Yang Selalu Teringat dari #KLD17

teman-teman Klinis Dewasa Ui angkatan 17

teman-teman Klinis Dewasa UI angkatan 17

Gak terasa sudah 1,5 tahun gue berkeliaran di kelas bersama mahluk-mahluk segala rupa dan tindak-tanduk diatas. 25 orang, 25 kepribadian, teman-teman KLD 17 UI. Buat gue pribadi yang mulutnya kadang minta diayak ini, hari-hari bersama mereka tak jarang memancing kebingungan, kekesalan, sumpah serapah dan hal-hal sampah lainnya yang membuat gue semakin tak sabar untuk segera lulus dan meninggalkan drama kehidupan gue bersama mereka. (baca aja postingan2 gue soal kuliah, then you’re gonna find out by yourself).

Namun ternyata, setiap kali gue sampe kampus dan bertemu dengan mereka, entah salah satunya, salah tiganya atau bahkan semuanya, tanpa gue sadari, i feel sort of connected. Ada part of myself yg sedikit banyak serupa dengan mereka.

Buat gue pribadi, teman-teman sekelas gue adalah simbol manusia2 penuh idealisme dan tekad yang kuat, yang mana somehow gue udah jauuuuhh sekali dari nuansa-nuansa tersebut. Tapi energi itulah yang lagi-lagi tanpa gue sadari turut membantu gue ke arah yang lebih posittif, membantu gue mengerjakan seluruh kasus2 gue, membantu gue mengurangi kecemasan gue akan masa depan gue sendiri.

Kemarin kami ber-26 baru saja menjalani kelas kami terakhir. Setelah hari itu, kami akan menempuh jalan kami masing-masing untuk last battle, alias menyelesaikan tesis. Mungkin tawa dan sumpah serapah itu akan terdengar di sudut cafe atau restoran di sebuah Mall, di tempat gym sambil treadmill (awas kepeleset), di pesta kawinan si A, B, atau C (oh salah ya?), atau mungkin di sudut kecil ruang ekspan tempat kami biasa ngumpul untuk nyampah sampe ngetik2 deadline.

Gue merasa kesulitan (let me say it kind of speechless), untuk menjelaskan lebih jauh tentang kebersamaan kami. Pas kmrn kelas souldarama aja, gue nyari kata2 sampe mata juling, how to describe me, even more how to describe them dan efek mereka terhadap diri gue. Duluuuu sekali, di postingan sebelum-sebelumnya, gue pernah punya khayalan sederhana, gue pengen menghabiskan 1 hari (atau setidaknya ½ hari atau 1/3 hari) dengan masing-masing dari mereka. Sampe sekarang keinginan gue itu belum terwujud sepenuhnya. Gue masih punya 4 bulan lagi kalau gue mau hahaha, tapi ternyata, semua dari mereka pernanh membagi satu momen sederhana bersama gue. Berikut gue coba share secara singkat ya (diurutkan sesuai absen) :

Citra – Gue to be honest jarang sekali berbagi cerita dan ngobrol sama Citra untuk hal personal. Mostly gue hanya observasi2 dan selintas belajar memahami dirinya lewat teman-teman yang lain. Tapi gue ingat sekali, 2 kali gue nebeng mobil Citra, pertama untuk antar fotokopian di Cano, kedua, cuma sampe stasiun UI (wakakak penting abis). Setiap kali ngeliat Citra, i wish i had that body when i was high school hahaha (maap ya Cit ingetnya malah fisik). Citra so much reminds me of my highschool friends.

Dhea – Dhea ini ternyata oh ternyata adalah temannya adek gue. Even younger than my own sister. Dia paling bungsu di kelas kami. Diantara kesalutan-kesalutan gue terhadap kepintaran dan ketegarannya, gue beruntung bisa membagi beberapa momen anak susah selama perkenalan kami. Dari mulai makan malam bareng di sekitaran Depok (dan misi mencoba semua tempat makan di Jalan Margonda Raya yang tak kunjung kesampaian), namun yang paling paling berkesan adalah momen geeky bodoh saat semester 2 awal, gue nonton Festival Sinema Eropa bareng dia. Meeting point sih keren nih di GI, tapi begitu ke Menteng, malah pake acara nyasar dulu. Tapi disitulah awal gue mengenal Dhea dengan lebih baik lagi. Im gonna miss my bungsu in so many years ahead.

Bona – Hadeh kalo mahluk 1 ini gue gak paham lagi deh *geleng-geleng kepala*. Dari semua yang gak penting bersama dia, ada 1 momen yang paling penting dan akan gue ingat sampe gue pikun karena ini menyangkut keselamatan jiwa gue. Apakah itu? tentu saja momen saat gue nebeng mobil dia menuju RSMM-Bogor dan mobil dia bannya kempes pas lagi di jalan tol lajur paling kanan. HUWAAAAA. Eh tapi gue amazed karena dia gak panik, sementara gue udah bok bok bok bok. Lucunya kejadian itu terjadi saat semalam sebelumnya dia belajar cara ganti ban di rumah dan pas dpt kesempatan praktek, dia segenn dengan alasan : takut tangannya kotor kena oli. Capedeh. Hahaha. Nah kalo deket2 Bona emang kadang2 banyak malaikat dateng sih, contohnya adalah bapak2 petugas jalan tol yg bantuin kami ganti ban. Gue kalo inget kejadian itu antara pengen ketawa sama geregetan gemes, hahaha.

Della – Yang menarik dari Della adalah sifatnya yang kadang2 kinky, ajaib tak berkesudahan. Gue belom pernah spend time berdua dengan dia, tapi momen-momen saat dia bilang Ben Affleck itu ganteng, RPM itu nyandu, serta saat dia menunjukkan sms sopir setianya ke gue, masih gue inget terus (terutama si Pak Rusdi, sopirnya hihihi). Kalo nanti gue kesambet pengen nge-gym, gue pasti akan tarik Della jd personal trainer gue.

Mbak Dessy – Bundo adalah superwoman superbundo dimata gue. Kalo gue seusianya sekarang, dan dalam kondisi kehidupan seperti dia saat ini, bok boro2 mikir kuliah lagi, pasti gue akan ada di Hawaii bersama suami gue yang ganteng dan anak gue yang lucu. I mean seriously, gue selalu salut dengan orang-orang yang masih merasa kuliah lagi itu perlu saat secara kasat mata gue menilai they are already have everything, Bundo satu dari sedikit orang yang seperti itu. Terima kasih untuk tebengannya sampe PP (akhirnya ngerasain juga nebeng Dessy Ilsanti gitu loooh *panas-panasin Bona Sardo*), dan obrolan2 garingnya selama perjalanan. Bundo, kita masih ada 1 babak lagi nih, nge-tesis bareng yang lagi2 gak jelas kayak masa depan gue (tetepp self-blaming). Insya Allah, makna surga di telapak kaki Ibu, benar adanya. Mari melangkah bersama demi surga lulus nantinya. Hahahha.

Edo – Sebagai kepala suku, tentu sja banyak informasi yang gue dapet via Edo, terutama tentunya password Proquest dan hal2 khas akamsi (anak kampung sini alias UI sejati) lainnya. Menarik adalah bahwa ternyata dibalik bacaan rutinnya yang jurnal2 dari negeri adidaya, Edo juga ternyata masih meluangkan waktuya untuk nonton film dan beli dvd (bajakan hahaha). Gue inget sekali pembicaraan singkat antara gue dan dia saat kami jalan dari kampus (stasiun UI)- tukang dvd di Kober- sampe kost2an kami yang jaraknya sangat berdekatan, dari situ gue tau film2 yang berkesan buat Edo. Salah satunya genre film perang. Hihi. Yang paling gong adalah bahwa ternyata Edo bisa menyebutkan film chickflick View from the Top-nya Gwyneth Paltrow sebagai film yang menarik dari sudut pandang feminisme dan itu gue baca di salah satu status FB-nya jaman baheula. That’s….nice, Do! 😀

Nana – Gue suka heran mikir Nana itu pernah PMS gak sih? She smiles almost everyday to every single people in the nicest and most genuine way. Yang khas dari Nana itu enerjiknya sih. Kebayang tiap nebeng dia tuh di mobil kalo cerita kayak abis pemanasan mau olahraga gitu lho, enerjik banget, padahal lagi macet2nya. Momen berkesan sama Nana adalah pas kita tanding volley di Psygames, Nana salah satu yang menularkan rasa percaya diri gue bahwa gue setidaknya bisa maen volly meskipun serve ama mukul bola sekali dua kali doang hehe. Rumah deketan malah belum pernah olahraga bareng, we should do it sometimes, yah Na.

Dewi – Mamih Dewi ini adalah representasi dari angkatan gue yang sesungguh-sungguhnya. Harusnya gue bisa behave seperti dia bukan seperti anak ilang bermasa depan suram hahaha. Gue salut dengan Mamih terutama saat di RSMM, dimana dia bisa tetap mengaplikasikan ilmu fasilitator dan trainer nya itu ke pasien2 di bangsal, alias ikrib cyiinnn.. hihihi. Paling lucu kalo Mamih udah jualan produk2 kecantikan macam lulur dan creambath rambut, langsung makin keliatan jiwa marketingnya. Tapi gue percaya sih, dibalik sisi perfeksionisnya, Mamih adalah sosok yang kuat dan she must be face manyyy challenging moments in her life untuk bisa jadi kayak sekarang ini. Di rumah, di kantornya dulu, dan see? Jd panutan juga di kelas.

Rena – Satu yang paling berkesan adalah saat gue sama dia pas di Bogor nekat jalan-jalan berdua pas hujan gede dengan payung ukuran maxi, nyambung2 angkot becek2an demi ke…..Factory Outlet dan beli Martabak Air Mancur. Shit banget hahahahhaha. Kalo jalan sama Rena, gue bisa jadi ketularan cuek dan bodo amet meskipun gue tau saat itu gue nggak bangettt. Hahaha. Sedikit banyak persamaan antara gue dengan dia gue temui saaat kami jadi pair buat mata kuliah MOW di semester 2. Nice to share with you, Ren. Oh, besok2 ni anak pasti akan terus terusan gue tagih invitation gratis buat berenang di Fitness First hihi, semoga dia selalu siap sedia dan inget sama gue.

Ika – Setelah sekian lama, akhirnya ya Iks, kita punya our time berdua meskipun itu hanya nonton Negeri 5 Menara di pelosok Bintaro sana. Menghabiskan waktu dengan Ika, baik itu di mobil maupun di tempat lain selain kampus itu bawaannya kayak pengen  : Iks, mari kita mabok sampe pagi, alias kayak pengen memberikan kesenangan dan berbagi hal-hal rileks escape sejenak dari realita, hal ini disebabkan oleh kesalutan gue atas sosoknya yang mungil namun tidak semungil semangatnya, di sisi lain, seperti bisa merasakan kecemasannya juga. Terima kasih untuk tebengan2nya yak Ika, semoga kita bertemu di antara hutan-hutan beton di pusat kota Jakarta kelak dengan karir kita masing2 hahahahah. Amin pake toa.

Rini – Gue terus terang paling banyak gemes dan geregatan sama si Rini simply karena kecepatan dan bahan bakar kami sepertinya berbeda. Mungkin gue terlanjur minum Pertamax Plus dan Rini masih minyak singer so menjadi tantangan tersendiri buat gue untuk mengimbangi ruang geraknya. Tapi ya biarpun begitu, satu nih, si Rini gak pernah protes dan menceramahi gue meskipun gue solatnya bolong-bolong mengarah ke males hahahaha, trus dia juga mau2 aja gitu lho gue suruh2 dengan sangat direktif hihihi maap ya Rin. Untungnya dia masih waras kalo gue mintain saran atau masukan dan ya, mungkin sesekali gue harus sepasrah dirimu ya bow. Hehehe.

Boumb – Gue gak akan pernah lupa masa-masa bodoh kita naik KRL trus nyambung bis ke Sency demi sebongkah burger Burger King. Huahahahaa. Oh, sama pas dulu nyari2 baju (tetep di Sency) dan akhirnya end up dengan beli ikat pinggang yang serupa di Animal. Bok plis banget itu dark age-nya gue sama Boumbi selama kuliah di KLD. I will always remember how much you love Burger King more than you love yourself, dan tentunya stok bayi2 bulat mengemaskan yang tersimpan di folder BB nya. Gue doain semoga BB nya ilang (tapi ganti Ipad 3) trus ada yg nemu dan buka folder bayi2 itu trus menuntut dirimu atas tuduhan pelanggaran hak cipta foto2 bayi. Hehehe.

Tika – Diantara banyaaaaaaaaak sekali hal-hal impulsif yang kita lakukan, Tik, beberapa yang gue rasa mengubah hidup gue adalah : pas kita nonton Onrop Musikal! Barengggg huahaha dan dengan centilnya foto bareng Joko Anwar trus pulang2 dengan setengah celeng karena ngantuk berat. Dari elo lah gue bisa punya akses langsung untuk melihat keringat Ario Bayu yg saat itu mentas dari jarak dekat (teteupp euy si AB). Trus juga momen makan di Hanamasa yang berakhir dengan gue pusing2 gak bisa bangun dari kasur disinyalir karena kolesterol tinggi. Terima kasih juga atas sharing di musholla lantai bawah gedung B on one of my weakest moment ya, dan menyemangati gue untuk ikut konseling perdana seumur hidup gue.

Nna – kalo sama Nna, restonya lebih gawat lagi, yakni : Domino’s Pizza. Kebayang gue berdua sama dia bisa habisin Domino’s ukuran medium plus seliter Coca Cola dan side dish Chicken Wings dalam sekejap mata. Prestasi yang akan gue ingat adalah saat berhasil bawa dia naek becak Huahahaa dan naek angkot selama di Bogor. Paling gong adalah saat kita dari Botani ke kost-an, trus nyambung2 agkot dan di akhir dia ngomong gini sebelum turun : “Eh in, kita turunnya gak bisa di sebelah kanan aja ya? Kalo gini kan nyebrang..”, semacam –bok-emang-angkot-lo?-momen yg masih jadi sampahan gue sampe skrg.

Hanum – Hanum patut diculik karena dia punya ponakan yang minta diculik (paham ga tuh ama kalimat gue?). Gue inget banget dulu kita seruangan pas tes masuk wawancara bareng dan elo adalah yang paling sial karena pas games tebak kata, kertas lo berisikan kata yang salah cetak hihihi. Coba tolong ya sering2lah kau mengupload foto ponakan mu yang sehat itu, Num. Dan banyak-banyaklah bergaul dengan remaja-remaja di luar sana (ditabok laporan Handayani hahaha). Mungkin ada saatnya kelak lo mematikan laptop lo dan coba ping gue lalu kita jalan2 ya neik, mungkin nonton atau makan2, atau… renang? (mungkin ga tuh) hahaha.

Decha – kalo sama Decha, momen gak pentingnya adalah jalan2 ke Gramedia Depok nyari…spidol buat kasuistik. Hahahaha. Oh ya trus makasih ya Dec atas pinjeman kasur busanya yang ternyata gak kepake di Bogor tapi kepakenya justru pas Dhea nginep di kost-an gue. Gue akan selalu inget Decha sebagai orang pertama yang mengenalkan gue dengan moda transportasi ajaib abad ini : KRL Jabodetabek. Wakakak. Masa asus saat pertama kali naek kereta, nunggu di stasiun berdua, pas sampe kereta karena kosong kita foto2 berasa di Bullet Train ala Eurotrip. Dec, kalo gak gara2 ulah elo itu, mungkin sampe sekarang gue tua di jalan karena gak berani2 naek KRL. I owe you.

Rangga – Pertama2 pastinya terimakasih udah jadi partner in crime selama institusi. Rangga adalah satu dari sedikit laki-laki yang tahan menghadapi gue yeayyy (abis ini pasti dia stress stadium 4). Diantara banyak institusi, salah satu yang paling mati gaya adalah pas di Puskesmas hahahahahhaha itu sinting banget ga ada kerjaan dan susah nyari lunch. Akhirnya satu hari kita nekat makan bakmi Margonda dgn 1x naek angkot dan that’s the best lunch of those days in Puskesmas. Pada akhirnya gue merasa beruntung berpartner dgn Rangga karena dia adalah asus dan akamsi sejati wakaka, kebayang nih momen2 janjian dari mulai di depan Antam hingga Terminal Lebak Bulus. Gak ada yang kerenan dikit ya? 😀 yang paling asus adalah dempet2an di KRL Ekonomi Cikini-Depok saat pulang dari RSMASK, oh meen semoga gue gak lupa kacang akan kulitnya ya.

Nia – Pas awal masuk KLD semester 1, gue udah harus berterimakasih sama Nia karena gue banyak tanya soal Psikologi UI dan tetek bengeknya ke dia. Termasuk di dalamnya bersama2 naik bikun (me for the first time) ke Rekstorat untuk urusin password wifi. Yang paling gong adalah akhirnya gue bisa liat Nia berenang dan momen berenang malem2 (bareng Tika juga) *like a bosss*. Suatu saat nanti, gue tau gue akan hubungi dia kalo gue gak berani nonton film horror dan semua orang sudah kapok nemenin gue (gue percaya Nia tahan hahha).

And she’s also a talented actress. Dua kali gue liat Nia akting, pertama pas roleplay Support Group, dan kedua kemarin pas di psikodrama. Lanjutkan!

Retha – Sembah sujud buat Retha alias Thatung itu terjadi di kuliah2 semester 1 terutama the shitty statistik dan KAUP. Wakakkaka. Makasih Thatung udah memilih gue sbg paling genuine sekelas dan biar gue sadarkan bahwa pilihan lo adalah salah totalll hihii. Yang paling gak bisa lupa dan lagi2 utang budi adalah satu momen saaat gue sama Thatung menghadiri event bareng anak2 Atma dan dosen2 kita di  sebuah resto di daerah Kebon Sirih. Pulang2 hujan deras gw yg nebeng dia pun nekat lari nyebrang Margonda buat masuk kost-an dan ternyata pagernya udah dikunci dan tadaaaaa gue pun kembali basah kuyup minta perlindungan Retha di flatnya. Oh no, diantara banyak masa2 dimaana you just wanna kick my ass karena kebodohan gue, thanks for always keep me stays. Salam buat kokoh lo ye.

Olav – bang Olav itu typically my type of guy bangettt deh (kecuali terms bahwa dia maling hahahaha tetep dibahas), black sweet, indeed. Jadi inget dulu pertama kali ke RSMM bersama Bona dan Wita mengunjungi gubuk derita Abang di ruang Rama, trus juga pas mati gaya di Bogor, gue tau kalo Abang is just a single ping away meskipun woyy lama banget bales bbmnya plis jemput gue dan Nna (ingetttttt banget!). Salam sellau buat Mbak Fe, dan makasih karena sudah mengantar gue keliling Bogor bersama Nna, satu2nya perjalanan paling mewah yg gw dapet selama disana (karena naek mobil lo hahaha). PR buat Abang : tolong segera tonton “Requiem for A Dream”. 😀

Wita – Yahelahh kalo ni anak hmm udah pasti yang pertama gue kontak kalo gue mau bajak2 orang buat indehoy. Wit, super thank you, pasti udah tau dong buat apa, kalo gak ada lo, valentine’s day gue tahun ini tinggalah menelan air liur ngarep, (tetep soal misi oknum AB). Dialah salah satu dr sedikit aak KLD yg bales BBMnya paling cepet (kecuali mungkin lately saat gadget dia smakin banyak dan sinyal flat dia semakin butut). Gara2 Wita, gue jadi terbiasa nonton film Thailand, trus deg2an juga ngerasain pas ngebut nyaris jam 11 malem menuju kost-annya gara2 asus naek bis + angkot dr GI ke Depok. Untung oh untung lo bukan adek kandung gue, Wit. Beneran deh. *berat diongkos ntar* hahaha ;D

Manik – Fan, semoga gak lupa ya lo sama masa2 menantang kita saat pertama kali ke PSKW Mulya Jaya disangka 2 bocah  minta sumbangan padahal S2 gituuu lhoo plis deh *toyor pegawai sono*. Trus pas impulsif ke GI jauh2 dari Pasar Rebo menembus hujan demi beberapa batang Churrosss hmm (i can feel the smell of the white chocolate and cinnamon from here). Best performance Fani itu adalah saat dia jadi co fasilitator pas kita Dinamika Kelompok. Beyond my expectations. Pasti nanti dia akan jadi aunty kebanggaannya Heidi, sang ponakan yang botak lucu.

Titis – Neng Titis ni sakti karena kemana2 nyetir Panther padahal mungil2 polos gitu penampakannya (kok deskripsi gue aneh ya?) hehe. Neng, thanks udah boleh berbagi umah selama kita di Bogor, meskipun lo harus mengalamai sexual traumatic abuse dengan penampakan gue selama di sana ya.. hahahahaha. Ayo kita bersama Bundo selesaikan itu si solution-focus meskipun kita sendiri gak tau apa solusi buat tesis kita sendiri ini. Titis adalah MLM paling handal karena dia gak maksa kalo dagang, tetap tersenyum meskipun dagangannya lagi sepi order, dan yang paling gong sih : asik bentar lagi ada pesta!! (you know what lah ya) 😀

Tiker – satu2nya momen dimana gue cukup bisa mendeskripsikan Tiker adalah saaat kami berdua bersama teman2 lain ke Bali di awal tahun 2011. Disanalah penilaian gue bahwa dia cuek dan sporty langsung melekat kuat. Sempet2nya rafting cobak.. zzzz tapi ternyata bisa juga jadi turis gaya selama di Bali. Walaupun belom sempet spend time bareng, satu foto kita berdua tampak belakang di Pantai Dreamland masih tersimpan dan masih suka gue buka2 lagi simply karena ada seorang Titis Ciptaningtyas dalam momen liburan gue yang paling berkesan. Keep kicking the ball, yah bok!

Vivi last but not least, yang unik dari Vivi adalah matanya yang hilang saat tertawa. Beberapa kali suka jalan bareng dari kampus ke Barel dan bahkan yang mungkin paling berkesan saat gue dengan labilnya minta dia nemenin gue ke Cano untuk fotokopi and we end up beli Karuhun, keripik dan basreng-nya. Vivi, thanks udah bolehin gue nginep di flat lo yang nyaman itu (krn kasurnya 2 hehe) meskipun cuma 1 malam. Pertahankan tawamu, ya Nak. 😀

Demikianlah ulasan gue tentang teman2 sekelas gue. Mungkin terlalu dini ya, sambil kita sbnrnya masih bareng2 meskipun ga akan serempak kayak di kelas. Well, terllalu dini tapi nilah kayaknya momen yang paling pas buat gue launching tulisan ini. Sebelum otak gue keropos gara2 tesis dan waktu2 lain yang entah buat apa di depan sana. Terima kasih teman-teman.

bersama dosen-dosen kami

bersama dosen-dosen kami

Criminal Minds dan Derek Morgan Always on My Mind

Gara-gara abis nonton salah satu episode basi Criminal Minds, jadi inget kalo gue belom sempet cerita disini kalo gue sukaaaaaaak banget ama serial yang satu itu. Sebenernya kalo diinget2, gue termasuk yang telat gitu deh nonton Criminal Minds, duluuu banget, gue awalnya suka nontonnya CSI, drama-drama kriminal insvestigasi gitu deh pokoknya. Inget banget tuh pas kuliah tahun kedua, sekitar semester 3an gitu, awalnya dipinjemin sama temen gue yg udah duluan nonton CSI : Las Vegas. Nah trus dicoba-coba nonton, keterusan, dan ketagihannn.. modalnya masih modal minjem dvd temen karena waktu itu di rumah belum langganan tv kabel. Lamaaaaaa banget betah nonton CSI-nya, (sampe sekarang sih masihh banget!), terutama sama CSI : Las Vegas dan CSI : NY. Bayangkan udah 10 season Vegas, dan mau ke season 7 NY (yang mana belum beredar2 dvd nya maupun tayangannya di AXN, zzzz).

Sampe akhirnya, nah ini dia gue lupa sih awalnya kenapa tau2 tergoda untuk nonton Criminal Minds. Beberapa temen2 gue udah ngomongin serial itu dan banyak dari mereka tergila-gila. Trus karena udah pasang tv kabel, gue trial deh nonton 1 episodenya, pengen tau kayak gimana. Awalnya emang terasa bedaaa banget dan kagok banget secara selama bertahun2 pakem jiwa investigasi gue sangatlah CSI-minded. Seperti ada distorsi kognitif karena di Criminal Minds kan gak perlu ada barang2 bukti dan perspektif nangkep pembunuhnya sungguh berbeda dengan CSI yang menjunjung tinggi sterilitas TKP dan pentingnya bukti meski secuil. Hihihi. Dengan tekad kuat, gue mulai pelan-pelan ngikutin dulu di TV, eh lama-lama jadi kebiasaan. Season pertama kali di Criminal MInds yang ditonton itu season 3 apa 4 gitu deh lupa. Pokoknya tau2 ada beberapa episode dimana salah satu anggota timnya BAU (Behavioral Analysis Unit, semacam cabang FBI khusus profiler, alias geng-nya Criminal Minds), namanya Derek Morgan, dan disitu dia diceritain lagi flirting2 cinta platonis gituuu deh sama Penelope Gracia, rekan kerjanya sampe harus nemenin Penelope di rumahnya karena  ada teror pembunuhan. HUAAAAA dari situ jatuh cinta langsunggggg polll sama Derek Morgan, sampe sekarang! *yak mulai gak fokus*

Bicara tentang Criminal Minds, ternyata bener kata orang-orang yg dulu pernah rekomendasiin serial ini ke gue, terutama temen2 yang emang belajar Psikologi. Bukan gimana, ini serial emang psikologiiii banget bangetan. Jadi skill mempelajari manusia lewat analisa perilaku trus dicari motif dan background si pembunuh itu ternyata sangat seru. Jadi singkat kata, buat yang belum tau gambaran Criminal Minds kayak gimana, intinya sih mereka nyari pembunuhnya tu dengan mengumpulkan informasi2 tentang caranya dia ngebunuh, trus kira2 dari caranya itu, apa sih yang dia incer, ada misi personal kah, ada trauma di masa lalu kah, dsb dst, trus liat juga daftar korbannya (yap, mostly pasti pembunuh berantai yang dibahs disini), korbannya punya kesamaan gak, kenapa dia bunuh si A, B dan C di trackback ke belakang jangan2 dulu pembunuhnya benci ama orang2dengan background kayak A, B dan C, dsb dst. Seruuu kaaan?? Hihihi.

Nah belakangan makin tereinforce gara2nya pas suatu hari lagi bimbingan laporan sama salah satu dosen, trus gue kesulitan gitu deh ceritanya pas disuruh gambarin kira2 klien gue orangnya kayak gimana. Jadilah main tebak2an ama dosen gue itu, trus ujung2nya dia nyaranin gue nonton Criminal Minds, woowwww (untung udah nonton duluan meskipun tetep aja bego). Akhirnya obrolan malah nyangsang ke tokoh favorit di serial itu. Si mbak dosen justru suka sama Aaron Hotchner, kepala geng BAU yg menurut dia lucu (well, ya oke deh mbak!), sementara gue malu2 bilang, “ saya suka Derek Morgan mbak” *nyengir* sejak itu, gue jadi dapet pembenaran bahwa serial ini emang keren dan a must see alias wajib tonton.

Kelebihan lain dari serial ini ternyata ya, biarpun udah ditonton berkali2, aura tegang dan creepy-nya itu masih terasa banget. Oiya, serial ini juga SEREM literally. Gue kalo nonton masih suka tutup kuping dan ngintip dari balik bantal, apalagi kalo malem2 dan nonton sendirian plus home alone whuaaaaa, parno banget! Mereka suka nampilin adegan2 yg kejam karena suka ada mutilasi atau darah dimana2 gitu, apalagi kalo pembunuhnya sintinggg psycho gitu. Trus kelebihan lainnya adalah, mereka fokus banget sama alur yg ada, gak drama menye2 kayak serial lain. Ya kadang sih emang disinggung soal kehidupan pribadi masing-masing tokohnya, tapi itu gak menganggu keseluruhan cerita di tiap episodenya, malah bikin penontonnya jadi jatuh simpati dan pasti punya tokoh favorit. Criminal Minds juga sebenarnya gak perlu ditonton secara linear dari season 1, kalo misalnya pas nontonnya baru2 ini pun masih bisa nyambung kok, gue aja baru nontonnya dari season 3-4-1-2-5-6, hihi.

Temen-temen gue banyak yg suka sama karakter dr Reid, soalnya masih muda, geeky, cute dan pastinya PINTAR. Emang sih dia suka stole scenes gitu, tapi kalo gue pribadi, urutan pertama so pasti Derek Morgan. Dulu ya waktu awal2 tergila2 dan nonstop maraton dvd Criminal Minds, saking mabok Derek Morgan, gue pernah mimpi jorok gitu boookkk ahahahahahhahahahaha, gak perlu diceritain lah ya mimpi joroknya gimana, pokoknya sampe nge-tuit 140 karakter yg ditulis cuma Derek Morgan 1000x, foto bbm ganti Derek Morgan, yah terokupasi gitu lah pokoknya. Gue suka sama karakter dia dan tentunya orangnya ya, soale di serial itu dia selalu terlihat serius, cool, tapi bisa so sweeeeeett banget! Tipe2 flamboyan gitu dehhh. Tapi aku sukaaak!! Trus kan ya, kalo alasan personal, lag2 emang gue gak pernah tahan kalo liat cowok berkulit coklat2 gelap gitu trus badannya oke trus suaranya berat aaaaaak! *jadi inget si you know who di bbrp postingan sebelumnya*

Semoga di season 7 (yg gue belom nonton gara2 takut bablas gak kepegang tesisnya ntar *alasaaan* haha) si Derek Morgan masih eksis dan plisss jangan kena tembak atau matik yaaaa sayang, kamu harus tetap hidup untukku *mulai gila* dan satu hal, dari serial ini sebenernya pesan moralnya : gak perlu susah2 kuliah psikologi bertahun2, cukup nonton Criminal Minds secara rutin, niscaya Anda akan mampu belajar memahami manusia bahkan hingga sisi tergelapnya. *awas lebay*

PR terakhir : coba temukan 5 (lima) persamaan dari 2 foto pria dibawah ini. UHUYY!!

Derek Morgan dan Ario Bayu (again?, yes!!)

Derek Morgan dan Ario Bayu (again?, yes!!)