How Far Would You Go for A Comfort Zone?

Menceburkan diri secara sadar dalam lingkungan baru, dimanapun itu, buat gue (ternyata) bukanlah hal yang mudah. Gue bahkan nggak bisa men-define dengan yakin apakah gue termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mudah beradaptasi atau bukan. Mungkin gue harus tanya ke mereka-mereka yang memang benar-benar menjadi saksi sejak awal gue nyebur sampai akhirnya gue melebur ke dalam lingkungan baru tersebut, atau gue harus ngisi kuesioner dan alat tes tertentu yang bisa mengukur kemampuan gue dalam beradaptasi.

Setelah sebulan menceburkan diri (kembali) ke dalam hutan belantara ibukota dan menjadi bagian dari hamba-hamba budak korporasi, gue mulai sering dihantui renungan-renungan akan masa lalu, terutama lingkungan-lingkungan yang dulu pernah menjadi sebuah tempat yang amat asing, kemudian perlahan-lahan menjadi nyaman dan pada akhirnya gue jadi beratttt banget ninggalinnya. Yang terjadi saat ini, well lebih tepatnya yang gue rasakan saat ini, lingkungan kerja di kantor masih menjadi lingkungan yang asing. Janggal rasanya tiba-tiba diserbu muka-muka baru yang yaa mungkin nggak harus gue tau namanya dan gak harus gue kenal juga sih tapi mau gak mau harus gue terima because they’re part of me right now.

Hari-hari memulai aktivitas pagi hari menjadi perjuangan tersendiri, bukan, bukan soal gue harus bangun pagi since i’m a moring person for sure, tapi karena ada perasaan mengganjal yang sangat besar. Ada ketakutan, takut berbuat salah (padahal ya gue tau nothing’s perfect), takut tidak diterima (oke, fear of rejection ternyata salah satu issue gue haha!), dan hmm lebih banyak sih perasaan unsure terhadap apa yang gue hadapi saat ini ditambah belum bisa menerima kalau gue harus berpisah lagi untuk kesekian kalinya dari another comfort zone ke lingkungan baru yang supposed to be the new comfort zone.

Ngomong-ngomong comfort zone, comfort zone terakhir yang gue huni adalah lingkungan perkuliahan gue di UI. Teman-teman KLD 17 yang udah bareng-bareng selama 2 tahun terakhir. Mungkin kalo trackback sumpah serapah gue di blog, gue harus menjilat ludah gue sendiri kalo inget betapa terkadang menyebalkannya mereka, betapa masa-masa berat kuliah adalah masa yang menyiksa dan berdarah-darah. Tuhan mendengar ucapan gue, keinginan gue yang diliputi rasa kesal dan eneg dan bosan dan sebagainya saat mengucapkannya, Oh Tuhan saya gak sabar nih pengen cepet2 keluar dari UI dan melanjutkan hidup saya seperti semula, bekerja dan menggali berlian buat bekal masa depan dan ongkos jalan-jalan. Haha. Seee, Tuhan mengabulkannya kurang dari 2 bulan sejak gue dinyatakan lulus di sidang tesis. Yang terjadi, dibalik alhamdulillah, gue masih mengeluh, “yaaah jadi udah nih gue kerja?” Belum siap ternyata gue meninggalkan zona nyaman bangku kuliah. Always smells good kan ya. Apalagi belum banyak temen-temen KLD yang bekerja dan terhempas di kejamnya dunia korporasi macam gue. Mereka masih mikir kebaya wisuda, ketemuan sana sini, sementara gue udah harus berpikir keras gimana gue harus bertahan dan nggak malu-maluin diri gue sendiri, almamater dan teman-teman dan tentunya keluarga dengan menahan cengeng akibat gagal move-on dan harus survive di kantor baru. Huaa. Bisa lho mata gue berkaca-kaca suatu pagi pas gue nyari sarapan di kantin stasiun Sudirman sebelum ke kantor. Membayangkan gue pernah beberapa kali melakukan rutinitas yang sama tapi end up nya gue naik kereta ke Depok dan ketemu teman-teman di kampus. Eh sekarang malah beda. Duduk lah gue di peron stasiun. Nunduk sambil buka-buka BB trus nahan nangis, trus bbm salah seorang teman dan bilang kalo gue kangen oi ketemuan dong dan untungnya saat itu bisa ketemuan meskipun cuma berdua. Gak kebayang kalau gue harus merelakan sarapan terenak pagi hari gue demi biar gak jatuh berderai air mata di peron stasiun ingat kehidupan 2 tahun yang berkesan yang baru saja gue alami. Ruangan  kantor yg berada 50-an lantai di atas permukaan laut, gue bisa memandang lepas sejenak ke beberapa penjuru Jakarta, menebak-nebak lokasi A disini, lokasi B disini. Belum bisa gue melupakan salah satu tempat institusi dimana gue sering kesana, letaknya gak jauh dari kantor. Atapnya masih bisa terlihat walau amat kecil dr jendela kantor. Membayangkan gue pernah berjibaku menuju tempat itu, dan sudut2 lain Jakarta demi tugas kuliah saja sudah bikin susah napas. Ternyata dibalik kekesalan dan dinamika kehidupan UI dan institusi2nya, gue sangat nyaman di dalamnya.

Gue pun lalu mengenang serangkaian zona nyaman yang lain yang pernah gue temui. Sebelum memasuki Universitas Indonesia dengan status baru : mahasiswa (lagi), gue jungkir balik menghalau kekhawatiran dalam hati dan pikiran : duh bener nggak ya keputusan gue kuliah, apa seharusnya gue stay di kantor aja ya, pindah divisi lain dan mungkin gue akan bisa menambah pengalaman dan tabungan gue. Duh bisa gak ya gue kost? Harus ya nih gue kost? Bisa gak ya gue punya temen, ada gak ya yang mau sekelompok ngerjain tugas sama gue, dsb dsb. Comfort zone gue sebelum UI adalah kantor gue yang lama. Sebuah konsultan HRD di Jakarta Barat. Gue ingat bagaimana gue merindukan makan siang bersama rekan2 seruangan yang udah kayak keluarga, gosip sana sini, taruhan bola, diskusi ringan dan berbobot yg hadir silih berganti, cemilan-cemilan yang dibagi, semuanyaaa. Status jadi karyawan yang harus dicopot untuk status baru yang lebih nista (well, mahasiswa lebih nista karena means gue akan hidup asus tanpa pemasukan dan yeah gue kost pula, Depok pula, lengkap deh), menjadi fucked up terberat. Usia comfort zone yang ini lebih singkat, hanya 1,5 tahun, tapi gue ternyata sudah bisa begitu nyamannya bagaikan di sofa terbaru keluaran IKEA. I had the best boss ever, there.

Comfort zone-comfort zone yang lainnya juga tak kalah syahdu merayu nyamannya nggak tau lagi. 5 (lima) tahun kuliah di Atma Jaya disaat masa2 keemasan nongkrong tinggal bilang nonton pilem tinggal ngangkang (nyampe Plaza Semanggi langsung, maksudnya sebelahan ama kampus hehe). Semakin susah move-on ditambah gue yg aktif di Pramabim-Mabim jadi fasilitator buat adek-adek angkatan 2006-2007 membuat di akhir masa-masa kelulusan gue harus meninggalkan teman-teman muda itu, tawa-tawa riang yang seolah bilang : udah sini aja bareng kami gak usah buru-buru kerja. Tak lama setelahnya, gue menemui comfort zone tersingkat yang mungkin juga ter-ngeselin juga karena memancing rasa bosan berkepanjangan di zamannya, yakni pas gue magang 3 bulan di suatu perusahaan retail makanan yang lokasinya cuma 1x naik angkot dari rumah. Kenapa gue tetep bilang tempat tersebut comfort zone? Jawabannya sederhana : karena tangisan gue pecah di dalam angkot saat pulang ke rumah di hari terakhir gue magang disana. Astaga. Padahal inget cari makan siang aja susah dan manajer gue anehnya gak tau lagi deh (semoga dia gak baca hahaha).

Kalau dibuat resumenya, mungkin dalam rangkumannya gue akan bilang, saat ini gue sedang berjuang melawan beratnya usaha meninggalkan zona nyaman. Berikut zona-zona yang pernah gue hinggapi : masa SMP (dan trip ke jogja, keluar Jakarta pertama kali tanpa orangtua), masa SMA (dan ekskul teater serta hobi ke bioskop saat bel pulang), masa kuliah di Atma Jaya, masa magang, masa kerja 1,5 tahun, dan masa kuliah di UI selama 2 tahun (sudah disinggung diatas). Tidak ada orang lain yang bisa gue tanya untuk ngasih gue nilai berapa terhadap keberhasilan gue melewati comfort zone tersebut. Hanya gue yang pada akhirnya menilai sendiri, apakah gue sudah cumlaude untuk melangkah ke tahap lain kehidupan (gue sendiri)?

Saat ini, gue berada dalam lingkungan yang mungkin dalam postingan tulisan gue di tahun2 mendatang akan juga gue kenang sebagai my another comfort zone. Mungkin juga dalam beberapa tulisan lain menuju tulisan tersebut, akan ada sumpah serapah dan keluh kesah di dalamnya. Analoginya sederhana, ibarat abis menemukan sebuah sofa yang dari tampilan luarnya sangat nyaman, saat ini gue sedang berada dalam tahap : nekat menduduki sofa tersebut dan menemukan pertanyaan : “Mana nih katanya sofanya nyaman.”. gue bisa aja langsung beranjak pergi dan bilang ke SPGnya, mas ada sofa lain gak yang bisa saya cobain, mas ada pilihan lain ga?, lompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, lingkungan A ke lingkungan B, C dan D dalam sekejap hanya karena penilaian dini (berkedok intuisi dan suara hati yang hadir terlalu cepat), padahal belum tentu mas-mas SPG nya akan terus-terusan ngasih stok sofa yang bagus, yang oke, bisa saja sewaktu-waktu ia kehabisan stok, seperti Tuhan yang kehabisan stok kasih rejeki ke gue dan akhirnya ngasih gue kualat dan musibah karena menurutNya gue hamba yang gak tau diuntung dan ngeyel. Huhu (oke ini rasionalisasi aja sih, gue percaya Tuhan pasti Maha Tahu dibalik semua skenarionya).

Mungkin saat ini gue harus mulai meluangkan waktu sedikit lebih lama. Mungkin jangan langsung manggil mas-mas SPG dan minta kasih liat sofa lainnya, melainkan duduk sejenak dan cari posisi yang bisa membuat gue menemukan kata nyaman untuk sofa tersebut. Dan yang paling penting diingat, gue sudah terlanjur duduk di sofa tersebut, jadi gue harus bertanggung jawab yaa walopun gak jadi beli, tapi gak lantas jadi customer yang malu-maluin juga. Oke, gue akan coba bertahan sejenak. Semoga gue betah or at least menemukan kata nyaman itu. Mungkin ini adalah masa adaptasi yang harus gue lewati, atau kado sekaligus peringatan dari Tuhan bahwa realita hidup (dalam hal ini pekerjaan) sudah semakin piawai dalam gigit menggigit (reality bites), di saat gue pamitan 2 tahun doang untuk sejenak meninggalkannya. Semoga masih ada orang-orang baik di masa depan gue yang bisa gue panggil teman dan keluarga.

Dan di akhir tulisan ini, gue berharap semoga semua yang gue tulis ini hanya ke-lebay-an gue semata dan bahwa semua pasti ada jawabannya.*

*demikian jika ada yg juga (pernah dan sedang) merasakan hal yang sama, bisa di share biar gue sadar gue lebay, ini normal dan gue gak sendirian.

 

Advertisements

One thought on “How Far Would You Go for A Comfort Zone?

  1. Iinn…. happy comeback to worklife, ahhh yes, you’re not lebay, gue malah pernah menjuluki diri gue worried grannie, ya begitulah, somehow, kita emang punya ketakutan apalagi kalo uda menyangkut acceptance. Seperti harapan lo, semoga betah yaaa ditempat kerja yang baru,
    work hard, fun hard girl!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s