Menikmati Kacau-nya Kicau Indra Herlambang

Buat gue yang belakangan ini mengalami defisit dalam hal atensi membaca buku, kehadiran buku yang menarik dan bisa dibaca sampe habis dalam waktu kurang dari 3 hari adalah hal yang luar biasa membahagiakan.  Apalagi kalo buku itu bisa memberikan tawa sekaligus pengetahuan baru (yes, literally pengetahuan) yang tak terduga, dan itulah yang gue peroleh setelah membaca Kicau Kacau-nya Indra Herlambang.

Buku ini terus terang semakin memperkuat dugaan gue bahwa Indra Herlambang adalah sosok yang witty tapi tetep gak hilang kegokilannya. Gue follow Twitternya, dan selalu menikmati tweet-tweet dia yang menurut gue kocak dan memberi kesan “ Kepikiraaaan aja sih, dia!”. Begitu pula pas baca buku ini. Secara garis besar buku ini terbagi ke dalam 4 bab, masing-masing bab berisikan semacam tulisan pendek (mungkin semacam blog atau kolom majalah) Indra tentang banyak hal. Dia bicara tentang gaya hidup, cinta, keluarga, hingga isu sosial. Dengan tebal sekitar 320-an halaman, makin lama gue makin sayang takut banget buku ini akan habis gue baca, tapi gue pengen bacaaa sampe kelar. Yang membuat menarik adalah gaya penulisan Indra yang sederhana, bagaimana ia mengungkapkan pengalamannya, kisah masa kecilnya, serta sudut pandangnya tentang segala macam hal dari sisi yang tidak terduga (beneran nggak kepikiran).

Coba deh baca bagian bab 1 yang hampir semuanya menarik dan gue nilai sebagai bab paling kocak di buku ini. Bagaimana saat Indra jadi donatur buat sekolahnya dulu, cerita dia saat ketemu Obama, pengalaman di Warnet, hingga kejadian yang berhubungan dengan celana dalam. Oemji, I cant stop laughing sambil bilang, “Anjrit, iya banget!! Kok kepikiran siiih??!! Aaarrghhh”

Bab 3 menurut gue sih agak biasa aja, dalam artian mungkin karena isu sosial yang diangkat, jadi auranya rada serius dikit. Tapi semua terobati dengan klimaks di bab 4 dimana Indra cerita tentang masa kecilnya di tulisan “Balas Dendam Pintu Besi”, atau kegemarannya minum jamu.

Dari 50 tulisan yang dikumpulkannya dalam buku ini, tulisan favorit gue jatuh pada tulisan terakhir di bab  2 : “Satu telunjuk untuk banyak Pertanyaan”. Oemji! Indra Herlambang knows me soo well… disitu dia cerita bahwa menikmati kesendirian bukanlah hal yang aneh (dan ternyata menyenangkan juga lho..), dia cerita pengalaman dia kemana2 sendirian (dan itu sebagian besar gue banget ha-ha-ha), plus quote penutup yang nancep banget,

berteman dengan diri sendiri, berdialog dengan diri sendiri buat saya bukanlah pilihan, tapi keharusan. Apalagi sebenarnya di ujung hidup ini ada kematian. Sesuatu yang harus benar-benar dijalani sendirian.

Berhubung gue nggak pandai me-review buku, intinya, buku ini sangat direkomendasikan. Banyak cerita yang kalo di Oprah tu akan keluar respon, “ Ewwww.. (so sweet mode on)”. Karya perdana yang berkesan. Salut buat Indra Herlambang.  I just can’t wait for his next book, then. 🙂

Advertisements