How Far Would You Go for A Comfort Zone?

Menceburkan diri secara sadar dalam lingkungan baru, dimanapun itu, buat gue (ternyata) bukanlah hal yang mudah. Gue bahkan nggak bisa men-define dengan yakin apakah gue termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mudah beradaptasi atau bukan. Mungkin gue harus tanya ke mereka-mereka yang memang benar-benar menjadi saksi sejak awal gue nyebur sampai akhirnya gue melebur ke dalam lingkungan baru tersebut, atau gue harus ngisi kuesioner dan alat tes tertentu yang bisa mengukur kemampuan gue dalam beradaptasi.

Setelah sebulan menceburkan diri (kembali) ke dalam hutan belantara ibukota dan menjadi bagian dari hamba-hamba budak korporasi, gue mulai sering dihantui renungan-renungan akan masa lalu, terutama lingkungan-lingkungan yang dulu pernah menjadi sebuah tempat yang amat asing, kemudian perlahan-lahan menjadi nyaman dan pada akhirnya gue jadi beratttt banget ninggalinnya. Yang terjadi saat ini, well lebih tepatnya yang gue rasakan saat ini, lingkungan kerja di kantor masih menjadi lingkungan yang asing. Janggal rasanya tiba-tiba diserbu muka-muka baru yang yaa mungkin nggak harus gue tau namanya dan gak harus gue kenal juga sih tapi mau gak mau harus gue terima because they’re part of me right now.

Hari-hari memulai aktivitas pagi hari menjadi perjuangan tersendiri, bukan, bukan soal gue harus bangun pagi since i’m a moring person for sure, tapi karena ada perasaan mengganjal yang sangat besar. Ada ketakutan, takut berbuat salah (padahal ya gue tau nothing’s perfect), takut tidak diterima (oke, fear of rejection ternyata salah satu issue gue haha!), dan hmm lebih banyak sih perasaan unsure terhadap apa yang gue hadapi saat ini ditambah belum bisa menerima kalau gue harus berpisah lagi untuk kesekian kalinya dari another comfort zone ke lingkungan baru yang supposed to be the new comfort zone.

Ngomong-ngomong comfort zone, comfort zone terakhir yang gue huni adalah lingkungan perkuliahan gue di UI. Teman-teman KLD 17 yang udah bareng-bareng selama 2 tahun terakhir. Mungkin kalo trackback sumpah serapah gue di blog, gue harus menjilat ludah gue sendiri kalo inget betapa terkadang menyebalkannya mereka, betapa masa-masa berat kuliah adalah masa yang menyiksa dan berdarah-darah. Tuhan mendengar ucapan gue, keinginan gue yang diliputi rasa kesal dan eneg dan bosan dan sebagainya saat mengucapkannya, Oh Tuhan saya gak sabar nih pengen cepet2 keluar dari UI dan melanjutkan hidup saya seperti semula, bekerja dan menggali berlian buat bekal masa depan dan ongkos jalan-jalan. Haha. Seee, Tuhan mengabulkannya kurang dari 2 bulan sejak gue dinyatakan lulus di sidang tesis. Yang terjadi, dibalik alhamdulillah, gue masih mengeluh, “yaaah jadi udah nih gue kerja?” Belum siap ternyata gue meninggalkan zona nyaman bangku kuliah. Always smells good kan ya. Apalagi belum banyak temen-temen KLD yang bekerja dan terhempas di kejamnya dunia korporasi macam gue. Mereka masih mikir kebaya wisuda, ketemuan sana sini, sementara gue udah harus berpikir keras gimana gue harus bertahan dan nggak malu-maluin diri gue sendiri, almamater dan teman-teman dan tentunya keluarga dengan menahan cengeng akibat gagal move-on dan harus survive di kantor baru. Huaa. Bisa lho mata gue berkaca-kaca suatu pagi pas gue nyari sarapan di kantin stasiun Sudirman sebelum ke kantor. Membayangkan gue pernah beberapa kali melakukan rutinitas yang sama tapi end up nya gue naik kereta ke Depok dan ketemu teman-teman di kampus. Eh sekarang malah beda. Duduk lah gue di peron stasiun. Nunduk sambil buka-buka BB trus nahan nangis, trus bbm salah seorang teman dan bilang kalo gue kangen oi ketemuan dong dan untungnya saat itu bisa ketemuan meskipun cuma berdua. Gak kebayang kalau gue harus merelakan sarapan terenak pagi hari gue demi biar gak jatuh berderai air mata di peron stasiun ingat kehidupan 2 tahun yang berkesan yang baru saja gue alami. Ruangan  kantor yg berada 50-an lantai di atas permukaan laut, gue bisa memandang lepas sejenak ke beberapa penjuru Jakarta, menebak-nebak lokasi A disini, lokasi B disini. Belum bisa gue melupakan salah satu tempat institusi dimana gue sering kesana, letaknya gak jauh dari kantor. Atapnya masih bisa terlihat walau amat kecil dr jendela kantor. Membayangkan gue pernah berjibaku menuju tempat itu, dan sudut2 lain Jakarta demi tugas kuliah saja sudah bikin susah napas. Ternyata dibalik kekesalan dan dinamika kehidupan UI dan institusi2nya, gue sangat nyaman di dalamnya.

Gue pun lalu mengenang serangkaian zona nyaman yang lain yang pernah gue temui. Sebelum memasuki Universitas Indonesia dengan status baru : mahasiswa (lagi), gue jungkir balik menghalau kekhawatiran dalam hati dan pikiran : duh bener nggak ya keputusan gue kuliah, apa seharusnya gue stay di kantor aja ya, pindah divisi lain dan mungkin gue akan bisa menambah pengalaman dan tabungan gue. Duh bisa gak ya gue kost? Harus ya nih gue kost? Bisa gak ya gue punya temen, ada gak ya yang mau sekelompok ngerjain tugas sama gue, dsb dsb. Comfort zone gue sebelum UI adalah kantor gue yang lama. Sebuah konsultan HRD di Jakarta Barat. Gue ingat bagaimana gue merindukan makan siang bersama rekan2 seruangan yang udah kayak keluarga, gosip sana sini, taruhan bola, diskusi ringan dan berbobot yg hadir silih berganti, cemilan-cemilan yang dibagi, semuanyaaa. Status jadi karyawan yang harus dicopot untuk status baru yang lebih nista (well, mahasiswa lebih nista karena means gue akan hidup asus tanpa pemasukan dan yeah gue kost pula, Depok pula, lengkap deh), menjadi fucked up terberat. Usia comfort zone yang ini lebih singkat, hanya 1,5 tahun, tapi gue ternyata sudah bisa begitu nyamannya bagaikan di sofa terbaru keluaran IKEA. I had the best boss ever, there.

Comfort zone-comfort zone yang lainnya juga tak kalah syahdu merayu nyamannya nggak tau lagi. 5 (lima) tahun kuliah di Atma Jaya disaat masa2 keemasan nongkrong tinggal bilang nonton pilem tinggal ngangkang (nyampe Plaza Semanggi langsung, maksudnya sebelahan ama kampus hehe). Semakin susah move-on ditambah gue yg aktif di Pramabim-Mabim jadi fasilitator buat adek-adek angkatan 2006-2007 membuat di akhir masa-masa kelulusan gue harus meninggalkan teman-teman muda itu, tawa-tawa riang yang seolah bilang : udah sini aja bareng kami gak usah buru-buru kerja. Tak lama setelahnya, gue menemui comfort zone tersingkat yang mungkin juga ter-ngeselin juga karena memancing rasa bosan berkepanjangan di zamannya, yakni pas gue magang 3 bulan di suatu perusahaan retail makanan yang lokasinya cuma 1x naik angkot dari rumah. Kenapa gue tetep bilang tempat tersebut comfort zone? Jawabannya sederhana : karena tangisan gue pecah di dalam angkot saat pulang ke rumah di hari terakhir gue magang disana. Astaga. Padahal inget cari makan siang aja susah dan manajer gue anehnya gak tau lagi deh (semoga dia gak baca hahaha).

Kalau dibuat resumenya, mungkin dalam rangkumannya gue akan bilang, saat ini gue sedang berjuang melawan beratnya usaha meninggalkan zona nyaman. Berikut zona-zona yang pernah gue hinggapi : masa SMP (dan trip ke jogja, keluar Jakarta pertama kali tanpa orangtua), masa SMA (dan ekskul teater serta hobi ke bioskop saat bel pulang), masa kuliah di Atma Jaya, masa magang, masa kerja 1,5 tahun, dan masa kuliah di UI selama 2 tahun (sudah disinggung diatas). Tidak ada orang lain yang bisa gue tanya untuk ngasih gue nilai berapa terhadap keberhasilan gue melewati comfort zone tersebut. Hanya gue yang pada akhirnya menilai sendiri, apakah gue sudah cumlaude untuk melangkah ke tahap lain kehidupan (gue sendiri)?

Saat ini, gue berada dalam lingkungan yang mungkin dalam postingan tulisan gue di tahun2 mendatang akan juga gue kenang sebagai my another comfort zone. Mungkin juga dalam beberapa tulisan lain menuju tulisan tersebut, akan ada sumpah serapah dan keluh kesah di dalamnya. Analoginya sederhana, ibarat abis menemukan sebuah sofa yang dari tampilan luarnya sangat nyaman, saat ini gue sedang berada dalam tahap : nekat menduduki sofa tersebut dan menemukan pertanyaan : “Mana nih katanya sofanya nyaman.”. gue bisa aja langsung beranjak pergi dan bilang ke SPGnya, mas ada sofa lain gak yang bisa saya cobain, mas ada pilihan lain ga?, lompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, lingkungan A ke lingkungan B, C dan D dalam sekejap hanya karena penilaian dini (berkedok intuisi dan suara hati yang hadir terlalu cepat), padahal belum tentu mas-mas SPG nya akan terus-terusan ngasih stok sofa yang bagus, yang oke, bisa saja sewaktu-waktu ia kehabisan stok, seperti Tuhan yang kehabisan stok kasih rejeki ke gue dan akhirnya ngasih gue kualat dan musibah karena menurutNya gue hamba yang gak tau diuntung dan ngeyel. Huhu (oke ini rasionalisasi aja sih, gue percaya Tuhan pasti Maha Tahu dibalik semua skenarionya).

Mungkin saat ini gue harus mulai meluangkan waktu sedikit lebih lama. Mungkin jangan langsung manggil mas-mas SPG dan minta kasih liat sofa lainnya, melainkan duduk sejenak dan cari posisi yang bisa membuat gue menemukan kata nyaman untuk sofa tersebut. Dan yang paling penting diingat, gue sudah terlanjur duduk di sofa tersebut, jadi gue harus bertanggung jawab yaa walopun gak jadi beli, tapi gak lantas jadi customer yang malu-maluin juga. Oke, gue akan coba bertahan sejenak. Semoga gue betah or at least menemukan kata nyaman itu. Mungkin ini adalah masa adaptasi yang harus gue lewati, atau kado sekaligus peringatan dari Tuhan bahwa realita hidup (dalam hal ini pekerjaan) sudah semakin piawai dalam gigit menggigit (reality bites), di saat gue pamitan 2 tahun doang untuk sejenak meninggalkannya. Semoga masih ada orang-orang baik di masa depan gue yang bisa gue panggil teman dan keluarga.

Dan di akhir tulisan ini, gue berharap semoga semua yang gue tulis ini hanya ke-lebay-an gue semata dan bahwa semua pasti ada jawabannya.*

*demikian jika ada yg juga (pernah dan sedang) merasakan hal yang sama, bisa di share biar gue sadar gue lebay, ini normal dan gue gak sendirian.

 

Sejenak Menjenguk Negeri Gajah Putih, Sawadika!

Misi liburan jalan2 sebagai reward kelulusan akhirnya terwujud juga akhir bulan lalu. Kali ini destinasinya itungannya “terjauh yang pernah gue tuju” berhubung ane jarang banget travelling, yakni ke negeri Gajah Putih. Persiapan utk trip ini sebenernya udah dari bulan Juni, well dari tahun lalu sih ya, lama-lama tujuan makin menciut dengan pertimbangan budget karena lagi-lagi terhalang motto : itinerary milyuner kemampuan backpacker hihihi. Sampe akhirnya dari rekan2 terdekat, hanya si Echa yg murahan dan darisanalah kami menatapkan diri utk cari tour travel murah ke Bangkok. Berhubung deket sama masa high season Lebaran, milih2 tanggal yg bisa dapet tiket penerbangan murah, akhirnya dapet deh 4 hari weekdays yg udah low season, Echa yg urus tiket pesawat, gue yg nyari tur.

Tiket Tiger Airways udah berhasil dipesen, pas lancar bgt gw dapet tur murah dari Golden Rama. Ternyata mereka ga publish paket ini di iklan koran so lucky me bgt pas anya via telpon eh mereka nyediain paket free and easy tanpa tiket pesawat utk 4 hari ke Bangkok, hotel bintang tiga super standar termurahnya sekitar 145-an USD. Ya lumayannn banget kan drpd lumanyun 😀 Persiapan udah beres 1,5 bulan sebelum hari H. Hari demi hari terlwati bahkan sampe gue bela-belain gimana caranya gak mau tau gue harus wanti2 ke kantor gue (sbg anak baru yg blom boleh cuti) kalo gue udah ada secret trip ini. Hihihi yaabesss gimana dong.

Dari pas pagi buta check-in di airport, untungnya bgt pesawatnya gak delay, on time se on time-nya, padahal penumpang gak penuh dan itungannya masi rute baru buat Tiger (Mandala). Sampe di Bangkok, berhubung gue dan Echa sama2 perdana kesana, langsung kita terserang lost in translation tapi juga lost in amazingness liat bandara Suvarnabhumi yg designnya keren punya hehe. Trus udah ditunggu sama guide dari local tour rekanannya Golden Rama, namanya Pak Banchong. Dia ternyata udah sangat fasih Bhs Indonesianya dan sangat komunikatif ke kita2, bagus deh gue gak perlu pake bhs Inggris mengingat di tangan Pak Banchong-lah kami akan menggantungkan nasib selama 4 hari di Bangkok. Ini foto Pak Banchong berkemeja warna cerah :

Pak Banchong (kanan) beraksi

Pak Banchong (kanan) beraksi

Di luar ekspektasi kita, ternyata itinerary yg udah kita terima pas di Jakarta udah ada yg lebih update jadilah ada beberapa perubahan, sempet ngerasa gondok juga sih tapi ya udah lah mau gimana lagi. Ada untungnya juga sih karena aturan hari pertama kita free tanpa guide dan berencana asus naik BTS ke pusat kota jadi terbantu dengan hadirnya Pak Banchong dan drivernya (yg berbahasa Thai) mengantar kita dari liat Wat Arun hingga ke pusat kota Bangkok (Mall Siam Paragon dkk) serta berakhir di Madame Tussaud Museum. Yippiie! Oya, karena udah masuk musim “gak terlalu penuh turis”, alhasil customer tur nya bener2 cuma kita berdua doang hahahaha macam horangkayah gitu deh (padahal kere) dan gak digabung sama rombongan lain, enak kaan? Hehe. Hari pertama yg jadi masalah sejati tidak lain dan tidak bukan adalah kenyataan pahit bahwa gue gak bisa BBM-an selama di Bangkok karena SIM Card nomor lokal gak bisa connect ke BB gue yg jadul. Bisa sih kalo Twitter-an doang, trus gue pun telat daftar ke Indosat intinya BB gue minim fungsi banget selama disana, gue dan Echa pun sempet menghabiskan beberapa jam dari waktu kita di hari pertama itu untuk benerin BB dan samperin counter provider yg kita pake yg kalo dipikir2 wasting time juga ya (kalo tau ga bisa BBM-an) hiks..  Gong hari pertama itu menurut gue ada di Kinokuniya Siam Paragon yg koleksi buku2 psikologinya lengkap2 banget2aaaan dan bikin nangis megangnya (karena dana tipis), sama pas ke Madame Tussaud. Well, review sedikit sih sebenarnya ni museum lilin ya gitu doang, cuma buat ajang foto2 fake ama artis2 dan tokoh2 terkenal di sana, tapi tiketnya lumayan mahal, ini aja gue dan Echa berhasil dapet diskon 50% gara2 booking tiket via web meskipun baru bisa masuk diatas jam 5 sore. Cuma ya berhubung madame Tussaud yg terdekat dengan Indonesia itu di Bangkok, ya harus lah ya dikunjungi.

Hotel di Bangkok yg gue tempatin itu jauh dari pusat kota, sekitar 1,5 sampe 2 jam, namanya Dynasty Hotel. Bangunannya rada tua mayan si bersih cuma super standar aja ya udah laa ya (namanya juga harga murah), Cuma di deket hotel mayan lah ada dagang2 kaki lima yg bisa disatronin buat liat2 (meskipun barangnya masi kerenan barang ITC di Jakarta), sama ada mall2 medium level yg ada McD dan toko2 kosmetik yg jual toilettries lucu2 dan produk Boots diskonan. Oya hari pertama ini, konsumsi masih kita yg nanggung sendiri, tapi mulai sisa hari berikutnya, semua konsumsi diatur oleh pihak tour dan itu superrr worth it banget. menunya minimal 3 variasi dan dibikin dine in gitu, ada juga yg prasmanan pas di NongNooch Village, Pattaya. Ini dia nih keuntungannya ikut tur, ga usah pusing2 nyari makanan (terutama makanan Halal ya), lumayan deh 2 hari berturut2 makan pake tomyam hahaha.

Hari kedua dan ketiga kita sempet habiskan di Pattaya. Nah dari tujuan wisata yg ada dalam itinerary, perjalanan menuju dan suasana saat di Pattaya itulah yang paling berkesan dan jadi gongggg liburan kita berdua. Pertama adalah, pasar terapung alias Floating Market, dimana gue dan Echa sama2 berhasil nemuin barang2 buat oleh2 handai taulan dan buah tangan untuk diri sendiri (gue dapet kain bahan songket2an Thailand gitu warna ijo tosca buat padanan kebaya seharga less than 300 baht udah girang bgt), dan yang paling gong adalah nemu cemilan KETAN MANGGA!!! Astaga, ini dia nih yg diimpi2kan dari pas masih di Jakarta. Selain banyak yg rekomen, pas sampe Bangkok kita masih belom ketemu2 bok, baru di Floating Market ini nemu, harganya 50 baht dan  lucky us karena pas kita liat di duty free airport, harganya disana melambung jadi 150 baht, hiiiih mahal ajah. Oya, ketan mangga ini adalah ketan disiram santen trus dicampur ama mangga Thailand yg lembuuuuut banget, yummmy dan foodgasm banget gueee makannya hahaha. Misi tercapai!

ketan mangga si yummy menggoda

ketan mangga si yummy menggoda

Pas sampe kota Pattaya, sempet sih liat pantainya dari dalem mobil tapi ga tertarik untuk foto2 karena menurut gue pantainya kayak pantai Binaria Dufan gitu bokkk, mending deh Kuta hahaha. Yo wes, kita pun nonton show Alcazar yg tersohor itu. haranya 700 baht sih (a bit pricey tapi WORTH YOUR PENNIES), dan apada akhirnya ini show adalah big spender tapi big blesssing buat gue dan echa meskipun ternyata harganya di luar paket tur (alias harus bayar lagi sendiri) untung bawa duit ga mepet kan. Alcazar ini isinya show lipsync siiih, tapi penari2nya kebanyakan lady boy alias banci2cantik gitu, dan beneran mereka berbakat banget dan gak cupu lhooh, ini show bener2 dikelola dengan sangat baik oleh pemerintah Thailand buat narik pengunjung karena full terus dan rame padat Cuma buat foto ama bencongnya abis show selesai. Kereeennn hahahah seneng banget deh gue abis nntn Alcazar itu. Malam di Pattaya dihabiskan di mall Central Pattaya buat jalan2 bentar dan nyari spot foto karena tempatnya oke kalo malem cahayanya. Oya, hotel kita di Pattaya meskipun bintang 3 tapi better lah drpd di Dynasty, betternya karena kamar kita ada balkonnya dan menghadap langsung ke nun jauh laut dan perbukitan yg ada tulisan Pattaya-nya, ini yg sempet gue foto :

Pattaya hasil jepretan sendiri lumayan lah yaaaa

Pattaya hasil jepretan sendiri lumayan lah yaaaa

Siangnya, kita ke NongNooch Village yah standar lah buat liat show gajah sama thai boxing trus spot2 foto, trus balik ke Bangkok lagi deh. Oya sama mampir ke 2 tempat yg menurut gue gak worth it sama sekali cuma berhubung udah paket tur jd yaa pendem aja deh. 2 tempat itu adalah tempat pembuatan madu dan pembuatan permata di somewhere in pattaya, zzz bener2 mereka gesit banget nawar2in produknya yakali deh kita mau beli berlian ama biang madu kesana. Oya sama yg juga rada errr adalah kebun binatang Sriracha yg basi banget dengan show buaya dan macannya (yg aneh krn bahasa pengantarnya bahasa Thailand) dan situasi yg menurut gue beda tipis ama Ragunan, cuma lagi2 karena paket tur ya kita hanya bisa pasrah hahahahhaa.. Di Bangkok malam terakhir kita berdua mall hopping trus nyari cemilan, udah deh gitu doang. Tadinya gue mau cari kantor pos buat sok2 ngirim kartupos ke alamat rumah gue sendiri tapi ternyata kantor posnya lagi gak jual kartu pos atau bahkan amplop (entah ga jual atau ga ngerti ama bhs inggris gue).

Ngomong2 soal bahasa, satu pengalaman lost in translation yg gong selama liburan kemarin adalah setiap kali kita mengunjungi McD. Pas di deket hotel Dynasty, McD nya kan gabung sama mall dan disana juga banyak local people yg lokall banget dan emang jarang2 kedatengan turis dgn bahasa Inggris kali ya, pas gue ke kasir McD minta merica sachet-an, malah dikasih tunjuk gambar hamburger, trus dikasih juga tempat sambel plastik, untung manajernya ngerti Inggris dan berhasil lah gue dapet merica yg gue inginkan. Nah, pas di Pattaya yg lebih nuris kotanya, dan banyak wisatawan asing, ajaibnya begitu masuk McD seberang gedung show Alcazar, pas gue tanya: “do you have pepper?” mereka langsung sigap kasih gue pepper sachetan. Whuaaaa mejik hahaha itu kejadian jd bahan analisa gue dan Echa selama di Bangkok. Ternyata ya Bangkok itu ga jauh beda sih ama Jakarta. Dari mulai orang2nya, keliatan lah mana yg lokal banget sampe bingung jwb bahasa Inggris sampe yg semakin ke pusat kota atau kawasan turis, udah semakin mengglobal adatnya. Macet2nya juga persis sama Jakarta, bedanya mereka punya moda transportasi yg lebih oke bahkan hingga ke warna mobil taxi ada yg pink dengan merk mobil Corola Altis aja gitu dijadiin taksi ckckck.. pas dari dalem mobil, ngeliat ke luar dan memperhatikan jalanan dan lingkungan Bangkok jadi suka tiba2 teringat sudut2 Jakarta seperti kawasan Gading, trus kawasan Pasar Baru, trus kawasan Blok M versi Bangkok.

Overall sih, kalo urusan panorama, totally jangan cari Bangkok la ya, karena ni kota lebih efisien kalo buat belanja2 dan dikunjungi model Singapura yg ngendon di pusat kota then you’ll get everything easily gitu. Tujuan2 wisatanya juga okee, but not breathtaking. Wat Arun oke buat foto2 tapi akan lebih hits lagi kalo ke Grand Place yg mana gue n Echa ga kesana  karena gak masuk itinerary dan kudu bayar lagi (yg konon mahal). Spot yg worth it ya bener2 cuma Floating Market dan Alcazar Show dan dua2nya di Pattaya sehingga itu dia yg bikin gue bersyukur kita ikut tur karena at least ga ribet ama transportasi ke Pattaya-nya dan dibantu bgt buat dapet tiket di Alcazar yg kalo gue usaha sendiri belom tentu bisa dapet.

But i’m happy visiting Bangkok, yaa secara gue easily amused yah. dan gue jadiin trip kemarin as wisata cukup-tau-aja karena itung2 mempelajari medan kalo kelak gue ke Bangkok lagi (amin!) pengennya bisa naik level dikit lah bintang hotelnya hahaha. Terima kasih buat Echa yg sudi menjadi teman seperjalanan dan terima kasih buat pak Banchong  guide kita selama disana yg total baik dan bahkan nganterin kita sampe check in di airport pas balik, i’m gonna miss his generousity very much. Last but not least, makasih buat bokap gue kali ya yang mendanai sebagian besar trip ini dan rela nganter-jemput anaknya dari dan ke airport trus akhirannya malah ga dapet oleh2 (berhubung pesenannya kaos buat maen tenis tapi gak mau kaos2 yg bertuliskan Bangkok2an).  Request yg susah. Tapi sampe skrg gue agak nyesel sih jadinya ga bisa kasih bokap gue oleh2 meskipun duit Baht nya masih sisa (tau gitu beli ini inu ita itu aja yah tadi dll dsb) dan segala racauan sejenisnya.

Tapi ya sudahlah, buat gue sendiri yg jarang jalan-jalan, pengalaman melihat kota lain dan negara lain adalah hal yg harus dimaknai : “nikmatin aja mumpung kesana besok2 belum tentu kan?”. Terima kasih Tuhan saya (setidaknya) udah ke Bangkok. *pose terima kasih sambil nunduk2 ala Thai people*