Konselinglah sebelum kau (meng)konselingkan Orang Lain

This is my very first time asking for help from professional.

Entah kenapa dari dulu tuh ya, gue susaaah banget percaya sama yang namanya konseling. Lebih ke skeptis sih. Emang bisa ya? Apalagi kalau konteksnya untuk mengubah perilaku orang lain, atau merubah pola pikir orang lain sebagai solusi yang terbaik. Keskeptisan gue ini entah ya mungkin terpendam jauh di lubuk hati dan pelan2 muncul ke permukaan saat gue kelas konseling dan harus jadi praktikum jadi konselor.

Dari dulu gue selalu yakin, sifat orang pada dasarnya nggak bisa berubah. Kalo nature vs nurture, gue pro nature. Ya orang kalo dasarnya nggak sabaran, ya mau dimodif kayak gimana juga perilakunya, tetep aja jatuhnya balik2 lagi ke sifat nggak sabarannya itu. Singkat kata, gue ragu apakah konseling atau terapi dan sejenisnya bener-bener bisa membantu gue mendapatkan solusi yang terbaik dan lebih-lebih mengubah beberapa kelakuan minus gue. Kalaupun bisa, gue lebih yakin bahwa itu sifatnya hanya sementara.

Itu adalah pendapat pribadi gue dan in progress gue sedang belajar keras mencoba untuk percaya sama proses konseling.

Sampe akhirnya tadi, gue lagi ngerasa downnn banget, bener-bener self-worth di titik nol dan left-behind syndrome karena suatu hal (yang gak bisa gue share detil disini), gue terpikir untuk segera mencari bantuan orang lain yg lebih ahli dan dalam hal ini adalah : dosen-dosen di kampus gue.

Mbak dosen di kampus pernah bilang gini : jangan sampai kamu kuliah itu bagaikan tikus mati di lumbung padi. Artinya, kalo lagi ada masalah apapun yg bakal mempengaruhi kuliah, ya jangan ragu untuk datang ke dosen-dosen yang notabene psikolog semua dan pasti bisa bantu kamu. Maka manfaatkanlah, gitu katanya. Mbak dosen lain yang gue anggep sbg salah satu psikolog keren di kampus juga ternyata di masa lalu bahkan sekarang pernah bersinggungan dengan sesi konseling untuk diri sendiri. Dia datang ke professional untuk konsultasi, dan bahkan sampe sekarang masih curhat sama koleganya. Even shrink needs shrink.

Teringat akan hal itu, dan walaupun sudah melewati sesi nangis-nangis bombay ditemani seorang teman di musholla dosen di kampus (ceritanya biar gak ketauan temen2 dan khalayak ramai), dan masih ngerasa belum gong, gue (dan terutama si temen gue ini), mempertimbangkan untuk, oke coba deh gue datengin 1 dosen yg gue percaya dan minta dijanjikan jadwal konseling. Dengan muka bengkak, di hari yang sama, saat itu juga, gue dan temen gue menghampiri meja salah satu dosen, yang ternyata tanpa diduga langsung available hari itu juga (mungkin ngeliat bengkaknya mat ague yg abis nangis jd dianggap Emergency kali ya). Pas ngomong kalo gue mau cerita2 gitu aja, gue udah malu hati sendiri. Duh kok kayaknya nggak gue banget yaaa, kayaknya malu2in banget yaa.. bakalan dinilai penting gak ya cerita gue? Ya pikiran2 lebay gitu deh.

Unfortunately,

Setelah hampir satu jam cerita, dosen gue ini bisa kasih gue beberapa poin yang sebelumnya gak kepikiran di gue. Ya ada sih bbrp saran, tapi dikemas dalam bahasa yang entah kenapa rasanya menenangkan. Setelah ngobrol sama dia, gue merasa bahwa betapa menyedihkannya gue, karena ternyata gue emang gak punya siapa-siapa untuk berbagi cerita (khususnya ttg masalah yg lagi gue hadapin ini). Ternyata gue segitu tertutupnya dan nggak memberikan kesempatan buat diri gue sendiri untuk berbagi. Katanya temen gue, gue terlalu banyak pikiran yang numpuk dan susah dikeluarin, akhirnya pikiran2 itu mengalir ke hati dan bikin makin mumet emosional.

Sepulang dari sesi konseling dengan dosen gue itu, sepanjang perjalanan gue mencoba mengingat2 pesan dia. Ada sedikit perasaan tenang yang muncul dan bertahan sampai setidaknya saat gue nulis postingan ini malam harinya.

Ternyata, ternyata.. gue cuma perlu mencurahkan semuanya. Ternyata, seberapapun gue merasa gue kuat, gue gak segitu kuatnya juga. Ternyata, setertutup apapun orang, pasti butuh teman untuk cerita.

Tapi yang paling ganggu di gue abis konseling ini adalah : ternyata gue  cuma butuh didengarkan.

Ternyata mendengar saja sudah lebih dari cukup untuk membantu orang lain (dalam hal ini dilakukan mbak dosen gue kepada gue).

It’s all ears, Iin.. it’s all ears. Ternyata gue cuma (setidaknya) perlu telinga gue sebagai bekal gue ke depan.

dan di saat untuk pertama kalinya entah sejak kapan gue nangis-nangis karena sesuatu hal yang bukan masalah cinta, saat itulah gue terdampar dalam sesi konseling. And magically, it’s healing. 🙂

Advertisements

5 thoughts on “Konselinglah sebelum kau (meng)konselingkan Orang Lain

  1. wah in, senangnya jadi elo. ada banyak orang di sekitar lo yang bisa dijadikan tempat cerita. kurang lebih, tulisan lo ini ekuivalen dengan tulisan yang baru gue posting, tapi dengan aura dan hasil yang bertolak belakang 😀

  2. naomitobing says:

    Huaaa! Gue ga pernah sampe konseling di sana. Sempat kepikiran sih. Tapiii.. pas teman gue melakukannya, dikonseling dan diterapi sama dosen sana, tiba-tiba semua dosen jadi tau masalah dia. Dibocorin aja gitu! Sejak itu, gue ga percaya konseling sama mereka. Hehehe. But good for you if it’s healing. We just need to be heard, ya. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s