira-kira cocok buat gue. Weekend, pasti, nah kalo weekdays kalo bisa jgn yang malem2. So, ada bbrp film bagus dan populer yang terpaksa gak bisa gue tonton karena schedulenya kemaleman (buat gue) 😦

Setelah atur sana atur sini, Voila, jadilah 8 film World Cinema yang siap untuk gue tonton dalam total 4 hari, dari keseluruhan 9 hari penyelenggaraan Jiffest. Thank God, semua film-film yang gue pilih unik-unik ceritanya, walaupun 2 hari kemarin nih, entah kebetulan apa gimana, film-filmnya depresif semua. Buset deh, nggak ada yang happy ending, atau at least sweet ending gimana gitu. yang ada gak jauh-jauh dari bunuh diri, mati, atau paling banter sakit jiwa. Dan gue yakin sih, dari kelima film itu nggak bakal ada yang ditayangin di bioskop umum di jakarta, so i feel grateful and lucky 🙂
Berikut bbrp review singkatnya, semoga membantu (buat cukup tau aja gitu, hehe 😀 )

1. Terribly Happy

Ini film Denmark yang hmmm.. cukup bikin bingung sih awal2nya, terutama pada narasi pembuka. Ceritanya ttg seorang polisi yang baru memulai kariernya di sebuah kota kecil. Trus dia nanganin kasus KDRT sepasang suami istri, cuman dia akhirnya naksir sama si istri korban KDRT itu (apa si istri ya yang naksir duluan) nah ujung-ujungnya ada yang mati dan si polisi ini terjebak antara harus mengutamakan kejujuran dan kebenaran, atau melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa.

Sebagai film pertama yang gue tonton, di Jiffest, film ini cukup bikin gue tersadar sih, ” Ok, welcome back to Jiffest, yah In”, karena tipikal film Eropa banget, yang pelan, trus dialog gak banyak, dan cara bertuturnya yang khas.  Dan, seingat gue, selama 4 kali keikutsertaan gue di Jiffest, gue belum pernah nonton film Denmark, yah lumayan lah buat referensi. ternyata Denmark bisa juga bikin film yang oke nggak kalah dgn film2 negara Eropa lainnya. (Rating : 6,5/10)

2. Love and Rage

Nah kalo yang ini, walaupun sama-sama film Denmark, tapi lebih “sakit jiwa” sih menurut gue. Ada sisi psikologisnya yang kentara banget sepanjang film. Padahal inti ceritanya sih simpel, sepasang kekasih, cowoknya agak2 parno dan gampang cemburuan (ama posesif), tapi suka nggak beralasan gitu. Nyebelin banget deh si cowok ini (namanya Daniel), sampe saking cemburunya, dia bisa bunuh orang, trus kariernya sbg calon pianis ternama jadi hancur. Endingnya juga amat pahit sih menurut gue. Bener-bener shit banget nasib si cowok, dan ya tentunya menyedihkan buat ceweknya. Inti ceritanya juga lebih mudah dicerna dibanding film yang pertama, hmm to much love will kill you. haha! (Rating : 7,5/10)

3. Chiko

Chiko ini film Jerman, cuman ada nuansa Turki dan Islam-nya. karena tokohnya, seorang pria keturunan Turki bernama Isa, yang punya julukan Chiko, dan dia ini punya bisnis bandar narkoba gitu, trus ya biasa lah, ada temennya yang berkhianat, trus ada balas dendam, trus ada yang mati (again!). Agak-agak bernuansa kriminal, dan temponya lumayan cepet, jadi nggak ngebosenin. Trus ada selipan adegan-adegan lucu dari temen-temennya Chiko. Menghibur banget, sampe lupa kalo ini film Jerman. (Rating : 7/10)

4. Jerichow

Naaah, Jerichow ini menurut gue film yang lucu. Padahal ceritanya tentang perselingkuhan. Alkisah, Thomas, yang bekerja sbg sopir dari sepasang suami istri, naksir ama si istri majikannya tsb. Lucu banget ngeliat adegan mereka ngumpet-ngumpet making-out gitu wahahaha, padahal adegannya nggak dimaksudkan sbg adegan komedi. udah gitu, yang jadi si sopir (namanya Thomas), cakep pisan euy. Botak2 atletis gitu. 😀 😀

Endingnya, juga gak happy ending (yaaah bisa sih di-happy ending-in, tergantung perspektif siapa, hehe). Pada akhirnya harus ada 1 orang yang berkorban dan ngalah. tapi ya tetep aja, namanya perselingkuhan itu gak bakal menghasilkan kebahagiaan. (Rating : 7,5/10)

5. Troubled Water

Fly away to Norway and meet Thomas, a very talented organ player. Dikisahkan Thomas ini dulunya pernah terlibat sebuah insiden yang menewaskan seorang anak balita. Entah iseng atau beneran niat pengen nyulik tu anak, tiba-tiba tu anak mati dan Thomas masuk penjara. Pas keluar dari penjara, ia bekerja sbg pemain organ di sebuah gereja, yang ternyata mempertemukan dia sama si Ibu dari anak yang dulu mati itu. Wow ini film tergolong serius dan lumayan butuh perenungan mendalam. Kita bisa melihat kesedihan seorang Ibu dan gimana perjuangan dia meneruskan hidup dengan susah payah (secara emosional) pasca kehilangan anaknya, tapi disisi lain, kita juga simpati sama si Thomas karena dia juga berhak atas kesempatan kedua dan sebuah kata maaf. Gue suka sama alurnya yang flashback, trus adegan2 yang diulang karena diambil dari perspektif si Thomas sama si Ibunya.  (Rating : 7,5/10)

Itulah rangkuman kelima film yang udah gue tonton pas weekend kemarin di Jiffes. Kalo tertarik untuk figured-out lebih jauh, klik web-nya Jiffest aja atau Google-ing atau IMDB-ing.. hehe

Masih ada sisa 3 film lagi yang akan gue tonton sampe Jiffest berakhir tanggal 12 Des, Sabtu depan. Semoga film-film yang besok lebih menarik dan menawarkan kisah yang nggak kalah uniknya. So, to be continued.