Tentang Skripsi, Sidang dan Semua yang Tidak Mudah Itu.. (Part 1)

Waktu gue kuliah dulu, sering banget gue denger stigma yang berkembang di sekeliling gue, katanya : mahasiswa Atma Jaya itu gampang masuk, susah keluar. Apalagi anak-anak Psikologi-nya. Nggak ngerti kenapa anggapan itu familiar banget di telinga gue, dan menemani hampir sepanjang perjalanan perkuliahan selama 5 tahun di Atma Jaya.

Benarkah demikian?

Well, gue nggak tau ya data empirisnya gimana. Tapi kalau boleh menceritakan apa yang gue lihat dan apa yang gue alamin sendiri, mungkin ada benarnya. Dulu nih, pas gue baru-baru kuliah, tahun 2003, gue masih suka bertemu senior-senior gue yang angkatan 1998, 1999 bahkan 1997. Tidak banyak memang, dan tentunya bukan berarti mereka nggak pinter atau gimana sampe belum lulus2 di tahun 2003 itu, pasti ada lah ya alasan-alasan tersendiri kenapa mereka masih di kampus. Pikiran polos gue saat itu adalah : Wah, bakal lama nih gue kuliah Psikologi, liat tuh, mereka aja (baca : senior-senior gue tersebut) masih ada yang berjuang menyelesaikan kuliahnya, gimana gue nanti? Pasti makin susah pelajaran, ditambah saat itu kurikulum baru diterapkan di angkatan gue. Kehadiran senior-senior itu sedikit banyak menjadikan plecut tersendiri buat gue, “Ok, gue harus survive disini, gue harus serius dengan kuliah gue, dan gue harus bisa lulus dengan selamat dan terhormat dari kampus ini”.

Semester demi semester gue jalanin. Ada yang nilainya sempurna, beberapa yang lain harus gue ulang dan tak segan menunggu sampe dibuka semester berikutnya. Dulu, (dulu yang gue maksud disini masih sekitaran 2003 – 2007 lho ya), tidak semua mata kuliah dibuka tiap semester, ada yang hanya dibuka per semester genap, atau per semester ganjil. Hiyaaak, itulah plecut kedua yang kembali menegaskan bahwa : “Oke, tidak akan mudah keluar dari Psikologi Atma Jaya.”

Sampe akhirnya gue seminar dan mulai menyusun skripsi.

Sebelum gue cerita bagian ini, gue mau intermezzo sejenak mengapa gue angkat topik tentang lulus dan skripsi ini. Jadi, suatu hari (masih di tahun 2010), ada rekan sesama Psikologi Atma Jaya (pastinya adek kelas alias junior gue lah ya, tapi gue nggak mau pake istilah itu); ia sedang mengumpulkan data untuk skripsinya. Bukan cuma 1 orang, tapi beberapa orang sempat mengontak gue (secara langsung / tidak langsung), untuk menjadi responden kuesioner skripsinya. Ada yang gue bisa isi, ada yang tidak. Yang tidak ini biasanya karena gue nggak memenuhi kriteria subjeknya. Yang jadi concern gue bukan karena gue merasa terganggu apa gimana ya, bukan, bukan itu.

Yang gue wondering sampe hari ini sebenernya simpel, mereka menggunakan metode-metode yang mutakhir dalam mencari subjek-subjek penelitian. Ada yang via message Facebook, di send all (dan ke-send ke gue, ntah sengaja atau tidak tuh ya, jadi gue ikutan GR berasa dilibatkan dalam penelitiannya), trus tanya2 via YM (ini masih gapapa ya, cuma aneh aja sih di gw), hingga RT Twitter berkali-kali mengirimkan link untuk gue klik dan isi kuesionernya. Wow, mudah sekali yaaa kelihatannya. Dan perkembangan teknologi telah begitu pesatnya sampai suatu hal yang dulu gue anggap susah banget bisa menjadi (tampak) demikian mudahnya. A glimpse of an eye, kira-kira begitu.

Gue pas nulis posting-an ini, lagi nggak buka buku Metode Penelitian, atau Buku Panduan Skripsi dan sejenisnya. Gue nggak tau, apakah metode pengambilan data via jejaring sosial itu sebenarnya valid atau tidak. Etis atau tidak. Valid dan etis, dua hal yang selalu digaung-gaungkan oleh pembimbing skripsi gue saat itu, Mbak Aya, saat gue memulai seminar dan skripsi gue sama beliau. Membaca satu demi satu timeline, status YM, status FB, message FB, dll dari teman-teman yang sedang membuat skripsi dan mengumpulkan data skripsinya itu, seolah membuka kenangan (pahit manis) gue saat dulu melakukan hal yang sama, tanpa FB dan Twitter tentunya 😀

3 Semester skripsi gue, gue selesaikan. 1 Semester seminar, 2 semester-nya total untuk skripsi. Topik skripsi gue bukan yang ideal, bukan topik impian yang dulu pernah gue khayalkan (See? Bahkan gue pernah berkhayal gue mau pake topik apa buat skripsi gue). Keinginan gue cuma satu, gue mau subjek gue itu remaja. Alasannya shallow banget : gue nggak mau ribet nyari-nyari subjek, remaja kan banyak tuh yaa dimana-mana, hahaha. Takdir mempertemukan gue dengan Mbak Aya. Disaat temen-temen yang lain masi bingung sama topik seminar, masih ngubah-ngubah judul, pindah pembimbing, gue malah melaju mulus nyaris tanpa hambatan (dalam hal mempertahankan judul skripsi sampai meja sidang). Selebihnya, jangan salah, dari batu kerikil sampe batu kali mencoba menghalangi jalan gue menuju meja sidang, bahkan saat hari H gue sidang. Adaaa aja, dari mulai teori salah, bahan referensi kurang, SPSS nggak ngerti, nyari subjek masih juga repot, birokrasi sana-sini, hingga tertundanya ujian sidang skripsi gue karena gue masih ada sisa 1 mata kuliah sementara skripsi udah kelar. Berikut gue coba gambarkan batu-batu penghalang yang harus gue tempuh dalam proses menyelesaikan skripsi :

1. Proses bimbingan

Tidak pernah sekalipun Mbak Aya mau menerima bimbingan via e-mail atau dengan soft-copy. Beliau juga tidak mau memberi feedback via e-mail, atau harus memberikan comment2 dalam format MS Word ke gue. Wah, BORO-BORO. Setiap mau feedback, gue harus nge print tiap bab dan taro di meja dia, lengkap dengan catatan bimbingan ke berapa dan revisinya. Waktu masih bab 1-2 sih masih gapapa ya, begitu udah 5 bab, mau mampus deh, itu berarti gue harus nge-print ulang kelima bab, mulai dari bab 1 revisi hingga bab terakhir. Ngerti kan maksudnya? Benar-benar boros kertas dan nggak eco-green! Hahaha. Dan setiap selesai di-feedback, kertas itu gak pernah bersih, pasti berakhir dengan lecek karena beliau lipat-lipat, dan pastinya penuh coretan komentar dia di hampir semua halaman. Ongkos terbesar gue waktu itu adalah buat tinta printer dan beli kertas A4. Belum lagi, susahnya bikin janji buat bimbingan, nongkrongin ruangannya saking sms gue gak dibales-bales, bela-belain ke kampus eh ketemunya setengah jam doang nggak nyampe. Kalo yang ini hampir semua ngerasain kali ya hehehe

2. Pengambilan data

Nah ini dia. Dulu tuh udah ada FB. Tapi gue bingung, kenapa gue nggak pernah make fasilitas FB (atau malah FS) untuk ngambil data. YM pun juga nggak. Subjek gue adalah remaja SMA laki-laki. Kebayang kan, harus berurusan dengan birokrasi SMA yang berbelit-belit. Ada yang lancar, tapi banyakan sih ribet meski akhirnya diijinin juga. Mungkin pilihan subjek gue masih lebih mudah ya dibanding temen-temen gue yang lain, tapi namanya juga subjek, beda-beda karakternya. Ada yang ngasal isi kuesioner gue, ada yang emang serius. Belum lagi harus bawa-bawa setumpuk fotokopian kuesioner untuk gue sebar, plus reward-nya, keliling Jakarta nyari-nyari SMA yang pas dengan kriteria penelitian gue. Tetep aja pengen nangis. Ini tahap pengerjaan skripsi gue yang terberat. Justru bukan pas ngitungnya, bukan pas finishing touch-nya, tapi pas pengambilan data. That’s it. Tahap inilah rasa gengsi dan rasa takut gue kalahin, rasa sabar gue banyakin. Pencarian subjek akhirnya dihentikan oleh Mbak Aya sendiri yang juga heran, kok gue keluyuran mulu nyari subjek dan langsung nagih untuk segera diolah datanya. Kalo nggak distop ama dia, yakin gue masih nyari2 subjek sambil cranky2 nggak jelas saking nyaris putus asa-nya.

Yang terakhir sebenernya adalah soal sidang skripsi gue. Tapi topik ini punya cerita sendiri yang nggak kalah panjangnya, jadi mending gue simpan aja buat kapan-kapan ya 😀

Nah balik lagi ke concern gue soal pengambilan data mutakhir via jejaring sosial itu, gue jadi inget kalo dulu, Mbak Aya selalu mengingatkan berkali-kali soal etika dan validitas pengambilan data. Pertanyaan simpelnya :

“ Pantas nggak sih? Sopan nggak sih? Apakah demikian kamu memperlakukan subjek-subjek kamu, In?”

begitu beliau selalu menjelaskan dengan nada yang khas, hahaha. Karena didikannya, gue tanpa sadar menganut faham ini : 1 orang subjek adalah harta berharga, jadi gue harus perlakukan layaknya raja. Hormati, turuti dan layani. Their rules, not my rules. Disinilah arti beratnya skripsi gue itu gue peroleh. Memohon-mohon remaja belasan tahun itu mengisi kuesioner gue ternyata nggak mudah, but that’s the REAL challenge.

Sekarang? Gue nggak tau ya proses detailnya kayak apa, apakah teman-teman yang skripsi saat ini ditekankan hal yang sama kayak gue dulu, apa nggak, sama pembimbingnya. Tapi dengan teknologi yang mempermudah segalanya, etika penelitian kadang terlupakan. Simpel, tapi mungkin sekali menyinggung si subjek. Kalau gue nih, minta tolong sama orang untuk jadi subjek, dan minta terima kasihnya, LISAN itu wajib. Kata tolong, maaf dan terima kasih bukan kata-kata yang tepat untuk sekedar diucapkan via internet. It’s beyond everything. Itu pegangan gue ya. Jadi, ketika ada yang menghubungi via jejaring sosial, (hanya) via jejaring sosial, ada pertentangan batin yang gue alami. Perasaan simpati karena gue pernah di posisi mereka, hingga akhirnya mau membantu, namun juga ada perasaan nggak rela membiarkan mereka mendapatkan data dengan begitu mudahnya, lalu gue dilupakan. (bukan berarti gue pamrih atau gila popularitas ya, but you know what i mean kan??) 😀

Tapi ya itu lah,ke-wondering-an nya gue ini hanya berakhir di angan-angan saja. Gue nggak coba untuk memecah tanda tanya itu, ah sudahlah, mungkin gue yang berlebihan ya. Mungkin jaman memang sudah berbeda. Mungkinnnnn, jadi sarjana di Psikologi Atma Jaya gak sesusah anggapan gue dulu. Kalo sekarang mungkin (hanya) keringat dan air mata, kalau gue dulu sampe darah dan prinsip hidup gue korbankan (oke, ini agak lebay), hahaha.

And till now, me still wondering. But, would you please just let me know if i’m not alone. 🙂

*spesial buat pejuang skripsi Psikologi Atma Jaya 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Tentang Skripsi, Sidang dan Semua yang Tidak Mudah Itu.. (Part 1)

  1. naomi says:

    Bener bgt in. Gue suka nerima link untuk ngisi kuesioner dan biasanya ga gue isi. Soalnya gue merasa dijadikan data doang. Sangat ga etis menurut gue. Hm, wondering msh ada kuliah kode etik ga sih?

    • kuliah kode etik sih masih tetep ada mi, cuma mungkin karena cuma 1 sks, jadi agak2 forgettable gimana gitu.. hehehe..
      gue selalu merasa gak enak-an minta bantuan orang lain untuk jd subjek penelitian gue, tapi ada enaknya jg gak enakan, so gue jd lebih hati-hati dan lebih aware dalam memperlakukan mereka. you know wht i mean? hahaha 😀

  2. Dear Iin, hehehe…. Topik yang menarik 🙂
    Jadi mengenang masa pengerjaan skripsi dulu 🙂 Aku dulu subjeknya guru-guru sekolah, jadi iya, ngurus-ngurus surat ijin juga, keliling Jakarta nyari sekolah yang sesuai dengan kriteria, walau sering ga puas dengan hasil kuesionernya. Berjuang bangun pagi-pagi karena sekolah jam aktifnya pagi, terutama sekolah negeri, guru-gurunya masuknya ga tiap hari, hahaha…. Berjuang dengan ngumpulin data, ngolah data, sampe bingung gimana bikin diskusi dan saran….
    Pembimbing Skripsi waktu itu Mba Retha dan Mba Ina 🙂 Beliau berdua sangat sangat mendukung dan jadwal ketemuan cukup rutin, seminggu sekali, jadi lumayan termotivasi untuk membuat progres seminggu sekali 🙂
    Well, aku menikmati masa-masa pembuatan skripsi, walau stress, tapi ada rasa bahagia bisa menghasilkan sesuatu yang berguna (mungkin) bagi dunia pendidikan, setidaknya buat kampus dulu. Ga pernah kebayang bakal ada nama ku di perpustakaan Atma Jaya, wahahahaha….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s