It’s Jiffest Invasion (Part 1)

Udah lama nggak update blog. Mengawali Desember ini, sekalian aja gue coba ceritakan sedikit mengenai salah satu event tahunan yang emang udah gue tunggu-tunggu sejak lama, yakni : “Jakarta International Film Festival 2009“. Alhamdulillah gue masih diberikan kesempatan untuk menghadiri event ini, dan kemarin, pas tanggal 5 dan 6 Desember, gue marathon 5 film sekaligus di Jiffest.

Agak beda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana tahun ini, venue acara terpusat di Blitz Megaplex Grand Indonesia, trus sekarang kalo beli tiket bisa sekalian pake nomer kursi, jadi nggak rebutan tempat kayak dulu2.

Kalo ditanya perasaan gue 2 hari kemarin, waduh, gimana ya.. Pertama, udah pasti gue antusias, to die for demi bisa nonton film-filmnya deh. Bela-belain nguber waktu padahal sabtu siangnya ujan gede dan gue nyaris telat masuk bioskop. Untungnya masih keburu.. Soal pemilihan film, sebenernya pas milih film2nya, gue lebih mentingin jadwal yang emang kira-kira cocok buat gue. Weekend, pasti, nah kalo weekdays kalo bisa jgn yang malem2. So, ada bbrp film bagus dan populer yang terpaksa gak bisa gue tonton karena schedulenya kemaleman (buat gue) 😦

Setelah atur sana atur sini, Voila, jadilah 8 film World Cinema yang siap untuk gue tonton dalam total 4 hari, dari keseluruhan 9 hari penyelenggaraan Jiffest. Thank God, semua film-film yang gue pilih unik-unik ceritanya, walaupun 2 hari kemarin nih, entah kebetulan apa gimana, film-filmnya depresif semua. Buset deh, nggak ada yang happy ending, atau at least sweet ending gimana gitu. yang ada gak jauh-jauh dari bunuh diri, mati, atau paling banter sakit jiwa. Dan gue yakin sih, dari kelima film itu nggak bakal ada yang ditayangin di bioskop umum di jakarta, so i feel grateful and lucky πŸ™‚
Berikut bbrp review singkatnya, semoga membantu (buat cukup tau aja gitu, hehe πŸ˜€ )

1. Terribly Happy

Ini film Denmark yang hmmm.. cukup bikin bingung sih awal2nya, terutama pada narasi pembuka. Ceritanya ttg seorang polisi yang baru memulai kariernya di sebuah kota kecil. Trus dia nanganin kasus KDRT sepasang suami istri, cuman dia akhirnya naksir sama si istri korban KDRT itu (apa si istri ya yang naksir duluan) nah ujung-ujungnya ada yang mati dan si polisi ini terjebak antara harus mengutamakan kejujuran dan kebenaran, atau melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa.

Sebagai film pertama yang gue tonton, di Jiffest, film ini cukup bikin gue tersadar sih, ” Ok, welcome back to Jiffest, yah In”, karena tipikal film Eropa banget, yang pelan, trus dialog gak banyak, dan cara bertuturnya yang khas.Β  Dan, seingat gue, selama 4 kali keikutsertaan gue di Jiffest, gue belum pernah nonton film Denmark, yah lumayan lah buat referensi. ternyata Denmark bisa juga bikin film yang oke nggak kalah dgn film2 negara Eropa lainnya. (Rating : 6,5/10)

2. Love and Rage

Nah kalo yang ini, walaupun sama-sama film Denmark, tapi lebih “sakit jiwa” sih menurut gue. Ada sisi psikologisnya yang kentara banget sepanjang film. Padahal inti ceritanya sih simpel, sepasang kekasih, cowoknya agak2 parno dan gampang cemburuan (ama posesif), tapi suka nggak beralasan gitu. Nyebelin banget deh si cowok ini (namanya Daniel), sampe saking cemburunya, dia bisa bunuh orang, trus kariernya sbg calon pianis ternama jadi hancur. Endingnya juga amat pahit sih menurut gue. Bener-bener shit banget nasib si cowok, dan ya tentunya menyedihkan buat ceweknya. Inti ceritanya juga lebih mudah dicerna dibanding film yang pertama, hmm to much love will kill you. haha! (Rating : 7,5/10)

3. Chiko

Chiko ini film Jerman, cuman ada nuansa Turki dan Islam-nya. karena tokohnya, seorang pria keturunan Turki bernama Isa, yang punya julukan Chiko, dan dia ini punya bisnis bandar narkoba gitu, trus ya biasa lah, ada temennya yang berkhianat, trus ada balas dendam, trus ada yang mati (again!). Agak-agak bernuansa kriminal, dan temponya lumayan cepet, jadi nggak ngebosenin. Trus ada selipan adegan-adegan lucu dari temen-temennya Chiko. Menghibur banget, sampe lupa kalo ini film Jerman. (Rating : 7/10)

4. Jerichow

Naaah, Jerichow ini menurut gue film yang lucu. Padahal ceritanya tentang perselingkuhan. Alkisah, Thomas, yang bekerja sbg sopir dari sepasang suami istri, naksir ama si istri majikannya tsb. Lucu banget ngeliat adegan mereka ngumpet-ngumpet making-out gitu wahahaha, padahal adegannya nggak dimaksudkan sbg adegan komedi. udah gitu, yang jadi si sopir (namanya Thomas), cakep pisan euy. Botak2 atletis gitu. πŸ˜€ πŸ˜€

Endingnya, juga gak happy ending (yaaah bisa sih di-happy ending-in, tergantung perspektif siapa, hehe). Pada akhirnya harus ada 1 orang yang berkorban dan ngalah. tapi ya tetep aja, namanya perselingkuhan itu gak bakal menghasilkan kebahagiaan. (Rating : 7,5/10)

5. Troubled Water

Fly away to Norway and meet Thomas, a very talented organ player. Dikisahkan Thomas ini dulunya pernah terlibat sebuah insiden yang menewaskan seorang anak balita. Entah iseng atau beneran niat pengen nyulik tu anak, tiba-tiba tu anak mati dan Thomas masuk penjara. Pas keluar dari penjara, ia bekerja sbg pemain organ di sebuah gereja, yang ternyata mempertemukan dia sama si Ibu dari anak yang dulu mati itu. Wow ini film tergolong serius dan lumayan butuh perenungan mendalam. Kita bisa melihat kesedihan seorang Ibu dan gimana perjuangan dia meneruskan hidup dengan susah payah (secara emosional) pasca kehilangan anaknya, tapi disisi lain, kita juga simpati sama si Thomas karena dia juga berhak atas kesempatan kedua dan sebuah kata maaf. Gue suka sama alurnya yang flashback, trus adegan2 yang diulang karena diambil dari perspektif si Thomas sama si Ibunya.Β  (Rating : 7,5/10)

Itulah rangkuman kelima film yang udah gue tonton pas weekend kemarin di Jiffes. Kalo tertarik untuk figured-out lebih jauh, klik web-nya Jiffest aja atau Google-ing atau IMDB-ing.. hehe

Masih ada sisa 3 film lagi yang akan gue tonton sampe Jiffest berakhir tanggal 12 Des, Sabtu depan. Semoga film-film yang besok lebih menarik dan menawarkan kisah yang nggak kalah uniknya. So, to be continued.

Advertisements

9 thoughts on “It’s Jiffest Invasion (Part 1)

    • @Warm : hehe iyah selalu merasa beruntung bisa mampir. yaaah mumpung masih ada rejeki dan yang paling penting : mumpung masih ada tenaga.. hehe πŸ˜€

      @Elia Bintang : iyah sebagain besar gaya penceritaannya beda dgn Hollywood. Troubled Water menarik kok. cukup kontemplatif dan “dalam” dibanding keempat yang lain. hehe

  1. Wah, thanks buat review singkatnya. Sebagai penggemar Jiffest yang absen nonton taun ini, reviewnya cukup berharga untuk bekal cari DVD atau downlad film2nya nih.

    To bad Jiffest taun ini cuma ada di mall, atmosfernya kurang kena yah.

    • Iya, kangen nonton Jiffest di bbrp venue kayak dulu. Kalau sekarang crowd-nya nyampur ama penonton umum jadi aura festivalnya kurang terasa. hehe.. kenapa absen?
      btw, thanks sudah mampir πŸ™‚

  2. movietard says:

    Halo Iin!
    ngiriii saya ama tontonannya >.<
    kemaren karna ada keterbatasan waktu dan dana gak bisa ntn banyak, cuma bisa 4 film
    mungkin nanti saya cari dvdnya aja ya, moga2 dikeluarin ama Jive

    • iya… semoga ada DVDnya, film-filmnya yang di part 1 ini sangat festival sih. lebih unik.
      Nanti kita bertukar cerita yaaah film2 yg udah pada kita tonton hehe
      (saya kalau nggak di tahan-tahan juga bisa nongkrong seharian dan miskin mendadak kalo udah di JIffest) hehe

      Thanks for coming to my blog πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s