Sampai Jumpa, 10 Tahun Lagi

Sepulang dari after-hours-an Jumat malam kemarin, kami, gue dan seorang teman berbincang-bincang di taksi sepanjang perjalanan pulang. Ada satu hal yang gue kagumi dari setiap pertemuan dan obrolan singkat kami, yakni pasti adaaa aja satu pertanyaan, atau wacana-wacana yang kontemplatif dan cerdas, mengajak gue merenung dan berpikir sejenak, seperti satu pertanyaan dia tadi malam di dalam taksi.

Kira-kira, begini pertanyaannya :

“ Bagaimana lo melihat diri lo dalam 10 tahun ke depan, In?”

Oke, pertanyaan sulit untuk otak gue yang sudah lumutan ini.

Hmm tapi penasaran juga pengen gue jawab, dengan agak-agak muter-muter jawabnya, entah karena gak yakin, atau malu kedengeran pak supir taksi, gue bilang gini :

“ Apa ya bo, hmm ya mungkin gue udah kerja, membawahi beberapa orang (artinya secara implisit = gue sukses kali ya ama kerjaan gue), trus seharusnya gue udah punya keluarga sendiri, suami dan anak-anak, trus hmm apa ya..”

End of conversation.

Benar-benar suatu momen tanya-jawab yang nggak tek-tok dan actually gue gak suka.

Pagi ini gue kepikiran lagi sama pertanyaan dia. Berhubung gue selalu meyakini gue lebih bisa mengungkapkannya dalam tulisan, jadi gue coba tuangkan dalam postingan ini.

10 tahun ke depan, gue kira-kira akan berusia 35 tahun.

Bagaimana gue melihat diri gue pada masa itu, tahun 2020 (semoga belum kiamat).

Harapannya sih, (amin-amin-amin), gue sudah menikah dan punya anak. No, ini bukan tujuan utama, hanya tujuan mulia (mencoba membedakan antara definisi “utama” dan “mulia”), hahaha.. Jadi, gue ingin orang-orang yang bertemu gue, dan berada pada radius perjalanan hidup gue tahun itu melihat gue sebagai istri seseorang dan ibu beberapa orang (amin).

Lalu apa lagi, hmm pada usia 35 tahun, gue melihat diri gue sebagai apa ya, masa-masa istirahat dari segala hal yang sifatnya ambisius. Dengan catatan, dari sekarang sampe umur 34 tahunnya gue sudah merasa teraktualisasi diri ya (pake teori segitiga Maslow). Gue sudah bekerja di suatu perusahaan yang gue suka, sukur-sukur itu perusahaan bagus, besar, tapi yang paling penting, gue enjoy dengan kerjaannya. Bidang kerjanya, hmm kalo berpatokan pada pengalamana masa lalu, harusnya gue kerja di lingkungan HR, terus punya beberapa bawahan (alias udah ada di level minimal supervisor deh). Di usia 35 tahun gue sudah bisa merasakan hidup mandiri, bisa kasih kontribusi buat orang tua (istilahnya kasih mamaku uang, dan membuat papa bahagia dengan masa pensiunnya), trus masih bisa terus berhubungan dengan sahabat-sahabat lama, sahabat saat ini dan entah orang-orang inspiratif lainnya.

Di usia itu gue tidak lagi mempertanyakan hal-hal labil, model : mau cari kerja dimana lagi ya? (plis deh in, jangan pindah kerja mulu), mau kuliah S3 ah, atau obsesi kuliah S2 yg belum kesampean atau mau kuliah lagi dimana ya, mau cari beasiswa ah, dll (oke, pendidikan memang penting, but i guess i’m not gonna deal with this when i’m 35). Mau liburan kesana, mau jalan-jalan kesini ah, mau nyoba ini, itu, bla bla (Travelling tidak pernah menjadi hal yang utama dalam pencapaian hidup gue, jadi, kalo kebetulan sempet, ada budget, ada waktu, ada temen, ya berangkat, kalo nggak ya nggak apa-apa, i don’t wanna get dizzy about this stuffs). Intinya tidak lagi bertanya dan tidak lagi penasaran. Tapi sudah lebih ikhlas, lebih pasrah tanpa harus mengubur mimpi yang mungkiiiin saja (pasti kayaknya) ada yang belum kesampean. Just let it flow. Kira-kira itu motto gue nanti.

Opsi-opsi lain yang mungkin muncul, tapi belum sempat gue utarakan dengan jelas dan komprehensif, ke teman gue tadi malam adalah : bagaimana kalau semua penerawangan gue itu tidak sempurna, tidak terwujud semuanya?

Oke, begini mungkin penjelasannya.

Gue umur 35, menikah, punya anak. Trus suami gue menyarankan (semoga ya, menyarankan, bukan meminta) agar gue berhenti bekerja dan jadi Ibu Rumah Tangga. Apa jawaban gue? Ya never mind. Gue yang tidak bekerja saat itu, seharusnya menjadi perempuan yang survive dalam hal lain yang lebih sulit, yang impossible untuk saat ini, seperti ngurus anak, masak, belanja ke pasar, tapi juga bisa nyetir, nganterin anak sekolah atau ikut arisan, hal-hal yang nyokap gue lakukan selama hampir separuh usianya.

Kalau kejadiannya terbalik.

Gue, umur 35 tahun, belum menikah tapi punya karier yang bagus. Trus?

Ya jalani saja. Yang pasti saat itu seharusnya gue sudah punya banyak hal yang sifatnya settling. Tabungan yang lebih dari cukup, hobi-hobi yang masih bisa gue puaskan, teman-teman dan keluarga yang suportif, dan pengalaman-pengalaman baru. Tapi yang paling esensial adalah : mengejar tujuan mulia untuk menikah gue harapkan akan selalu tumbuh subur dalam hati gue saat itu. (Intinya, i’m not that super woman). 😀

Tapi, kalau boleh menjawab sederhana dan dalam konteks yang lebih santai,

Bagaimana gue melihat diri gue dalam 10 tahun ke depan?

Apapun itu profesinya, tapi gue ingin melihat satu momen, masa itu, gue duduk di sofa ruang keluarga, dengan dvd-dvd film di sekeliling gue, buku-buku, novel-novel dan majalah-majalah berserakan, remote di tangan kanan, telepon di tangan kiri. Mereka juga akan menemukan pulpen dan buku, atau sebuah laptop dan modem internet. Disitulah gue berada.

Bersama hal-hal yang gue harapkan masih bisa gue nikmati. More or less. With or without someone.

Film, Buku, dan Menulis.

Jadi, kita bertemu 10 tahun lagi, ya!

Advertisements

3 thoughts on “Sampai Jumpa, 10 Tahun Lagi

  1. haha..

    gue juga nggak pernah terpikirkan soal yang satu ini sampai beberapa hari lalu ketika ditanya oleh salah satu pejabat almamater kita itu.

    and I found myself smiling instead of answering the question :mrgreen:

  2. dulu…gue berandai-andai umur 24 tahun sudah menikah. Sekarang gue 25 tahun dan jangankan menikah, pacar aja nggak ada, hahahaha…
    tapi gue nggak ada masalah menghadapi itu semua…di saat teman-teman gue satu persatu mulai menikah dan memiliki anak, gue juga menjalani dan menikmati hidup gue dengan cara dan versi gue sendiri.
    Bahwa semua ada saatnya dan kita harus menikmati dan menjalankan semua tahap kehidupan kita dengan sebaik-baiknya…

    Jadi kalo ditanya 10 tahun lagi gue akan seperti apa…maka gue akan menjawab:

    “gue akan menikmati kehidupan yang gue jalani, apapun itu yang terjadi….” 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s