Yang Sederhana tentang Ci(n)Ta, Ternyata masih Ada

Ketika suatu hari ada seorang teman bercerita, tentang seorang perempuan yang (masih) dicintainya, tanpa diminta, hanya sekedar berbagi, maka gue hanya bisa menyediakan sepasang  telinga, sebisa mungkin meminimalisir mulut ini untuk tidak mengeluarkan kata-kata skeptis dan sinis yang biasanya muncul setiap kali ada pembicaraan bersifat woman-man relationship.

Dan ternyata, masih saja sama sulitnya.

Singkat kata, teman gue dengan perempuan ini tidak pernah bersama (what FB called it : in relationship). Alasannya, karena perbedaan prinsip, nggak ngerti maksudnya apaan. Sekarang, mereka terpisah jarak dan waktu, sudah ada di tahap awkward relationship (ya karena pernah punya”cerita” bersama), dibilang putus silaturahmi, nggak, tapi dibilang baik-baik saja, pun rasanya tidak juga. (Oke, mulai terlihat seperti cerita gue sendiri, nih hwahahahahaa taaee..)

Menurut teman gue, di antara mereka ada sosok laki-laki lain yang menurutnya akan selalu menjadi penghalang mereka untuk bisa bersama, yakni mantannya si cewek. Waktu gue dikasihtau foto mantannya itu,  teman gue ini bertanya :

“ Menurut lo, mending mana In, gue apa cowok ini?”

Waduh, pertanyaan sulit.

Gue bilang, “ Hmm, tergantung nih, apanya dulu..”

Kalo menurut gue sih ya, hanya berbekal foto FB, mau gak mau menilai fisik dong, yah gue sih prefer teman gue ini, kayaknya kok lebih pas gitu sama ceweknya.

Trus teman gue masih bertanya, “kalo menurut lo, mana yang terlihat lebih gaul, lebih tajir dan lebih keliatan anak “Jakarta”?” inti pertanyaan nya kira-kira gitu, gue sedikit lupa kalimat dia gimana..

Waduh (lagi), pertanyaan sulit.

Dari info FB, dan foto-foto si mantan, terlihat dia cowok yang gaul sih, anak Jakarta yang eksis, tidak cakep memang, biasa aja malah menurut gue (gue bilang ke temen gue : wah kalo lo tanya pendapat gue, gue sih ga suka ya ama tipe begini), beda dengan teman gue ini, dia lahir dan besar di sebuah kota kecil (yang pasti bukan Jakarta), sederhana tapi punya banyak mimpi. Berprestasi, punya cita-cita tampil di televisi dan sudah tekun merintis cita-citanya itu sejak lama. Modal fisik, ada, teman pun tidak sedikit. Alangkah kagetnya saat gue tergelitik untuk bertanya, “ kenapa emangnya? What’s wrong with that guy?” dan jawaban dia:

“ya, cewek itu memilih dia daripada gue. Coba lo pikir ya In, kira-kira hari gini, mana ada cewek yang mau sama orang kayak gue, mereka pasti lebih milih yang tajir, gaul, pokoknya yang lebih segala-galanya. Sementara gue? Gue kan dari kota kecil, and bla blabla.. *intinya nggak pede*

Wow, oke. Ini menarik.  Ada sisi lain hati gue bilang : “ Ah, nggak juga kali.”, tapi sisi lainnya bilang : “ Hehe, iya juga sih.” Tapi kok rasanya kurang tepat.

Mencoba memahami dari sisi lain. Dari sudut pandang teman gue ini. Wow, masih ada ya cowok yang berpikir demikian? Bahwa prestasi dan mimpi yang ia miliki dirasa masih kurang untuk dijadikan bekal menawarkan sekeping cinta kepada wanita yang ia idam-idamkan. Bahwa ternyata, sukses secara materi, embel-embel lain yang bersifat kebendaan masih menjadi salah satu alasan meningkatkan rasa percaya diri untuk maju memperjuangkan perasaannya.

Penilaian ini masih sangat dini, sih, toh percakapan gue dengan teman gue ini tidak serius-serius banget. Hanya saja, to be honest, gue baru denger problematika cinta vs materi ini dari mulut seorang laki-laki ya baru kali ini. Biasanya hanya muncul dari teman-teman cewek gue, atau gue lihat di cerita-cerita TV, internet dsb.

Sampai akhirnya gue bilang gini ke temen gue :

“ Udah, mendingan sekarang elo fokus ke mimpi lo, rencana-rencana hidup lo yang udah lo rintis itu, nanti, jika kelak terwujud (seperti sebagian mimpi lo yang sudah lebih dulu terwujud), lo sukses, lo liat deh, kalo sampe tu cewek tau, mungkin dia yang akan menyesal, trus berbalik mengejar lo? Atau kalo itu bikin lo jadi lebih pede, maka tawarkan saja lagi ketulusan dan kerja keras lo itu ke hadapannya. Siapa tahu, kan?”

Tanpa gue bilang itu pun, rasanya temen gue ini sudah tau apa yang akan ia lakukan. Berharap akan akhir yang indah, tentu saja masih, tapi keputusannya untuk menjalani satu-persatu langkah karier yang ia inginkan, saat ini, di usianya yang (menurut gue) masih sangat muda, tentu saja pilihan yang hmm.. terbaik.. or let say pilihan yang aman.

Gue hanya bisa bantu mendukung dan mendoakan.

Dan pada akhirnya, begitu gue membaca puisi singkatnya buat cewek ini, yang salah satu baitnya tertulis:

“ ..dalam otakku, kusimpan gambar dirinya,  takkan kuhapus..

Hanya terdampar menanti, untuk melihatnya kembali,

Bukan gambar di benakku, tapi dia yang tertidur di bahuku.”

4 Maret 2010

Gue membayangkan : “..seandainya.. seandainya saja, cewek itu membaca.. bukan tidak mungkin, ada episode yang berbeda.”

Yang sederhana, tanpa pamrih apa-apa, just so you know, Bal, biasanya lebih bermakna. So, Iqbal, I know you’re gonna read this, keep up believing, ok 🙂

Filosofi Pria Idaman ala Up in the Air

Ada yang udah nonton Up in the Air?

Gak tau ya efeknya di orang-orang gimana, tapi buat gue, film ini punya kesan tersendiri. Bagus, sederhana tapi kaya makna. Makna tentang apa? Banyak. Kehidupan, komersialisme, individualistis, arti komitmen terhadap kerjaan, cinta dan semua jenis relationship antar manusia, semua ada di film ini.

Gue nggak akan membahas review lengkapnya tu film kayak gimana, tapi gue cuman pengen sharing beberapa quotes (lebih tepatnya percakapan-percakapan sih) yang ada di film ini. Hmm, banyak banget dialog2 bagus, terutama yang obvious banget ya jelas saja semua yang keluar dari mulut Ryan Bingham (George Clooney). Nope, gue, dalam hal ini sebagai perempuan, jauh lebih tersentil (apa tertampar ya?) sama percakapan antara 2 tokoh perempuan di film ini, yakni Natalie (Anna Kendrick) dan Alex (Vera Farmiga).

Gambaran singkatnya gini :

Natalie ini partner kerjanya Ryan. Fresh Graduate usia 20-an, pinter, ambisius, gak fleksibel, dan yang paling ngegemesin : dia super NAIF. Nah suatu hari, dia diputusin sama cowoknya, nangis2 lah dia. Oleh Ryan, dia diperkenalkan dengan seorang cewek bernama Alex. Alex ini yaa let’s say HTS-annya Ryan, usia udah 30-an, orangnya easy-going, optimism, dan yang pasti : lebih realistis memandang hidup, kira-kira gitu. Ngobrol-ngobrollah mereka bertiga di suatu café, topik utamanya sih tentang nasib buruk Natalie yang abis diputusin itu, kemudian percakapan berkembang dan gue semakin menyadari bahwa : Natalie kok gue banget yaaa (sok gue), well, just take a look at some of their dialogues deh :

Curhat Natalie abis diputusin ke Alex :

Natalie : “ When I was sixteen, I thought by twenty-three, I would be married, maybe have a kid.. Corner office by day, entertaining at night. I was supposed to be driving a Grand Cherokee by now. Now I have my sights on twenty-nine, because thirty is just way too.. apocalyptic. I mean, where’d you think you’d be by..    But sometimes it feels like no matter how much success I have, it all won’t matter until I find the right guy..

Alex : “ You really thought this guy was the one?”

Natalie : “ Yeah, I guess. I don’t know. I could have made it work. He just really fit the bill. You know, the bill.. my type. White collar. College grad. Loves dogs. Likes funny movies. Six feoot one. Brown hair. Kind eyes. Works in finance but is Outdoorsy, you know, on the weekends. I always imagined he’d have a single syllable name like Matt or John or.. Dave. In a perfect world, he drives a Four Runner and the only thing he loves more than me is his golden lab. Oh.. and a nice smile.”

Jreng. Adakah yang merasa pernah berkhayal seperti yang dibilang Natalie di atas? 😀

Alex lantas menjawab hal yang berbeda ketika Natalie meminta pendapatnya,

Alex : “Let me think for a sec. Well, by the time you’re thirty-four, all the physical requirements are pretty much out the window. I mean you secretly pray he’ll be taller than you. Not an asshole would be nice? Just someone who enjoys my company. Comes from a good family. You don’t think about that when you’re younger. Wants kids.. I mean.. he likes kids.. wants kids. Healthy enough to play catch with his future son one day.  Please let him earn more than I do. That doesn’t make sense now, but believe me, it will one day. Otherwise it’s just a recipe for disaster.  Hopefully some hair on his head..? but it’s not exactly a deal-breaker anymore. Nice smile.. Yep, a nice smile just might do it.

Hiyaaaa.. gue belum 30 tahun sih, tapi kok yang Alex bilang, BENER JUGAA YAA..

Mulai deh gue berpikir ulang, iya juga ya, sebenernya criteria apa sih yang gue inginkan, mau cowok yang kayak gimana sih? Saat ini, gue merasanya masih ada di developmental stage-nya Natalie, nggak tau deh besok, lusa, bulan depan atau bertahun-tahun ke depan bisa berubah kayak Alex juga apa gak..

Intinya adalah semakin dewasa (baca : tua) kita, semakin jauh dari idealis-lah seharusnya harapan-harapan kita. Termasuk harapan dalam memilih pasangan.. Are you guys agree?

Gue yakin, diantara 2 cewek di atas, pasti kita pernah berpikir yang sama dengan salah satu dari mereka.

Kamu yang mana?