Filosofi Pria Idaman ala Up in the Air

Ada yang udah nonton Up in the Air?

Gak tau ya efeknya di orang-orang gimana, tapi buat gue, film ini punya kesan tersendiri. Bagus, sederhana tapi kaya makna. Makna tentang apa? Banyak. Kehidupan, komersialisme, individualistis, arti komitmen terhadap kerjaan, cinta dan semua jenis relationship antar manusia, semua ada di film ini.

Gue nggak akan membahas review lengkapnya tu film kayak gimana, tapi gue cuman pengen sharing beberapa quotes (lebih tepatnya percakapan-percakapan sih) yang ada di film ini. Hmm, banyak banget dialog2 bagus, terutama yang obvious banget ya jelas saja semua yang keluar dari mulut Ryan Bingham (George Clooney). Nope, gue, dalam hal ini sebagai perempuan, jauh lebih tersentil (apa tertampar ya?) sama percakapan antara 2 tokoh perempuan di film ini, yakni Natalie (Anna Kendrick) dan Alex (Vera Farmiga).

Gambaran singkatnya gini :

Natalie ini partner kerjanya Ryan. Fresh Graduate usia 20-an, pinter, ambisius, gak fleksibel, dan yang paling ngegemesin : dia super NAIF. Nah suatu hari, dia diputusin sama cowoknya, nangis2 lah dia. Oleh Ryan, dia diperkenalkan dengan seorang cewek bernama Alex. Alex ini yaa let’s say HTS-annya Ryan, usia udah 30-an, orangnya easy-going, optimism, dan yang pasti : lebih realistis memandang hidup, kira-kira gitu. Ngobrol-ngobrollah mereka bertiga di suatu café, topik utamanya sih tentang nasib buruk Natalie yang abis diputusin itu, kemudian percakapan berkembang dan gue semakin menyadari bahwa : Natalie kok gue banget yaaa (sok gue), well, just take a look at some of their dialogues deh :

Curhat Natalie abis diputusin ke Alex :

Natalie : “ When I was sixteen, I thought by twenty-three, I would be married, maybe have a kid.. Corner office by day, entertaining at night. I was supposed to be driving a Grand Cherokee by now. Now I have my sights on twenty-nine, because thirty is just way too.. apocalyptic. I mean, where’d you think you’d be by..    But sometimes it feels like no matter how much success I have, it all won’t matter until I find the right guy..

Alex : “ You really thought this guy was the one?”

Natalie : “ Yeah, I guess. I don’t know. I could have made it work. He just really fit the bill. You know, the bill.. my type. White collar. College grad. Loves dogs. Likes funny movies. Six feoot one. Brown hair. Kind eyes. Works in finance but is Outdoorsy, you know, on the weekends. I always imagined he’d have a single syllable name like Matt or John or.. Dave. In a perfect world, he drives a Four Runner and the only thing he loves more than me is his golden lab. Oh.. and a nice smile.”

Jreng. Adakah yang merasa pernah berkhayal seperti yang dibilang Natalie di atas? 😀

Alex lantas menjawab hal yang berbeda ketika Natalie meminta pendapatnya,

Alex : “Let me think for a sec. Well, by the time you’re thirty-four, all the physical requirements are pretty much out the window. I mean you secretly pray he’ll be taller than you. Not an asshole would be nice? Just someone who enjoys my company. Comes from a good family. You don’t think about that when you’re younger. Wants kids.. I mean.. he likes kids.. wants kids. Healthy enough to play catch with his future son one day.  Please let him earn more than I do. That doesn’t make sense now, but believe me, it will one day. Otherwise it’s just a recipe for disaster.  Hopefully some hair on his head..? but it’s not exactly a deal-breaker anymore. Nice smile.. Yep, a nice smile just might do it.

Hiyaaaa.. gue belum 30 tahun sih, tapi kok yang Alex bilang, BENER JUGAA YAA..

Mulai deh gue berpikir ulang, iya juga ya, sebenernya criteria apa sih yang gue inginkan, mau cowok yang kayak gimana sih? Saat ini, gue merasanya masih ada di developmental stage-nya Natalie, nggak tau deh besok, lusa, bulan depan atau bertahun-tahun ke depan bisa berubah kayak Alex juga apa gak..

Intinya adalah semakin dewasa (baca : tua) kita, semakin jauh dari idealis-lah seharusnya harapan-harapan kita. Termasuk harapan dalam memilih pasangan.. Are you guys agree?

Gue yakin, diantara 2 cewek di atas, pasti kita pernah berpikir yang sama dengan salah satu dari mereka.

Kamu yang mana?

Advertisements

21 thoughts on “Filosofi Pria Idaman ala Up in the Air

  1. movietard says:

    a nice article! refleksi paska menonton Up in the Air ya,
    in my mid 20s, I’m just like the first one, Natalie-type, maunya yang serba bagus dan perfect,
    bahkan waktu itu bikin kriteria harus paling nggak ketemu bf yang agak look alike dengan Adam Brody [lol]
    tapi abis menonton Up in the Air bikin saya belajar banyak, and let’s say, mulai sedikit merubah persepsi untuk berpikir seperti Alex
    saya bener2 salut sama temen2 yg seumuran yang sudah bisa berpikir ala Alex, bahkan ada lo In, yang melakukannya dari umur belasan

    • iyaaa.. momen girl talk di film ini meski singkat tapi disturbing banget ya.. gue masih di tahap Natalie banget nih, meski nggak separah dia sih, hehe tapi tetep aja banyak maunya. Pingin jadi Alex juga yang deal with reality-nya bagus, hopefully di tahun2 mendatang ya hahahaha 😀

  2. jaman SMA…gue = Natalie, tapi begitu masuk umur 22 gue berubah menjadi Alex…

    selesai nonton up in the air, gue langsung ketawa-ketawa mengingat begitu Natalie-nya gue dulu… 😀

    • gimana naaad, gimana caranya menemukan yang seperti Alex bilang itu gimanaa?? (dan dimana????) hahahahahaha
      yang kayak Natalie inginkan aja susah banget, apalagi yang kayak Alex bilang : senyum bagus dan pendapatan bagus hwahahhaha 😀

  3. Yang langsung terlintas di kepala gw waktu liat adegan ini, Natalie terlalu membentuk sosok pria idamannya, pasangan bukan untuk dibentuk, tapi utk dimengerti dan diterima apa adanya… Salah besar kalau lu pikir bisa membentuk orang lain, atau mengharapkan orang lain menjadi seperti yang lu harapkan… Kemungkinan 1% kali ya haha…

  4. Pada akhirnya sih gue pasrah dengan sendirinya dan memilih untuk lebih “menikmati” hidup. Sadar sendiri kalo terlalu tinggi dan banyaknya gambaran dan bayangan ideal itu malah nanti akan “mengukung” gue.

    Disini gue nggak bilang kalau punya harapan atau target itu salah, tapi dengan semakin gue “mengenali” diri gue, semakin sadar bahwa kebahagiaan itu bukan cuma dr sisi punya pacar, cepet nikah, dsb. Jadi untuk masalah “pendamping hidup” mah gue bismillah aja 😀

    Sm kayak kattleya (kenalkah dirimu?), gue berpendapat mumpung masih single dipuas-puasin untuk karier, have fun sm temen dan diri sendiri…

    Dan kalo ga salah tadi gue baca tweet lo yang ini:

    “Often win many prizes, free tickets, vouchers, but never win someone’s heart.”

    Well menurut gue, para pria di luar sana yang seharusnya memenangkan hatimu. 😀

    • Iya blognya Kattleya gue pernah kunjungi (sudah agak lama), akan lebih baik kalo gue bisa ngomong seperti Alex, tapi Alex yang emang sudah bisa menikmati dan puas akan apa yang telah dicapainya, sehingga, gue nggak nyesel dan balik lagi jadi Natalie.. hehehe.

      Tweet gue tempo hari itu ironi, sih nad, berhubung gue sering bgt noh dapet gratisan, hahaha maksih banyak yah sudah memperkaya perspektif gue. means a lot 🙂

    • hahaa gapapa kok itu kan pendapat. makasih ya udah mampir. seneng lho ada cowok yang juga ikut berpendapat. apakah cowok juga pernah seperti Natalie / Alex?
      if we trackback on this quotes, bilang nobody’s perfect kok kayaknya jadi basi banget ya.. hehe tiap orang punya standar “perfect”nya sendiri2.

      • Tiap orang punya harapan masing2 lah tentang pasangan, tapi kalau ga bisa fleksibel akan sakit ati sendiri tar karena mgkn bakalan kecewa, ternyata dia begitu, ternyata dia ga begini… Gw berkeyakinan bahwa karakter orang ga bisa diliat dari dia cewek atau cowok… Some man might think just like Alex do….

  5. Vanni says:

    In… aku suka bgt sm tulisanmu yang ini 🙂
    spertinya aku jg masih di tahap Natalie nih, hahahahaha… Harus belajar jadi Alex pelan-pelan… lebih realistis, hehehe…
    Makasih ya dah sharing 😀

  6. hmh… gue selalu berharap punya laki sepinter, sekeren, dan seganteng Johnny Depp.

    sampe sekarang, gue bikin sih kriteria ideal laki gue.

    tapi sekalinya kepincut, kriteria ideal itu udah ilang deh ke mana-mana. (ya ya ya ahahaha)

    gue jadi inget Sex and The City, yang TV series…
    Miranda lagi mikir2 mau ‘nerima’ Steve atau ndak, n dia bikin list pro and con list, dan con list nya cukup banyak. Tapi akhirnya karena emang kepincut bener hatinya, it’s a big pro, beating the long con list. 🙂

  7. Ho iya… gue juga pernah kayak Natalie sih.. holding to a guy for a long time, no matter how awful the relationship, just because he fit the bill. ternyata setelah putus, walaupun pake nangis benjet, I’m happier now. 🙂

  8. jillian says:

    Filmnya memang konflik qta2 skrg ini yah in ideal vs realistis. Gw setengah2 in.. memang ada kriteria yang harus memenuhi, kaya agama sama, is a must.. kalo suku sama didahulukan.. hehe.. yang penting bagi gw sekarang yang pas kalo sebelahan sama gw, realistisnya bisa bikin gw kangen sekangennya kalo ga ada dia.. a man who wins my heart (terserah deh atributnya apa)

  9. bagus ya filmnya?? hahaha ketawan banget gue udah lama ga nonton film hehe..
    kalau gue sih ya, udah masuk ke tahap Alex ehehe 😀
    sampai saat ini sih realistisnya gue adalah, gue enggak pernah melihat seseorang berdasarkan fisik tetapi sampai sejauh mana gue bisa merasa nyaman sama diri dia.
    kalau gue patok fisiknya itu harus mirip john mayer, suaranya bagus, tinggi, matanya oke, tapi kalau ternyata dia enggak bisa bikin gue nyaman sama dia yah sama aja bohong.
    hehe :))
    tapi buat nyari seseorang yang bisa bikin satu sama lain merasa nyaman itu one in billion. yang ada malah sahabat gue sendiri *jadi curhat* haha…

    • wow..the further someone stands from reality, the louder (s)he talks..

      describe me banget ini mas quote nya!! hwahahaha emang gue makin ngarep, makin kenceng ngomongnya… 😀

  10. I adore Alex. very much.

    termasuk di bagian di mana dia bisa ‘misahin’ hidup riil yang dia jalani dan hidup senang2 selingan sama si Ryan. very rational, yet very true.

    😀

  11. Sengaja gak mau baca dulu posting ini sblm nonton filmnya… Dan ternyata betapa terkejutnya gue, ketika semua yang gue cari… Adalah yang disebutkan oleh ALEX!! Padahal itu sbnrnya dia menggambarkan sosok yg dicari perempuan usia 34 tahun yg notabene mungkin sudah tidak dlm posisi utk terlalu leluasa memilih2 kriteria laki-laki. Umur gue baru 25!!! Apa gue gak punya mimpi? Apa gue realistis? Apapun alasannya, tetep aja belon nemu tuh si laki-laki itu. Hehehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s