Ketika Belajar Psikologi Bikin Darah Tinggi

Kalo ada yang bilang dengan belajar Psikologi itu kita jadi lebih memahami manusia (since the definition itself is to learn about people’s behaviour), that might be true.
Itu juga yang jadi alasan dan harapan gw bertahun-tahun yang lalu saat memutuskan ngisi formulir pendaftaran universitas dengan lingkarin kolom : Psikologi.

Guess what? Harapan gw sedikit banyak terkabul. But what disturb me most is : learning psychology is also a curse. Kutukan. Saking percaya banget sama konsep itu, gw jadi takut dan hmmm actually not really proud with my educational background.

Dulu mungkin ada masa2 dimana gw antusias, oh ternyata gini oh ternyata gitu dan berbagai keajaiban lainnya yg diperoleh dari belajar selama ini.
Sekarang? Hmm, not really.

Kalo ada yang merasa jago dan hebat karena mereka bisa menganalisa orang lain (yang mana sering gw temuin dan itu mengganggu gw), ya that’s their business dan derita gue. Tapi bener deh. Di gw efeknya jadi bukan lagi “gue bisa mengatasi segala jenis orang just for sake gw udah tau pola2nya”, not at all.
Efeknya justru nih ya : gw jadi makin selektif terhadap orang-orang mana aja yang gw anggap cocok dengan gw.

Selama 1,5 tahun terakhir, gw lebih merasa terbuka mata dengan diri gw sendiri instead of memahami orang lain. Seriously. Gw baru tau kalo gw yang sarkas ini bisa nangis mewek2 kalo terminasi ama klien gw. Gw baru tau kalo ternyata gw segitu gak bisa empatinya ama orang2 yg lg berbelasungkawa, gw jadi pengen jambak cewek2 yang lemah dan mau aja dibegoin dan dipukulin cowok, and so on and on.

Nambah lagi, gw jadi mudah sekali nyinyir dan dikit2 komen terhadap apapun dan siapapun yg gak fit in ke gw. Gw males dan geregetan sama orang lemot, orang jayus, orang labil dan dikit2 whining, dsb dsb krn merasa itu gak masuk aja gt ke diri gw (dengan bekal gw jd tau tentang diri gue tadi).

Jadi, yang terjadi adalah gw malah jd lebih selektif (kalau tidak mau dikatakan sempit), I don’t mind hating people or judging people krn gw yakin they’re just nothing dan ya terserah lo deh suka-suka gw mode on. I know this is sucks, tapi itu yg belakangan gw rasakan.

Ada beberapa orang yg hmmm…tampak mengagung2kan bekal yg mereka peroleh. Mereka bisa tes A, B,C = mereka bisa ngerti manusia. No. Gw actually terganggu sih dengan orang2 kayak gitu. (Yang mana sekaligus menjelaskan betapa gw sendiri masih gak ngerti apapun tentang manusia, “Kok ada ya yg kayak gitu?”).
Mereka menghabiskan waktunya dengan dia lagi dia lagi. Coba deh liat timeline atau FB mereka, somehow isinya ya itu2 aja. Orangnya jg itu2 aja. Topiknya ya itu2 aja. Get a life, please.
Gw ngomong gini bukan karena berasa paling gaul atau gmn ya, justru gw sangat ingin merangkul kembali orang2 yg hilang atau terabaikan gara2 hubungan gw sama ilmu Psikologi ini. Apa gak capek ya bahas yg itu2 aja. Gw bangga gw bisa haha hihi dan enjoy my hobbies while I know others can’t, (lebih tepatnya gak mau kali ya bukan gak bisa). Gw bangga, biarpun sedikit, gw masi punya orang2 yg sepaham ama gw tanpa gw minta.
Gw ingin menjauh dari segala sempit dan sesak yang bikin meledak. I’m talking about the people ya, not the reports.
Tell me I’m an introvert, rigid and so on. But I think I’d better be like this, to keep myself sane.

Beneran semakin lama bukan cuma dunia yang makin gila, gw lebih takut jangan2 gw sendiri yang nyaris gila.

Demikianlah nyampah dini hari ini. Dan tanpa mengurangi rasa hormat, boleh komentar kalo merasa setuju aja. This time I don’t want to argue anymore. Capek.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s