Sedikit Renungan dari Ever After (1998)

Prince Henry:
Do you really think there is only one perfect mate?

Leonardo da Vinci:
As a matter of fact, I do.

Prince Henry:
Well then how can you be certain to find them? And if you do find them, I mean really the one for you, or do you only think they are, then what happens if the person you’re supposed to be with never appears, or she does but you’re too distracted to notice?

Leonardo da Vinci:
You learn to pay attention.

Prince Henry:
And let’s say… God push two people on earth and they are lucky enough to find one another, but one of them gets hit by lightening, well then what, is that it? Or perchance you meet someone new and marry all over again, is that the lady you’re supposed to be with, or was it the first? And if so, when the two of them are walking side by side, were they both the one for you and you just happened to meet the first one first, or was the second one supposed to be first? And is everything chance? Or are some things meant to be?

Leonardo da Vinci:
You cannot leave everything to fate boy. She’s got a lot to do, sometimes you must give her a hand.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Semalam di Onrop!

Oke, sebelumnya gue ingatkan ini akan menjadi salah satu posting ternorak gue. Hihihi.

Jadi ceritanya nih, semalem gue dan temen gue, si Tika, nonton pertunjukan musikal-nya Joko Anwar, judulnya ONROP! Musikal, di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki. Sebenernya awal mulanya itu karena iseng, trus si Tika ini tiba-tiba semangat banget pengen nntn, alhasil gue terpengaruh juga ikutan nonton, meskipun tiketnya hikssss buat mahasiswa mahall banget (waktu pas beli, gue belum tau kalo ada promo buy 1 get 1 buat mahasiswa), belum lagi pas gue tanya sana-sini, di ticket box udah pada abis (gue browse tiket sejak 3 minggu sebelum hari H), dan kita gak dapet kelas termurah, namun karena keteguhan hati, walopun abis itu jual diri, akhirnya kebeli juga Silver Class Front Row! Hahahahaha mantab. Maka tibalah kemarin kami berdua berangkat ke TIM, standby sejak 3 jam sebelumnya demi demi demi Onrop!.

The Place, The Crowd, The People

Gue baru pertama kali ke Teater Besar TIM (kayaknya baru yah bok gedungnya, ya secara ke TIM aja jarang-jarang). Gedungnya kerennnnnn! Seneng deh di Jakarta ada gedung khusus buat teater sekeren itu, kayak gedung opera di film-film (norak alert #1). Ibaratnya ini versi gress-nya GKJ lah ya. Semoga awet2 nih gedung. Trus orang-orang yang dateng mayoritas dress-up banget, wangi2, sementara gw n Tika udah dekil karena langsung dari Depok, gue lagi, cuma pake jins dan blus biasa. Hiks. Tapi ada bbrp muka familiar (baca : artis) yang dateng sih dan itu cukup menghibur kami secara kami berdua sempet nunggu lama sebelum show dimulai.

Oya, kami duduk paling depan, trus depan kami tuh udh orkestranya dan langsung panggung. Bisa cuci-mata ke mas-mas orkestranya yg lucu2 mukanya dan maennya keren2. Trus saking deketnya,gue bisa liat keringetnya si Ario Bayu, salah satu pemeran utamanya.  Hahahahaha (norak alert #2).  Pokoknya excited banget pas udah duduk di kursi kami itu. Bagian belakang penuhhhh (sepertinya sold out ya), dan gue gk bisa sering2 nengok ke belakang karena jarak antar kursi dan antar baris itu deket (takut ketauan noraknya).

The Show!!!

Onrop! Musikal sendiri sebenernya lebih ke cerita satir sih, dikemas dalam bentuk love story, dan musikal. Semua lirik yang bikin Joko Anwar dan ga bisa dipungkiri, dia bener2 jenius dalam memadu akting, lirik lagu dan stage panggung yang oke plus enjoyable. Cerita dasarnya sih berkisah tentang sepasang kekasih, yang cowoknya itu penulis, trus karena tulisan dia dianggap melanggar UU Pornografi (dibilangnya Onrop-grafi), maka dia dipenjara dan dibuang ke Pulau Onrop. Nah disana dia bertemu dengan “kebudayaan” baru yang jauh berbeda. Trus gimana caranya dia bisa bebas dan kembali bersatu dengan kekasihnya? Naaah kira2 gitu lah ceritanya. Tapi keseluruhan isi adalah kritik Joko Anwar terhadap negara ini. Dia mengangkat isu-isu politik, hukum, current issues kayak Obama, Gayus, Sri Mulyani, dll ke dalam jokes-jokes yang cerdas. Yang paling catchy adalah jokes dia tentang isu seksualitas, mulai dari pornografi, seks, dan homoseksual, bener-bener kerennnn dan yg terpikir di gue adalah : Gila ya, kepikiran aja sihnih Joko Anwar!

Yang kerennnnnnnn banget adalah dance2nya, trus tata panggung dan lightingnya. Dekornya aneka rupa warna desain wahhh kerenn lah topp! Membawa aura positif dan mengibur banget. Cuma mungkin kekurangan yang paling ketara adalah pas mereka nyanyi rame2, lirik lagunya kurang kebaca jelas di gue (dan Tika juga merasa hal yang sama), ditambah iramanya cepet dan suara orkestra yang suka berasa lebih kenceng, alhasil gak ketangkep jelas itu liriknya ttg apa sih. Terutama di paruh pertama drama musikal tersebut (drama musikal ini dibagi dalam 2 babak, diantaranya diselipkan 20 menit istirahat). Pas paruh kedua agak lebih baik sihh, dan juga lebih gokilll aksi panggungnya. Gue kagum dan  salut terutama sama Ario Bayu yang berakting jadi banci disana… hahahaha kerennnn! Suka pas dia nyanyi dan nari di satu adegan yg rada gelap lampunya, hihi badannya bagus dan lentur euy. Pas closing juga penonton kasih standing ovation buat cast Onrop, gue dan sebagian besar penonton tepuk tangan paling kenceng buat Ario Bayu! Wah dia bener-bener bintang panggungnya deh.

Oya, hmm soal endingnya gimana, actually it’s a happy ending, Cuma mungkin buat bbrp orang agak gak jelas (apaaaa sih), gitu karena ketutup dance yang heboh. Tapi overall, Onrop! Musikal itu pertunjukan yang outstanding, menghibur dan jenius. Bener2 keliatan kalo mereka siapin dgn amat matang. Dan Joko Anwar berhasil menyampaikan “pesan dan uneg-uneg” dia terhadap negeri ini. Pria yang cerdas! Salut!!

Theeee Excitement

Hihi. Ini akhirnya gue kesampean foto ama Joko Anwar sebelum show. Ketemu di pintu keluar, dan sebenernya bisa banget buat dibajak2 foto dan ngobrol bareng. Bener2 kebetulan yang menyenangkan!. Langsunglah gue minta foto bareng, dan dia tanya, apakah gue susah dapetin tiketnya, trs gue bilang nggak dan gue cerita gw dpt duduk paling depan trus kira2 enak gak.. gitu2.. ramah, dan seruuu.. hwaaa pengen gue culik dan bawa pulang! (soale charming dan huge-able alias gedee euy badannya, dan huggable, alias enak buat dipeluk2! Hahahahhahahahahaha) norak alert #3.

I’m soooo happy. Kayak mimpi.  Paginya ama Tika kami berdua bertanya-tanya : Eh, beneran kan ya semalem kita abis nonton Onrop?

Hihihi. Pertunjukan bagus memang meninggalkan kesan yang mendalam.

A must see!

Inspirasi di Ujung Malam

Aku merasakan sesuatu, ucapku pada malam yang membisu
Harapku ada suara lembut Ibu, atau sekedar peluk sahabatku
Untuk sekedar bertanya, ” Rasa apakah itu?”, dan mendengarku sambil menanti malam berlalu
Mengurai tanya yang sama, satu demi satu

Ia menggelisahkanku,
Karena tak setiap malam kutemui ia mengetuk pintu
Karena tak setiap lamunan ia menyusup menemaniku
Kuingin hari ini, ia janjikan nanti
Kusangka ia ingkari, ia datang menepati, seolah tahu ada gundah yang menghantui

Ia menceriakanku,
Dalam satu persimpangan jalan, sapanya hangat menyambutku
Genggam tangannya mungkin belum milikku, tapi hadirnya adalah senyumku hari itu

Ia mungkin sudah memenangkanku,
Jauh sebelum pesan-pesan darinya terbaca olehku
Mengajakku membagi sepi yang sama, dia dan aku
Membawaku sejenak ke dalam luas langit khayalnya, menggugah kalbuku

Lalu bagaimana,
Jika ternyata sorot mata itu bukan tertuju hanya untukku?
Jika sikapnya hanya kebetulan dan semu, tanda begitu besarnya harapku?
Akankah ia akan menangkap rasa malu dalam semburat merah wajahku?

Masihkah ada tempat untuk rahasia kecilku?
Ketika lembar tulisan hanya memicu ragu
Dan telinga sahabat tak hadir selalu

Mungkin benar kata mereka yang kutemui dulu,
Selalu ada sudut hati yang belum terisi biru
Simpan baik-baik rahasia kecilmu disitu
Hingga kelak tiba masa, untuk kamu ceritakan dalam lagu
Atau kamu relakan dalam kering debu…

Jakarta, 12 November 2010

Posted with WordPress for BlackBerry.

The truth is : I don’t know her that much.

Mungkin gue nggak banyak cerita ke orang-orang tentang.. errr.. seperti apa sih hubungan gue dengan adik gue? Nggak pernah cerita yang sekarang ini gue simpulkan sebagai pertanda bahwa emang dari dulu ternyata kita tuh nggak yang deket-deket amet. Gak deket-deket amet itu beneran gak deket yang yaaa.. ternyata kita, selama ditakdirkan sebagai saudara sekandung, ternyata malah lebih deket ke sahabat kita masing-masing daripada ke sibling kita sendiri, dan yet somehow saat ini ketika gue menyadari itu, kok gue berasa sedih bener yak..

Jadi, gue ini kan ceritanya anak pertama nih, punya adek  1, cewek, yang usianya 3 tahun lebih muda dari gue. Kalo lo tanya orangnya kayak gimana, intinya dari segi fisik aja dia beda bener ama gue. Badannya lebih besar, trus muka nggak mirip (lebih tepatnya dia mirip nyokap dan gue nggak ngerasa mendekati mirip nyokap/bokap), trs rambut dia lebih keriting, dan kalo dari segi kelakuan, naaaahhh gue gak tau deh tu, kayaknya sih beda, meskipun kadang-kadang dia menunjukkan kecenderungan emosi yang fluktuatif kayak gue.

Gue gak tau ya, ini ada penelitian ilmiahnya apa cuma perasaan gue doang, tapi gue baru berasa ada sebuah hubungan kedekatan emosional dengan adek gue tu ya baru belakangan ini. Maksud gue iyaaa, di umur segini. Dimana gue udah kuliah, lulus, kerja trus kuliah lagi, dan dia dari kuliah, lulus dan sekarang lagi giat-giatnya exploring new things (termasuk cari2 kerjaan). Fenomena psikologis ini dimulai gue duga saat dia akhirnya balik ke rumah (for good) karena uda lulus kuliah dan berhenti nge-kost di Depok. Mulailah dia dengan kesibukannya sebagai anak baru lulus, leyeh-leyeh nonton dvd, dan mau nggak mau gue jadi suka nonton dvd jebe ama dia, trus dia mulai asik sendiri bikin CV, nyari informasi kerjaan sana-sini, yang amazingly, dia ternyata nggak sebanci gue dulu tuh pas nyari2 kerja (semua dicobain, tes A ikut, interview B dateng, jobfair C hadir), dia lebih selektif dan yaa mungkin karena background ilmu dia lebih spesifik kali ya.

Sejak di rumah itu lah, gue mulai merasa peran gue dibutuhkan sebagai kakak buat dia. Dan itu sering membuat gue terharu diem-diem lho. Maksudnya miris aja gitu. Ngeliat nih adek gue pernah punya rutinitas tiap Sabtu pagi beli koran yang ada iklan lowongan kerjanya, cuma buat browsing lowongan bow, dan dia naik sepeda tuh ke komplek sebelah (secara tukang koran jarang liwat komplek gue). Begitu sampe rumah, dia baca iklannya satu-sau, trus dia tanya ke gue, “ eh ini kerjaan apaan ya? Ini perusahaan apa ya? Menurut lo kalo gue apply disini gimana? Trs kalo gue milih posisi ini job desc gue ngapain aja?”, blablabla, pertanyaan2 standar fresh graduate gitu deh. Ternyata itu efeknya mengharu biru lhoooooh di gue. Ibarat seorang Ibu yang udah lama punya anak trus anaknya akhirnya bisa manggil dia Ibu, ( gue gak tau sih apa ini perumpamaan yang tepat), tapi ngertiii kan maksud gue? Gue merasa peran gue dibutuhkan sebagai kakak, itu pertama. Kedua, gue merasa ada refleksi diri gue dulu di adek gue saat ini. Momen-momen dia cari kerja dan “ya ampuuunn gue kan dulu gini juga.. kok keliatan sedih bener ya, nasib nyari2 kerjaan, ribet ama CV, lamar sana sini..” dan gue dulu bahkan gak punya siapa-siapa untuk gue tanya, gue bikin CV otodidak/ tanya kanan kiri, tanya bokap nyokap juga nggak, ( apalagi tanya adek gue, kan?), nah dia sekarang : ada gue di deket dia, dan kondisinya gue udah perneh ngelewatin tahapan itu semua dan dia nanyaaaaaa ama gue. Bok, it means a lot to me lho. There i said it.

Trus, gue dengan fase hidup gue sekarang, dimana gue gantian ngekost, gue gantian ribet ama tugas-tugas, gue ribet ama kampus dan sebagainya, gue (ternyata! Pada akhirnya!) nanya-nanya ke adek guee…. dan ituuuuuuu jarang banget gue lakukan duluuu. Kebayang kan bahwa “ih, ternyata gue butuh diaaaaa. Ternyata ada sisi ke-kakak-an (nyama2in : keibuan / kebapakan), yang sedang menggila-menggilanya di dalam diri gue dan itu meninggalkan kesan amat dalam di gue”.

Nih ya, dulu tuh, ya namanya kakak adek kan pasti berantem tu ya. Gue sering banget lah ribut2 gak penting ama adek gue, dari mulai ributin channel tivi sampe ributin sikapmasing-masing yang suka seenaknya sendiri. Tapiiiii, kegiatan-kegiatan model : sms-an ama adek gue, trus curhat2 cerita soal kuliah, temen, gebetan, dsb, boro-boroooo, jaranggg banget, (eh kalo curhat2 gitu itungannya GAK PERNAH ya). Gue gak tau dia lagi gebet siapa, dia (kayaknya) juga gitu sebaliknya ke gue. Yang gue tau dia punya geng bareng 3 temennya sejak SMA dan mereka deket banget. Makin kesini, temen-temennya itu juga ikutan deket ama gue, meski 2 diantaranya gue blm pernah ketemu langsung dan hanya kontak2 via sms atau bbm. Dari teman-temannya itulah gue semakin tau mengenai adek gue, dan itu menyedihkannnn sekali. Gue baru tau kalo dia suka ungu, segitu sukanya beli parfum, gue bahkan gak tahu ukuran bajunya, model apa yang dia suka, gue gak tau sikap dia kalo ada temen yang ngerjain dia pas ulangtahun, gue nggak ngeh ama kebiasaan2 dia (yang NGEH ternyata temennya), gue gak aware sama minat dan impian dia, i fell like i’m such a selfish sister.

Temen gue waktu itu cerita gak sengaja sih, dia mau kasih kado ke adeknya karena adeknya mau ultah. Trus dia nanya, “lo deket gak sih In, ama adek lo?” Heeeee, sekarang gue bingung jawabnya. Dulu sih gue akan dengan cepat bilang, “Nggak dong.”. nah sekarang? Dengan seringnya gue sms dia, nge tweet-in dia, dan dia makin sering minta tolong ke gue, nanya2 ke gue, gue jadi pengen bilang.. “ Euummm, deket kok.”. tapi boong banget gak sih? Kok tiba2 gue jadi berasa ngarep banget ya, ngaku2 deket, siapa gueee???, jangan2 adek gue gak segitunya juga..  yaaah pikiran-pikiran kayak gitu dan itu ganggu banget.

Kalo misalkan sekarang boleh minta, nih, gue pengen deh rebut lagi momen-momen yang hilang itu. Momen dimana dia cerita dia ada masalah apa, dia cerita dia lagi naksir siapa, dia cerita dia seneng kenapa, sedih kenapa.. (duh jd mewek euy..), karena ternyata, gue segituuuuu gak kenalnya sama dia. Gue seperti orang asing (well, seperti famili/atau kerabat jauh) yang tiba-tiba ngeliat ada cewek usianya lebih muda dari gue dan lost in space sama kehidupan barunya dan berusaha nanya sana-sini dan gue sasarannya dan gueeeee itu kakaknya, woyy.. gilaaa kemana aja gue???

Duh maap ya ndut, gue gak care ama lo kayak kakak-kakak sama adek2nya di film2 atau serial tv yang lo tonton. Tapi gue sumpah seneng banget liat lo bisa ngikutin satu demi satu tahap dalam kehidupan baru lo, gue seneng banget tau lo bisa sampe medical check-up di sebuah perusahaan besar (which is gue gak pernah), bahkan mungkin kebanggan gue dimulai sejak lo diterima di SMA yang gue pengen tapi gue gak bisa, di universitas yang dulu gue pengen (dan baru kesampean sekarang kalo gue, hehe), dan sebagainya. Gue bingung kasih lo kado apaan (secara gw gak tau ukuran baju lo, sepatu lo, warna kesukaan lo, lo lagi butuh apa, lo demen yang kayak gimana). Dan gue terdistraksi dengan UTS gue dan lo bilang “emang enak? Emang gitu kaliii (di kampus ini).”, tapi gue gak bete karena gue tau gue bisa percaya ama lo, ndut. Nah lo kan ultah tu ye 31 Oktober kemaren, gue tulis ini aja deh ya buat lo. Wishing you all the best, dan pesen gue selaen : kejar yang emang lo pengen”, adalah : jaga makanan dan bantuin mama papa kalo di rumah ye. Hihi. 😀

Buat Nisa, di usianya yang ke 22 tahun.