Serpihan Kesan-kesan tentang Pohon Kehidupan

Sebelum pikun, sebelum ke-distract (ini aja udah ke-distract beberapa persen), sebelum  mood ilang, sebelum basi, inilah beberapa hal berkesan yang gue dapet setelah nonton The Tree of Life. (Salut buat Mr. Malick sebagai sutradara dan penulis skenario serta Mr. Desplat sebagai penata musik!).

  • The Tree of Life menganggu pikiran gue karena bikin gue teringat sama hal-hal kecil dan pertanyaan-pertanyaan cerdas yang udah lama hilang dari otak gue. Membuat gue sedikit merenungi masa kecil gue, melihat kedua orangtua gue, melihat peristiwa-peristiwa kecil dalam hidup, susahnya tumbuh dewasa, susahnya memenuhi impian, hingga susahnya menerima kematian. Ada sentilan-sentilan tentang Tuhan yang menampar diri gue yang tidak terlalu solehah ini, serta naluri keibuan yang tergelitik melihat bagaimana suami-istri O’Brien (terutama Mrs. O’Brien) mendidik anak-anaknya, bayi-bayi yang lucuuuuu *salah fokus tapi beneran gemessss bgt*, dan efek psikologis jangka panjang dari sebuah pola asuh yang berbeda antara suami-istri  terhadap perkembangan anak-anaknya yang bahkan sudah terlihat dari early life dan masa anak-anak mereka.
  • The Tree of Life mencoba menggelitik (atau mengkronfrontasi?) penontonnya dengan dialog-dialog dan narasi (yang sebenarnya minim dalam film ini), ada yang sederhana, ada yang terasa berkhutbah. Ada sekelumit kecil adegan saat Mr. O’Brien, seorang ayah yang dominan, over-disiplin dan sangat keras mendidik anak-anaknya, biilang begini  kira-kira: “I remember when you were born. They wouldn’t let me come home.”. Gue teringat bagaimana orang-orang bercerita ke gue tentang dulu saat gue lahir, saat nyokap gue bercerita proses kelahiran gue dan dimana bokap gue saat itu. Pemicunya sederhana, tapi pikiran gue jauh terbawa ke masa-masa itu.
  • Adegan saat Mr. O’Brien bilang gini : Your mother’s naïve. It takes fierce will to get ahead in this world. If you’re good, people take advantage of you.

Everyone of these top executives, you know how they got where they are? Floating right down the middle of the river. Don’t let anyone tell you there’s anything you can’t do.
Don’t do it like I did, promise me that. I dreamed of being a great musician. I let myself get side-tracked. When you’re looking for something to happen, that was it. A lie, you lived it, menurut gue ada benernya. *menyadari diri masih terlalu naif*
  • Trus di adegan lain dia juga bilang bahwa sikap keras yang ia terapkan kepada anaknya hanyalah cara agar anak-anaknya bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat. All I ever wanted for you was to make you strong. Gue terpikir tentang bagamana bokap gue mendidik gue dulu, bagaimana yaaa kadang dia keras memukul gue kalau gue salah, menghukum gue dengan caranya sendiri, just wondering, mungkin sudah saatnya gue bertanya ke bokap gue, apa yang ia inginkan dari diri gue kelak dengan pola asuh yang ia terapkan itu, ingin jadi pribadi yang seperti apa gue kelak untuknya? Bahkan gue nggak tauuuu apa tujuan pengasuhan kedua orangtua gue itu, dan film ini seperti menyuruh gue untuk : “Tanya gih, ke kedua orangtuamu!”. Selain itu juga satu penguatan bahwa menurut definisi suksesnya Mr. O’Brien itu, apakah gue udah pantes dibilang sukses? *beli cermin cembung*
  • The Tree of Life sebenarnya film yang sedih, apalagi kalau sempat mengabadikan momen-momen interaksi antara Mr. O’Brien dengan anak-anaknya. Mungkin benar kata orang ya, anak laki-laki memang harus dididik seperti laki-laki. Adegan Mr. O’Brien ngajarin anak-anaknya cara berantem itu menurut gue sangat menggelitik dan agak dilematis sih *tapi bener juga lho-mode on gitu*, terus di adegan lain terungkap juga kekosongan hidup Mr. O’Brien karena sebenarnya sikap kerasnya adalah untuk menutupi sisi ‘loser’nya gara2 dulu ia gak bisa memenuhi keinginannya. Dengan bersikap keras, ia ingin dianggap hebat. I wanted to be loved because I was great, a big man. I’m nothing. Look. The glory around, trees, birds. I dishonoured it all. Didn’t notice the glory, a foolish man. Dari situ terlihat bahwa pada dasarnya manusia punya kuasa atas sikapnya sendiri, mau jadi jahat, mau jadi naïf dan baik hati, semua terserah kita. Lagi-lagi Mr. O’Brien bilang bahwa manusia itu sendiri yang memiliki kendali atas takdirnyaToscanini once wrote a piece sixty-five times. You know what he said after – it could have been better. You make yourself what you are. You make your own destiny. You can’t say ‘I can’t.’ You say, ‘I’m havin’ trouble; I ain’t done yet. You can’t say ‘I can’t..’  Hmm buat gue yg rada-rada berserah pada takdir gini, kata-kata dia itu menampar sekaliii (apalagi pas saat nontonnya itu hadehh *cubit pipi Brad Pitt*).
  • Dan satu quote yang juga gong adalah pas (kalo gak salah) anaknya bernarasi gini  saat adeknya meninggal, “Tuhan, kenapa kamu menyuruh saya bersikap baik? Buat apa saya bersikap baik kalau Kamu sendiri tidak bersikap baik?”. Hadohh. Ini ganggu banget deh (somehow sisi angel gue kayak pengen bilang, “ bukan gituuu maksudnya!”, tapi sisi syaiton gue bilang “Iya bangett tuh!!”.)
  • Semakin gue galau saat film ini di hampir penutupnya berdapat suatu quote : The only way to be happy is to love. Unless you love, your life will flash by. Hakiki kehidupan yang sungguh sederhana sebenarnya : mencintai. Apapun dan siapapun. Tapi kenapa orang masih bilang dia tidak cukup bahagia yaa??

Nyenyenyenyenye.. sebelum gue makin meracau sotoy dan berfilosofis sembarangan, intinya, film ini layak ditonton. Hanya butuh motivasi yang besar (agar tidak ngantuk dan bertahan seger selama 2 jam lebih) serta cakrawala berpikir yang luas (baca : open-minded) untuk bisa menikmati film ini. Gue mungkin masih pre-basic dan IQ tengkurep banget deh dalam memahami apa sih arti dan maksud tujuan film ini?, tapi satu hal yang pasti, menikmati Tree of Life adalah menikmati kehidupan itu sendiri. Indah? Bisa jadi. Sedih? Mungkin saja. Tapi membingungkan? Itu pasti.  Hehehehe.

Just.Go.Watch.It.

*gambar diambil dari sini

Advertisements

One thought on “Serpihan Kesan-kesan tentang Pohon Kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s