Blue..Blue..Blue Valentine

I feel like men are more romantic than women. When we get married we marry, like, one girl, ’cause we’re resistant the whole way until we meet one girl and we think I’d be an idiot if I didn’t marry this girl she’s so great.
But it seems like girls get to a place where they just kinda pick the best option… ‘Oh he’s got a good job.’ I mean they spend their whole life looking for Prince Charming and then they marry the guy who’s got a good job and is gonna stick around.
– Dean

Hadeh, ni film! Ampun deh.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Menikmati Kacau-nya Kicau Indra Herlambang

Buat gue yang belakangan ini mengalami defisit dalam hal atensi membaca buku, kehadiran buku yang menarik dan bisa dibaca sampe habis dalam waktu kurang dari 3 hari adalah hal yang luar biasa membahagiakan.  Apalagi kalo buku itu bisa memberikan tawa sekaligus pengetahuan baru (yes, literally pengetahuan) yang tak terduga, dan itulah yang gue peroleh setelah membaca Kicau Kacau-nya Indra Herlambang.

Buku ini terus terang semakin memperkuat dugaan gue bahwa Indra Herlambang adalah sosok yang witty tapi tetep gak hilang kegokilannya. Gue follow Twitternya, dan selalu menikmati tweet-tweet dia yang menurut gue kocak dan memberi kesan “ Kepikiraaaan aja sih, dia!”. Begitu pula pas baca buku ini. Secara garis besar buku ini terbagi ke dalam 4 bab, masing-masing bab berisikan semacam tulisan pendek (mungkin semacam blog atau kolom majalah) Indra tentang banyak hal. Dia bicara tentang gaya hidup, cinta, keluarga, hingga isu sosial. Dengan tebal sekitar 320-an halaman, makin lama gue makin sayang takut banget buku ini akan habis gue baca, tapi gue pengen bacaaa sampe kelar. Yang membuat menarik adalah gaya penulisan Indra yang sederhana, bagaimana ia mengungkapkan pengalamannya, kisah masa kecilnya, serta sudut pandangnya tentang segala macam hal dari sisi yang tidak terduga (beneran nggak kepikiran).

Coba deh baca bagian bab 1 yang hampir semuanya menarik dan gue nilai sebagai bab paling kocak di buku ini. Bagaimana saat Indra jadi donatur buat sekolahnya dulu, cerita dia saat ketemu Obama, pengalaman di Warnet, hingga kejadian yang berhubungan dengan celana dalam. Oemji, I cant stop laughing sambil bilang, “Anjrit, iya banget!! Kok kepikiran siiih??!! Aaarrghhh”

Bab 3 menurut gue sih agak biasa aja, dalam artian mungkin karena isu sosial yang diangkat, jadi auranya rada serius dikit. Tapi semua terobati dengan klimaks di bab 4 dimana Indra cerita tentang masa kecilnya di tulisan “Balas Dendam Pintu Besi”, atau kegemarannya minum jamu.

Dari 50 tulisan yang dikumpulkannya dalam buku ini, tulisan favorit gue jatuh pada tulisan terakhir di bab  2 : “Satu telunjuk untuk banyak Pertanyaan”. Oemji! Indra Herlambang knows me soo well… disitu dia cerita bahwa menikmati kesendirian bukanlah hal yang aneh (dan ternyata menyenangkan juga lho..), dia cerita pengalaman dia kemana2 sendirian (dan itu sebagian besar gue banget ha-ha-ha), plus quote penutup yang nancep banget,

berteman dengan diri sendiri, berdialog dengan diri sendiri buat saya bukanlah pilihan, tapi keharusan. Apalagi sebenarnya di ujung hidup ini ada kematian. Sesuatu yang harus benar-benar dijalani sendirian.

Berhubung gue nggak pandai me-review buku, intinya, buku ini sangat direkomendasikan. Banyak cerita yang kalo di Oprah tu akan keluar respon, “ Ewwww.. (so sweet mode on)”. Karya perdana yang berkesan. Salut buat Indra Herlambang.  I just can’t wait for his next book, then. 🙂

Ketika Nilaiku Tak Sebagus Mereka (So What?)

Pertama-tama, gue berharap semoga temen-temen sekelas gue nggak ada yang baca postingan gue ini, ya kalo baca juga sebenernya nggak apa-apa juga sih, namanya juga curahan hati dan sekedar bersampah-sampah ria. Tapi apa yang akan gue sampaikan berikut ini memang hasil dari pergulatan selama beberapa minggu (atau bulan ya?) terakhir , tentang apakah lebih baik gue simpan dalam hati (which is itu nggak mungkin banget, gue gituu lhoo… *buka sumpelan mulut*), gue utarakan lewat twitter (which is rada susah soale Twitter gitu lho.. *panjang gitu ceritanya*),  cerita ke orang lain yang gue percaya (dan ini sudah gw lakukan), atau gue tulis di blog (nah ini yang akan gue lakukan sekarang).

Kurang lebih 9 bulan sudah gue lewatin di Depok, jadi mahasiswi lagi, belajar lagi, ngerjain paper lagi sampe tengah malem, baca textbook lagi, kumpul kerja kelompok lagi, fotokopiin handout lagi, dan segala rutinitasnya. Menyenangkan? Oh tentu saja. Capek? Pastinya. Mau ngeluh? Mauu banget. Tapi berpikir bahwa tidak semua orang punya kesempatan untuk bisa berada di posisi kayak gue sekarang, serta merem 5 detik dan bayangin muka bokap nyokap gue, udah cukup jadi kekuatan sendiri bahwa gue harus sabar dan menikmati hingga 15 bulan mendatang (Amiinn, Ya Allah).

Nah tapi nih, entah salah gue atau salah temen-temen gue(??!!) *ala AADC*, sayangnya nggak semua temen-temen gue, (gue anggep) merasakan hal yang sama atau prinsip yang sama seperti gue. Sama yang dimaksud disini adalah prinsip dan tujuan awal gue melanjutkan kuliah adalah menikmati setiap ilmu baru yang diserap oleh pori-pori otak gue, disalurkan ke lubang telinga gue dan disajikan oleh pemandangan depa mata gue. ENJOY EVERY MOMENT. Maunya sih gitu ya.

Temen-temen gue? Hmmm.. sayangnya, gue berada di lingkungan dimana bagi sebagian dari mereka,meraih NILAI yang bagus dan IPK yang bagus pula, adalah hal yang sangat penting. Oke, capslock mode on : SANGAT PENTING. Well, setidaknya itu yang gue rasakan setelah 9 bulan menatap layar bb dan melihat deretan pesan di bb grup saat pergantian semester, saat mendekati uts, menuju uas, bahkan di saat weekend. Topiknya gak jauh-jauh dari : tugas yang harus dikelarin dengan amat sangat baik apapun dan bagaimanapun caranya, termasuk di dalamnya obsesi memperoleh nilai yang baik, yang kalo diakumulasikan, ya  jadi hasrat  IPK yang sangat baik pula.

Oh Tuhan.

Hmm, yes, nilai memang penting buat gue. Boong banget kalo gue nggak sedih pas dosen neuro bilang gue dapet nilai uts terjelek di kelas (it’s actually happened lho), gue putus asa dan saat itu berpikir gue pasti gak lulus dan musti ngulang lagi. At the end, gue bisa lulus dengan nilai yang gak pas-pas-an dan nilai gue so far juga gak ada yang C, semester 1 kemarin, tuh gue beberin deh ya bocoran IP gue. Tapi, nilai juga bukan yang utama. Bukan satu-satunya yang bikin dunia gue berputar dan menentukan bahagia tidaknya hidup gue. Oh, meeennn come ooonn…

Pas dulu masa-masa nilai diumumkan, ucapan di bb grup berkisar : duh nilai mata kuliah gue Cuma segini nih.. (segini-nya itu kisaran B lhoo.., FYI), atau timeline di Twitter yang penuh dengan jargon psikologi lengkap dengan tugas apakah yang saat itu dikerjakan, plus keluh kesah tersamar ttg IPK dan nilai yang menurut mereka jelek. Gue yang tadinya santai santai haha hihi akhirnya ikutan stress juga. Tapi makin kesini, output yang gue keluarkan bukan lagi stress, melainkan cranky, alias gemes-gemes antara peduli-nggak peduli. Pikiran maki-maki gue dalam hati saat itu adalah : apa mereka nggak punya hal-hal menarik apa kek dalam hidup yang bisa mereka share ketimbang hidup mengejar nilai semata? Trus kalo nilainya dapet A semua dan IPK 4, efeknya apa? (ya selain memenuhi rasa bangga diri sendiri dan orang lain ya), apakah dengan IPK 4 lo bisa dapet kerjaan yang lo pengen (hmm mungkin bisa sih), atau pacar yang lo idam-idamkan? (hmm yg ini curhat), atau apa?? Bonus dari ortu? Dan segala macam hadiah lainnya?

Pada akhirnya bbrp hari ini gue mengetahui bahwa setelah masa-masa galau nilai itu, ternyata hampir sebagian besar teman-teman sekelas gue IPKnya masuk kategori cumlaude. Yes. Nilai yang mereka keluh2kan karena menurut mereka kurang memuaskan itu, masih mampu mengantar mereka menuju fase IP super cihuy dengan rentang antara 3, 7 sekian.. Dimana gue? Gue bahkan mencapai 3,5 saja pun tidak.

Ada sih rasa minder, sedikiit. Sedikit disini munculnya saat gue merasa bahwa gue sudah lebih tua dari teman-teman gue dan otak gue mungkin nggak se-fresh mereka lagi dalam menyerap pelajaran (faktor biologis yang tidak bisa gue hindari), apalagi gue vakum hampir 2 tahun baru lanjut kuliah lagi.  Tapi gue bangga, bangga karena setidaknya hidup gue nggak di kampus doang. Bangga karena setidaknya gue pernah punya pengalaman kerja, pengalaman di dunia nyata dimana IPK setinggi langit nggak menjamin kita bakal diagung-agungkan di tempat kerja. IPK setinggi langit gak menjamin gaji yang setinggi langit juga. Apalagi untuk mendapatkan IPK itu gue harus mengesampingkan hal-hal yang gue suka, karena itu berarti mengorbankan kebahagiaan gue sendiri. Gue bangga karena gue masih bisa nonton sendirian pulang kuliah sore-sore dan ngeceng-ngeceng di kala weekend sementara gue tau temen-temen gue mostly gak bisa (atau nggak mau?, entahlah).

Ya, ini bicara soal personal standard sih, sama visi misi hidup ke depan khususnya tujuan ambil kuliah lagi dan setelah itu mau kemana. Tapi kadang ya, gue kasian sih, sama temen-temen gue.. kasian yang positif lho ya, maksudnya, kadang gw pengen bales bbm di bb gup itu dengan bilang : “ hey, santey dikit laaah..”, “ Eh, nyett, B itu masih bagusss gituuu..”, atau ungkapan yang lebih sarkas lainnya. Tapi gue pikir, yaa buat apa?. Setiap orang punya misinya sendiri-sendiri. Mengetahui bahwa gue dikelilingi oleh orang-orang pintar dan bermotivasi (atau berambisi ya??) tinggi, membuat gue bersyukur, yang kalo gue ogah rugi, bisa aja gue sekelompok dan memilih gak kerja tapi maen terus, trus nilai gue tetep bagus karena toh penilaian banyak dari tugas kelompok. Tapi gue gak melakukan itu.

IPK gue gak bisa gue ubah mau gimana lagi. Tapi gue gak nyesel. Itulah hasil terbaik yang bisa gue peroleh, dengan target nggak boleh ada C, dan itu terpenuhi, dan gue hepi (walopun sempet ciut juga).  Di satu sisi gue kagum, dengan temen-temen gue yang mostly lebih muda dari gue tapi sasaran pencapaian mereka sudah sedemikian tingginya. Cita-cita gue kegampangan kali ya? Gue lihat ke langit dan ada mimpi-mimpi sederhana gue terpampang disana, tapi gue gak bisa lihat mimpi-mimpi teman-teman gue karena mereka gantunginnya sampe planet Pluto saking jauhnya. That’s fine.

Ilmu yang gue pelajari sekarang gue sadari bukan ilmu yang objektif dalam memberikan penilaian. Ada sisi abu-abu yang misteri, ada faktor x yang ikut menentukan. No matter how hard you try to learn. Capek rasanya nyinyir terus pengen bilang YAELAAAHHH.. setiap kali ada temen yang nanya ke dosen, “ Mbak, masalah penilaian, gimana Mbak?” dsb. Hadeeehhh… Ya sudah lah ya.

Kalo gue, yang penting, gue nggak bikin klien gue nanti semaput gara-gara gue paksa nyelesain tes demi nilai yang tinggi, gue gak bikin klien gue damprat2 gue karena dianggap gak sopan karena maksa ngajak wawancara padahal dia nggak mau, (lagi-lagi) demi nilai yang tinggi. Gue mau bikin bangga bokap nyokap gue dan buktiin ke mereka bahwa uang puluhan juta yang mereka korbankan itu nggak sia-sia, bukan karena  cumlaude-nya, tapi karena setidaknya, gue bisa jadi anak dan individu yang lebih baik, dengan ilmu yang gue cangkul dalem-dalem itu, bukan individu yang sakit punggung dan jalan terbongkok-bongkok karena keberatan memikul beban lulusan terbaik dengan nilai tertinggi.

Ada yang lebih esensial dari itu. dan gue nggak mau silau oleh 1 angka dan 2 angka dibelakang koma.

Semoga gue diberi kekuatan dan energi selalu, untuk nyangkul lebih dalam lagi.

*cambuk diri sendiri*