Ketika Saya hanya Memiliki Diri Saya Sendiri

Ada satu quote yang menarik dari dosen gue yang gue denger sebulan lalu waktu gue dan teman2 sekelompok sedang ujian kasus dan kebetulan mbak D (sebut saja beliau demikian) menjadi penguji kasusnya.

Dia mengajukan pertanyaan yg rada out of context ke kami2 ber-7 saat itu, tanyanya gini kurang lebih :
“Kalian tau gak, ketika seluruh dunia ini meninggalkan kalian, sesungguhnya ada 1 hal yang tidak pernah meninggalkan kalian, tau gak apa itu?”
Kami semua sontak tergiur untuk menjawab, hmm keluarga? Salah. Sahabat? Salah. Tuhan? Salah. Yaah siapa dong kalo gitu?
Mbak D menjawab : “Ya diri kalian sendiri lah.”

Kami, terutama saya pribadi, tertawa dengan pertanyaan yang dia jawab sendiri tersebut. Diri saya sendiiiri?? *maksudnya??*

Mbak D lalu memberi penjelasan lebih lanjut, kurang lebihnya begini, “Iya, yang paling setia sama kita sebenarnya ya diri kita sendiri, itulah kenapa kita harus memberi reward kepadanya, menyenangkannya, sehingga ia tidak ikutan pergi meninggalkan kita.”
Inti simpelnya sih : ya menyenangkan diri sendiri itu perlu lho, kalo nggak, lo bisa gila (dgn analogi : diri sendiri meninggalkan kita = we lose ourself = insane).

Berhubung saat itu ujian dilaksanakan di hari terakhir kampus masuk sebelum 2 minggu libur Lebaran, dan jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, kami sudah lelah dengan rangkaian ujian kasus 2-4 jam sehari, ucapan dari mbak D saat itu hanya dijadikan justifikasi bagi kami sebagai tanda : Libur telah tibaaa (for a while)! Dan saatnya memanjakan diri alias senang2. Kami pun makin tertawa seolah mendapat pembenaran atas keinginan senang2 yg mungkin buat bbrp temen gue jd amat berat krn ada rasa bersalah menghinggapi setiap mulai menginjak 1 langkah di mall, memutar tombol play di remote dvd, mencoba 1 sepatu di kaki kanan, membuka pintu salon, dan hobi kami lainnya.

Saat lagi bengong di Puskesmas pas lg jaga praktek gini, tiba2 gw teringat kembali ucapan Mbak D waktu ujian dulu. Merenungkannya. Dan bagai kesambet menganggap bahwa itu adalah suatu quote yang menarik. Coba gue gambarkan ya, kira2 begini :
Ada kalanya kan kita ngerasa gak ada orang lain yang paham ama situasi kita, perasaan kita, kesulitan kita, not even your family or your closest friend. Ketika kita ngerasa harapan satu2nya hanyalah Tuhan, kita ngomong ke Dia. Tapi ga ada jawaban. Kita bisa bilang, mungkin Tuhan lg sibuk dan meninggalkan kita utk urusan hambaNya yg lain. (Well, somehow gw suka mikir kayak gitu kalo keinginan dan doa gw ga terjawab padahal gw pengen cepeet *ya sapa gue??* hehehe). Bagaimana dengan orang yg tidak percaya Tuhan? This quote count them in. Nah itulah mungkin yg Mbak D jelaskan dalam bentuk “seluruh dunia meninggalkanmu.”. Kita lupa bahwa ada 1 yg tersisa, siapakah itu? Ya diri kita sendiri. Gue mengartikan “diri kita sendiri” ini sebagai wujud filosofis sih, bahwa kita human, a sane human. Orang waras adalah orang yg masih sadar bahwa dia punya dirinya sendiri untuk dia andalkan.
Dialah yg menurut Mbak D paling setia namun juga paling terlupakan.

Oleh karenanya, sebelum dia bener2 pergi, sebelum diri sendiri itu ngambek, trus parahnya ogah balik2 lagi dan kita terpisah jauh darinya, maka : bahagiakanlah. Buatlah dirimu sendiri senang. Lakukan apa saja yang sekiranya bisa membuatnya terhibur. Maka niscaya, ia akan selalu setia menemani, dan yang paling penting : memastikan bahwa kamu masih waras berkat kehadirannya.

So, dari situ, gw jadi berpikir, gw gak akan menunggu lama untuk menyelamatkan diri gw sendiri itu, ketika gw sedih, kecewa dengan dunia, teman2, keluarga, kuliah, apa yg mbak D bilang mengingatkan gw bahwa kamu masih punya diri kamu sendiri, bersenang2lah dengannya.

Nanti, kalau kamu dan dirimu sudah sama2 senang bersama, maka dunia akan lebih mudah utk direngkuh, karena kamu punya dirimu.

Ah, sudahlah. Sekian meracau siang2. Saya tidak pandai berfilsafat. Tapi semoga siapapun yg baca, paham ya maksud tulisan ini.

Terima kasih ya Mbak D.

Posted with WordPress for BlackBerry.