Belajar dari Opa Bandura

 

Berikut ini adalah beberapa quotes dari Albert Bandura, beliau adalah salah satu tokoh Psikologi yang banyak membahas tentang Social Learning Theory, salah satu konsepnya yang terkenal adalah mengenai self-efficacy, yang artinya kurang lebih : seberapa yakin kita akan kemampuan diri kita sendiri dalam mengatasi suatu hal / meraih keinginan2 kita.

Gue terus terang nggak begitu tertarik awalnya sama Bandura, berhubung gue adalah pecinta psikoanalisa sejati, nah si Opa Bandura ini jelas sangat revolusioner (ya iya lah yaa..), tapi pas baca salah satu jurnalnya, suprisingly, gue nemu beberapa quotes yang sangat encouraging dan hmm yg bener juga yaaa-mode on, gitu (tapi butuh tekad hati yang kuat untuk bisa memenuhi sabda si Opa). Berikut beberapa akan gue share disini, biar ada dokumentasinya. hihi.

People’s self-efficacy beliefs determine their level of motivation, as reflected in how much effort they will exert in an endeavor and how long they will persevere in the face of obstacles. The stronger the belief in their capabilities, the greater and more persistent are their efforts.

When faced with difficulties, people who are beset by self-doubts about their capabilities slacken their efforts or abort their attempts prematurely and quickly settle for mediocre solutions, whereas those who have a strong belief in their capabilities exert greater effort to master the challenge.

The more efficacious people judge themselves to be, the wider range of career options they consider appropriate and the better they prepare themselves educationally for different occupational pursuits. Self-limitation of career development arises more from perceived self-inefficacy than from actual inability.

Those who are assured of their capabilities heighten their level of effort and perseverance, whereas those who are beset by self-doubts about their capabilities are easily dissuaded by failure.

If people experience only easy successes, they come to expect quick results & their sense of efficacy is easily undermined by failure. Some setbacks & difficulties in human pursuits serves as useful purpose in teaching that success usually requires sustained effort

Intinya :

  1. Kalo kita punya keyakinan dalam diri kita, maka kita pasti bisa mengatasi kesulitan yang ada. Semakin besar yakinnya, semakin bisa mengatasi kesulitan yang juga besar.
  2. Nggak ada sukses yang gampang. Semua butuh usaha (yang keras dan berkesinambungan, tentunya).
  3. Kita bisa jadi apa aja yang kita mau, karena kalau kita punya keyakinan kalo kita bisa jadi apa aja, maka (tanpa kita sadari), sebenernya kita udah prepare diri kita untuk belajar dan mencari cara apapun  menuju apa yg kita mau itu.

Lumayan kan nih buat dibaca2 kalau lagi kehilangan motivasi 🙂

Dikutip dari :
Bandura, A (1989). Human Agency in Social Cognitive Theory. Stanford University : American Psychological Association. 22, 1175-1184


Advertisements

Yang coba diingatkan oleh Laura dan Lila

Gara-gara nonton film ini :

The Romantics

Gue jadi makin terjustifikasi, dan makin yakin bahwa :

Satu, apapun kondisinya, seberapapun nggak sengajanya, dan mau bagaimanapun warna suka duka persahabatanmu, merebut pacar sahabatmu sendiri adalah PAMALI. Oke, definisi merebut ini juga termasuk di dalamnya : macarin bekas pacar sahabatmu sendiri, yang walaupun udah jatohnya BEKAS PACAR, tapi ingat, dia bekas pacar SAHABATMU. Jadi tetep aja PAMALI. Kenapa demikian, karena gue terigat peribahasa lama : dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa yang tahu. Siapa yang tahu kalau sahabatmu (mungkin) masih cinta sama mantannya, siapa yang tahu kalau sahabatmu (mungkin) nggak rela kamu jadian sama mantannya, siapa yang tahu kalau sahabatmu (mungkin) tidak ikut berbahagia saat kamu akhirnya memutuskan menikahi mantannya, dan seterusnya. Bottomline, utamakan persahabatan di atas cinta. Love comes and go, friendship stays forever. Oh ya?? Apa benar demikian? Film ini mencoba memperdebatkannya (apa sih bahasa gue?) hihi.

Sinopsis dikit ya, jadi ceritanya tentang 2 orang cewek, Lila dan Laura, mereka udah temenan sejak masuk kuliah, satu kamar bareng di asrama, saling minjem-minjeman, saling berbagi, yaa you named it lah, pokoknya sahabat beneuurr.. sampe suatu ketika, si Laura diminta Lila untuk jadi bridesmaid-nya, di pernikahannya nanti dengan Tom, yang mana, Tom itu adalah mantan pacar Laura, dan mereka dulu pacaran sampe 5-6 tahunan gitu bok.. wakakakaka. Premis cerita yang menarik karena pasti akan ada konflik sana-sini dan yeaah some bitchiness (which is baru gue temuin di pertengahan hingga ke akhir film). Nah, jadilah si Laura dengan ikhlas hati dan seems happy, rela ke venue pernikahan (yg kayaknya di luar kota dan jauh gitu) demi memenuhi permintaan Lila, ditemani oleh ke-5 sahabatnya yang lain, mereka kasih nama geng mereka : The Romantics. Pada malam sebelum pernikahan, mereka mau ngerayain kayak pesta lajang kecil-kecilan, dan disitulah satu demi satu masalah muncul, hingga akhirnya, jeng jeng…. nonton aja sendiri.

Nah itu pelajaran pertama, pelajaran kedua gue dapet dari film ini gue ambil dari dialognya aja yah : ini pas si ibunya Lila ngomong ke Lila-nya, sehari sebelum pernikahan berlangsung..

“He has to love you more.” (kata Ibunya).

“ More than what? More than whom?” (kata Lila, nanya balik ke Ibunya).

“ More than you love him. That’s  how marriage works.” (kata Ibunya).

Kalo masih bingung ama quotes ini, NONTON FILMNYAAAAA.

Gue teringat aja sih sama apa yang pernah salah satu temen kantor gue dulu bilang, jd ceritanya dia bru nikah juga nih, trs bilang gini ke gue : “ In, pokoknya kalau lo suka ama cowok, giamanpun caranya, cowok itu harus lebih cinta sama lo dibanding lo cita ama dia. Sebesar apapun perasaan lo, pastikan dia masih jauh lebih besar rasa sayangnya dibanding yang lo miliki.” Kira-kira gitu.

Well, gue nggak tau ya mau setuju apa gak, dan apakah itu bener2 jadi indikator kesuksesan sebuah hubungan apa nggak.. tapi ya setidaknya kalaupun gue ralat dikit quotenya adalah : pastikan dia setidaknya : sama besar cintanya seperti cinta kamu ke dia.

Aaaaaa. Dua pesan moral bikin gatel pengen bahas… hfffttt. *sumpel mulut*

(semoga gue dijauhkan dari hal-hal yang dapat menyebabkan luka hati sahabat gue sendiri (refer to poin pertama) dan luka hati diri gue sendiri juga (refer to poin ke 2)). Amin.