Jadi Perempuan, Enak atau Unik?

21 April kemarin, pas hari Kartini, pagi-pagi timeline Twitter gue udah dipenuhi sama beberapa teman yang ngucapin “ Selamat Hari Kartini”, buat siapa? pastinya buat yang cewek-cewek dong ya.. beberapa ada yang serius, ada yang inspiratif, trus ada yang sinis juga, sampe yang kocak-kocak juga ada. Seru juga, gara-gara Twitter, kita bisa celebrate satu event yang mungkin dulu-dulu nggak pernah kita dengung-dengungkan dengan lebay. Ya kan?

Pas sore-sorenya, mendekati  jam pulang kantor, belum lagi kerjaan gue yang saat itu lagi padet, , gue menemukan satu tweet yang disturbing bangeeet.. disturbing disini itu maksudnya bikin kepikiran dan penasaran pengen dibahas.

Jadi, ada temen gue, meng-RT-kan plus menjawab pertanyaan dari tweet sebuah radio swasta ternama Ibukota. Si Radio itu nulis gini :

“Menurut Anda, apa enaknya jadi perempuan?”

Untuk suatu tweet di jam pulang kantor, terus terang kesan pertama pas gue baca : “Damn, nih pertanyaan susah banget ya..” Tapi gatel pengen RT-in dan ikutan jawab.

Nah temen gue yang udah meng-RT duluan, punya jawaban yang (menurut gue) jenius, dia Cuma bilang 1 hal simpel , yakni : Bisa dapet ladies parking di Mall.

Nah sementara jawaban gue standar abis : “ Bisa dikasih kursi kosong kalo naek bis, (meskipun sekarang udah jarang sih) “

Nah, trus keesokan harinya, dan hari-hari berikutnya, iseng-iseng gue tanya ke beberapa temen kantor, bahkan sebelum gue nulis postingan ini, beberapa orang di YM gue sapa, dan gue adakan survey kecil-kecilan dengan pertanyaan yang sama. Surprisingly, jawabannya beda-beda. Jangankan jawaban, kesan mereka akan pertanyaan “ Apa enaknya jadi perempuan?” itu pun beda-beda. Ada yang menanggapi santai, ada yang sambil becanda, ada yang bilang susah banget. Ya gapapa, namanya juga pendapat bukan?

Berhari-hari setelah Hari Kartini, kadang gue mikir sendiri, apa ya, kok gue nggak kunjung dapet jawaban yang memuaskan hati, yang unik dan nggak standar, jawaban yang bakal bikin gue bilang : “Aha!! Bener banget!!” . Hingga akhirnya gue menarik kesimpulan singkat ala diri gue sendiri : Jadi perempuan itu (kayaknya) nggak ada enak-enaknya. Lebih banyak nggak enaknya daripada enaknya. Lebih banyak ribetnya daripada senengnya.

Oya, sebelum gue kemukakan reason gue, perlu diketahui bahwa gue punya penyakit sinis dan skeptis, jadi mungkin jawabanya akan sangat bernada negatif, harap maklum.

Pertama, secara biologis, cewek itu hampir sepanjang hidupnya akan habis untuk ngurusin menstruasi, PMS dan kebutuhan akan makanan yang kadang berlebihan, sementara di sisi lain, harus menampilkan fisik yang ideal (baca : langsing = harus diet). Trus, urusan fisik, cewek pasti akan ketemu yang namanya make-up, setomboy apapun dia, pasti sekali seumur hidup minimal akan ternoda oleh make-up. Dan buat gue, itu ribet, bukan enak.  Trus yang paling obvious adalah soal melahirkan. Ya gue memang belum ngerasain sih melahirkan itu kayak gimana, tapi kalau menurut gue, melahirkan itu bukan sesuatu yang enak dari menjadi perempuan.  Kecuali proses bikinnya kali yaa bo 😀 :D, *taaeee..* belum lagi 9 bulannya, trus pas bersalin, pas merawat anaknya, dan seterusnya. Keribetan itu akan terus mengejar si perempuan mungkin seumur hidupnya, seiring fase kehidupan manusia (anak masih kecil, mulai sekolah, anak remaja, menikah, punya cucu, belum lagi yang post-power syndrome, and the bla bla..perempuan pasti ikut-ikutan pusingin hal itu..)

Kedua, secara emosional, satu enaknya mungkin keleluasaan kita untuk menangis sepuas-puasnya tanpa perlu merasa malu. Tapi lebih dari itu, coba bayangkan hal-hal  seperti mengungkapkan perasaan sayang sama seseorang, kadang terhalang oleh sekat normatif bahwa lingkungan belum bisa menerima itu (baca : cowok). Oke, ini mungkin agak curcol ya, hehehe tapi menurut gue, ironisnya adalah ketika itu emosi positif, lingkungan membatasi (contohnya : mengekspresikan rasa sayang itu tadi), giliran emosi negatif, seperti sedih, kecewa, bahkan marah, orang-orang justru memaklumi, dan merasa bahwa : “ ya, namanya juga cewek, suka sensi, gampang marah, kan PMS, kan menopause, kan labil (ABG kaliii..) dst dst..” Kok gue menemukan sisi unfair yaa dalam hal ini? *apa otak gue lagi error?*

Intinya : tetep aja nggak enak.

Ketiga, dari segi perilaku, kenapa sih kita harus lebih diatur-atur? Nggak boleh gini, nggak boleh gitu. Kenapa nggak boleh merokok sebebas laki-laki, misalnya, kenapa kita (cenderung) susah banget jadi diri kita sendiri? Coba deh lihat, yang punya masalah sama body image, self esteem, itu kebanyakan perempuan (sok tau padahal males nyari data empiris), tuntutan sosial juga banyak ditujukan ke perempuan (if we did something wrong yang melanggar norma, dari norma agama sampe norma yunita *jayus*, pasti langsung dapet cap negatif, dan cap negatifnya pasti lebih banyak dari yang laki-laki peroleh jika melakukan pelanggaran yang sama).

Soal ladies first, ladies parking, dan ladies2 yang lain? Well, yaaa itu enak sih memang, tapi dengan priviledge itu sometimes bikin kita jadi depend on others, nggak bisa berkompetisi atau menunjukkan bahwa kita bisa setara dengan laki-laki, lagi-lagi ini pemikiran sarkastik-nya gue ya. Gue bukan yang pro feminis juga sih, gue masih butuh kok yang namanya bantuan orang lain (baca : pria) dalam hidup gue. Hanya saja diri ini agak tergelitik juga melihat kondisi sekitar gue, masih banyak temen-temen gue yang susah payah menunjukkan dirinya sebagai perempuan yang patut dihormati dan berhak atas kebahagiaannya sendiri. Ada yang sukses, tapi lebih banyak yang penuh usaha terus gagal.

At the end, gue memutuskan, mungkin lebih enak kalo pertanyaan dari radio swasta tersebut diatas, gue ganti dikit menjadi :

“Apa uniknya jadi perempuan?”

*ngeles mode on*

Ah, sudahlah, ini cuma sarana katarsis malam-malam aja kok.  Lumayan kan daripada penasaran berhari-hari, gue jadiin tulisan aja mendingan. Terima kasih atas kesempatan ber-katarsis ini.

See you around!

Advertisements

2 thoughts on “Jadi Perempuan, Enak atau Unik?

  1. yg pasti menjdi wanita itu merupakan anugrah yg paling hebat dari tuhan!aku bangga menjadi seorang wanita,dimana kita melahirkan anak2 yg akan menjadi penerus bangsa!slam kenal sist!

  2. kok kesannya gag terima banget jadi wanita ya?
    hhmmm… kalo enaknya apa gag tau juga wong aku laki-laki.
    kalo enaknya dimana…. (ha ha guyon!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s