Menonton Titanic, Mengenang Kenangan

Menonton Titanic lagi (walau kali ini tentunya dengan format 3D) membuat gue gak tahan untuk membandingkan hidup gue dulu, 14-15 tahun lalu, dengan saat ini, April 2012. Pertanyaan bagus dari gue nih, buat yang udah menghibahkan 3 jam 15 menit dalam hidupnya (again) untuk nonton lagi versi 3D yang biasa aja hampir gak ngaruh itu, adalah :

“Jadi, bagaimana kamu membandingkan hidupmu saat Titanic datang pertama kalinya, hingga saat ini kamu kembali lagi mengunjunginya? Any significant differences?”

Gue masih ingat sekali saat Titanic tayang sekitar tahun 1998, waktu itu gue masih duduk di kls 1 SMP. Semuda-mudanya orang gak boleh masuk nonton Titanic, hahaha. Oh sayangnya saat itu gue sudah sangat familiar dengan Romeo dan Juliet dan salah satu yang bikin semangat adalah pengen liat Leonardo Dicaprio lagi. Hihi. Berangkatlah suatu siang dengan dianterin bokap, ke bioskop di Bintaro Plaza yang dulu bulukk dan busuk banget, bareng 2 temen sekelas gue, Nidya dan Anta. *detil*. Penonton penuhhh dan pas adegan jack Dawson awal2 film baru keliatan matanya doang lagi gambar, penonton (dan terutama gue), langsung mendesah, “haaaaa..” *omg, dulu yoi banget ya berasanya* dan itulah pertama kali dan terakhir kalinya gue nonton Titanic di bioskop. (kalo di RCTI udah auk dah brapa kali).

14 tahun kemudian, kondisinya, gue saat ini 26 tahun dan masih figure out apa yang ingin gue lakukan buat hidup gue (oke ini curhat), dengan kesadaran penuh, pergi ke PS sendirian dan beli tiket pertunjukan jam pertama untuk nonton Titanic 3D. Selain emang penasaran banget ama versi 3Dnya (yeah, so what?), motivasi yang lebih besar adalah….nostalgia. Tentunya pengalaman 14 tahun lalu di Bintaro Plaza tidak bisa diganti dengan belasan kali RCTI memutarnya dari layar kaca. That’s different. And still, secara subjektif gue akuin, Titanic masih menunjukkan giginya untuk sekedar bikin gue, merinding hanya dengan dengerin scoring musiknya (si My Heart Will Go On yg kondang itu), dan narasi dari Old Rose yang bahkan gue 80% inget dialognya hikssss.. bedanya untung gak pake mewekkk (di RCTI malah mewek mulu)..

Trus karena gue orangnya suka kontemplatif gak penting, gue pun wondering, kenapa ya film ini begitunya bisa menghadirkan efek tertentu pada tubuh gue (ya merinding dan berkaca2 dikit itu tadi). Menurut gue ya, jawabannya, simply karena film itu sendiri bicara tentang nostalgia, pengalaman mengenang kembali masa lalu yang indah, tapi juga pahit. Coba deh inget2, gue dari kemarin udah inget2, film yang mengisahkan rentang waktu terpanjang seseorang mengenang perjalanan cintanya itu ya cuma Titanic. Bagaimana Old Rose yang udah nenek-nenek banget akhirnya memejamkan mata dan menceritakan tentang Jack Dawson, yang mana udah 80an tahun yang lalu tersmpan rapat, bagi gue adalah suatu proses nostalgia yang very beautiful.

Gue jadi somehow percaya apa yang dikatakan oleh Old Rose di dialog ini :

Lewis Bodine: We never found anything on Jack… there’s no record of him at all. 

Old Rose: No, there wouldn’t be, would there? And I’ve never spoken of him until now… Not to anyone… Not even your grandfather… A woman’s heart is a deep ocean of secrets. But now you know there was a man named Jack Dawson and that he saved me… in every way that a person can be saved. I don’t even have a picture of him. He exists now… only in my memory. 

Ini dialog yang bikin gue nangisss sesenggukkan suatu malam di depan TV karena entah kenapa gue sangat setuju dan akhirnya terokupasi hahaha. Gue pengen seperti Old Rose. Rasanya romantis bisa memiliki kenangan indah akan seseorang di masa lalu yang demikian membekas, dan tidak tercurhatkan kemana2, cuma disimpan dalam hati, gak punya bukti apa2, gak ada foto atau apapun, semua hanya bergantung pada memori. Trus gue wondering, mungkin gak ya gue bisa punya kenangan seperti itu, even gue melanjutkan hidup gue, menikah, punya anak, tapi ada 1 orang yang tanpa sadar gue bawa terus dan seperti dialognya, “I’ll never let go.”. Hwaaa pasti gue kalo udah nenek2 gitu nangis sampe sekarat deh kalo disuruh ceritain lagi.

Nah ya menurut gue itu tuh yang bikin Titanic jadi tempting banget buat ditonton lagi, terutama buat perempuan2 haus nostalgia macam gue ini, yang apa2 pasti dihayatin dan rada lebay reaksinya. Hehe.

Jadi, meskipun Titanic bukan film favorit gue banget-banget, kenapa dengan senang hatinya gue ingin selalu mengunjunginya, alasannya ya sesederhana bagaimana Old Rose mengenang seorang Jack Dawson. Bagi gue, menonton Titanic lagi adalah mendapatkan indahnya perasaan mengenang. Seperti lagu My Heart Will Go On yang belum bosen gue puter berulang-ulang..

Advertisements

2 thoughts on “Menonton Titanic, Mengenang Kenangan

  1. Iin… hahaha… jujur nih, guee sebetulnya demen blogwalking ke blog personal lo ini dari sebelum”nya loh, hafal deh gue sama kejadian sehari2 hidup lo yg penuh warna warni kayak celana zara yang hilang sampe yg lo ngadepin pasien” gitu… I love your writing, lucu dan touchy in a very warm way,
    dan skarang, since gue juga malem minggu lagi butut di kamar, kenapa gue gak nyampah diblog lo aja yaa 😀
    jujur, gue belon nonton Titanic 3D loh!!! NOOOO…. bukannya gue gak mau ya, gue mau banget, tapi Titanic jelas jadi salah satu tonggak #tsah yg juga penting dalem hidup gue, padahal gue gak pernah suka Rose-nya Winslet loh! Dari dulu gue jelas team #Danes dibanding Winslet, lebih suka liat chemistry Danes and Leo aja, but yes, Titanic dan karakter Jack Dawson jelas bikin gue pertama kali (waktu itu gue lima esde/enam esde kayaknya) bener” diyakinin bentuk nyata dari true love
    walaupun sebelumnya udah banyak dipelajarin lewat kisah” keagamaan maupun fabel, tapi visualisasi cowok pahlawan ganteng yang bener” heroic itu Jack Dawson :’)

  2. hahaha the 3D like i said, rada gak ngaruh tapi bring back the moment kita lagi cinta2nya ama jack Dawson itu yang super ngaruh nontonnya hikss. iya euy bener bgt yg lo bilang : visualisasi True Love. Ini gue iseng aja nganalisa kenapa sampe itu demikian berkesan di orang2, simply emg karena some people seneng aja gitu dikasih reality bites ttg cinta sejati. aaaaa.
    Makasih ya nggi, udah mampir dan nyampah, i am flattered 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s