Tentang Skripsi, Sidang dan Semua yang Tidak Mudah Itu.. (Part 2)

Sebuah percakapan di suatu malam dengan seorang teman :

Gue (G) : Eh, si Cinta (temen kita), udah sidang ya kemarin? Udah lulus ya dia, akhirnya..” (Cinta, temen satu angkatan, bukan nama sebenernya)

Temen Gue (TG) : “ Iya, akhirnya lulus…”

G : “Trus gimana sidangnya, siapa yang nguji, berapa lama, apa aja yang ditanyain pas sidang?” *interogasi mode on*

TG : “ Nggak lama kok, yang nguji Mbak X dan Mbak Y, pertanyaannya juga seputar metode penelitian, masalah penelitian, yang gitu-gitu deh. Statistik nggak ditanya, dan si Cinta udah tau sih, soale pas gue liat skripsinya, gue udah wanti2 dia beberapa pertanyaan yang kayaknya bakal ditanyain, eh ternyata bener.. ada yang bener-bener ditanya pas sidang..”

TG menyambung kalimatnya lagi :

“ Simpel banget In, bahkan sedikit lebih aman daripada gue dulu. Kan tau gitu gue juga gak usah nunda-nunda sidang kayak dulu, ternyata sidangnya gitu doang..”

Dan gue menanggapi dengan  :

“ Eh bow, perasaan sekarang sidang skripsi nggak semenakutkan dulu ya, ya nggak sih? Lo ngerasain sendiri kan? Kayaknya sekarang lebih mudah aja gitu dari cerita orang-orang..”

Percakapan di atas terjadi beberapa hari yang lalu, kurang lebih kalimatnya ingin membahas (lagi-lagi) sedikit fenomena yang gue rasakan (dan mungkin si temen gue juga ikut rasakan) terhadap salah satu tahapan hidup yang menegangkan, yakni : sidang skripsi. Gue sering denger kabar, mostly dari FB, sudah banyak teman-teman psikologi yang lulus. Cuma yang gue udah jarang denger adalah: kesan-kesan dan (lebih tepatnya) ketakutan mereka akan kesulitan menghadapi sidang itu sendiri. Kalo hasil pembahasan gue dan temen gue tercipta 1 kesimpulan singkat : kalo udah sidang, udah pasti lulus, so mungkin mereka jadi agak lebih release emosinya dan nothing to lose.

Konon kabarnya, ada beberapa perubahan dalam mekanisme mengumpulkan skripsi dan menentukan suatu skripsi layak disidangkan atau tidak di almamater gue itu. Salah satunya kita gak akan menemukan lagi mahasiswa yang nunggak skripsi berbulan-bulan, ber semester-semester gak kelar-kelar, karena ancamannya akan diputus oleh pebimbingnya dan suru cari topik baru plus pembimbing baru dan mulai dari awal lagi. Oke, seems good rules, jadinya mahasiswa lebih terpacu dan seolah-olah ada jam pasir yang terus berjalan hingga di satu titik, mereka mau nggak mau harus maju sidang, atau mulai lagi dari awal. Gue setuju dengan aturan ini. Eh, tapi 50 % doang. 50% nya lagi lebih ke prinsip idealisme dan values gue sama yang namanya attachment emosional dengan pembimbing dan topik yang dikerjakan.

Gini, gue percaya, bahwa sesuatu yang udah jadi milik kita lamaaa banget, kalo sampe diperebutkan, kita nggak akan tinggal diam dan akan memperjuangkannya sampai titik darah penghabisan. Begitu juga dengan skripsi. Semakin lama kita mencoba memahami penelitian kita, harusnya kita makin paham dong, dan pasti analisa kita akan semakin kuat, nah nggak adil banget buat temen-temen yang (mungkin) effort-nya lebih, sehingga butuh waktu lebih lama, tapi ditengah jalan diputus begitu aja nggak bisa lanjut. Padahal dia udah paham banget, attachment dia sama topiknya udah kuat banget. Itu yang gue rasakan dulu. Nah efeknya apa? Efeknya kalo udah gini, gue wondering : Lantas apa bedanya skripsi dengan tugas-tugas paper kuliah lain? Sidang tidak lagi semenakutkan dulu karena “ Ah, udah pasti lulus gini”.

Pas gue dan temen gue lagi sama-sama bikin skripsi, kami sekaligus jadi saksi temen-teman kami lulus satu demi satu. Kadang kami temani dan saksikan prosesnya (walau pake acara ngintip-ngintip karena bukan sidang terbuka). Kami lihat proses deg-deg-annya, baca-baca skripsi, latihan persentasi biar nggak grogi, cek and ricek penulisan, power point musti perfect, dan sebagainya. Beberapa kali kami menemukan kejadian paling nggak enak, temen kami udah di sidang, ternyata belum bisa di luluskan karena satu dan lain hal. Sidangnya musti diulang, iya, literally diulang. Skripsinya musti di revisi, dan kita terperangkap dalam situasi nggak enak ngeliat perubahan wajah temen kami, yang udah tau pasti kecewa, sedih, tapi kami nggak berani hibur dia, karena kebayang beratnya. Kebayang nggak rela-nya.

Pesan moralnya : Bisaaa banget lhoo di –nggak lulus-kan meski udah depan meja sidang.

Kami berdua juga jadi saksi lamanya menunggu proses sidang itu. Gue rekor terlama nungguin temen sidang itu 2,5 jam. Untungnya lulus. Ada juga yang cuma setengah jam, ternyata malah gak lulus karena kesalahan fatal penelitian dan musti ngulang lagi. Wah macem-macem perasaannya. Saat itu kondisinya gue belum lulus, so kebayang banyak banget kejadian-kejadian yang memilukan yang bikin gue takut ama yang namanya sidang. Pertanyaan-pertanyaan yang ditanya sama pengujinya juga macem-macem. Aneh-aneh. Bahkan gue dulu, slide persentasi pun ditanyakan. Paragraf yang dianggap aneh, ditanya juga, diminta klarifikasinya, maksudnya apa, bla bla.. Stress abis dan bawaannya udah pasrah nggak lulus deh nggak lulus deh.

Cerita-cerita pasca sidang, jaman itu menjadi cerita yang paling seru untuk dibahas. Ada enak nggak enaknya juga sih menjadi orang-orang yang lulusnya nggak cepet2 amet. Walaupun stok traumanya tebel, tapi bisa punya banyak referensi pertanyaan yang bakal ditanya pas sidang, persiapan kompre teori Kepribadian apa aja yang akan keluar, sampai tips-tips tak tertulis tentang sikap dan pembawaan diri saat sidang. It’s sacred. Kayaknya momen yang sakraaaal  sampe kalo ketinggalan berita dan tips itu berasa nggak gaul banget, hahaha.

Nah pas denger cerita soal Cinta yang lulus itu, bukan soal Cinta-nya sih ya, yaa mungkin dia beruntung gak ribet sidangnya, tapi memikirkan apakah ritual-ritual ke-neurotik-an yang dulu gue dan temen-temen gue lakukan masih dilakukan oleh teman-teman pejuang skripsi saat ini? Masihkah ada segelintir ketakutan mereka, kalo mereka bisa aja nggak lulus? Kepikiran kah mereka untuk belajar statistik, les SPSS, latihan persentasi dan membahas teori kepribadian semalam suntuk saking ngerinya semua pertanyaan akan keluar? Masih nggak ya..

Dulu, pas gue sidang, i feel so closed to death karena salah satu penguji gue bilang : judul kamu salah!. Haa, mati deh, nggak lulus itu mah, pikir gue saat itu. Terus pas kompre kepribadian, ada beberapa pertanyaan yang gue bener-bener speechless gak bisa jawab, dan disaksikan oleh 3 dosen lain di ruangan itu. Belum lagi argumen-argumen gue yang sering nggak nyambung, agrrhh, adaaaa aja hal-hal tak terduga.

Kalo kata temen gue, mungkin itu kompensasi dari proses pengerjaan yang memang dari awal sudah tidak mudah itu tadi (baca postingan sebelumnya). Bukan berarti yang sekarang skripsinya cepet, singkat wusss wuss langsung sidang itu gak menguasai skripsinya ya, tapi istilah no pain no gain, kala itu, emang bener banget! Gue mungkin nggak akan panjang lebar menceritakan kisah sidang gue, gak akan repot-repot mengingatnya dan menyimpan kenangan itu dalam lapisan terdalam otak gue, kalau proses sidangnya sendiri nggak nangis-nangis darah. Ya kan? Pada akhirnya gue bisa bangga, gue melewati itu semua dan mensyukuri semua tahap-tahapnya. Gue bisa buka-buka lagi skripsi gue dan mengagumi lembar demi lembarnya sambil bilang : “Ih, bisa yaa gue nulis kayak gini, dulu..”

Gue, yang kapasitas otaknya biasa-biasa aja, lulus kuliah juga gak  pas 4 tahun, skripsi juga gak keren-keren amet, masih mengenang prosesi sidang ini sebagai salah satu achievement tertinggi gue. Kalau dosen-dosen itu tidak memberikan plecut-plecut pertanyaan yang nyebelin, gue memang akan lebih lega, tapi pasti kepuasannya berbeda.

Beruntung mereka yang menikmati proses itu, membangun motivasinya sedemikian rupa supaya cepet kelar dan menuntaskan perjuangan mereka di kampus. Tapi kalau motivasinya hanya sekedar lulus, sayang banget. Gue rasa, bagian terindah saat menjadi mahasiswa itu, adalah saat mereka dinyatakan lulus, dan mereka mengerahkan semua kemampuannya untuk itu.

Thanks God, gue melewati pahit manisnya. Keretanya ekonomi nggak apa-apa, tapi masih bisa menikmati pemandangan. Kalau dulu ganti kereta ekspress, mungkin lebih hepi karena cepet sampe di tujuan akhir, tapi.. eh eh.. lewat mana aja ya gue barusan, kok bisa lupa.. uppsss.. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s