Kisah Bu Nani, Sang Ayah dan Tragedi 1965

Udah lama gak ngebahas buku, kali ini gue mau bahas tentang satu buku yang apparently, jadi satu buku serius yang akhirnya selesai gue baca di masa-masa sulit fokus ini. Buku tersebut judulnya : “Saya, Ayah dan Tragedi 1965” karya ibu Nani Nurrachman Sutojo.

Sekilas tentang pengarang, Ibu Nani ini adalah salah satu dosen gue dulu di psikologi Atma Jaya. Gue sempet ikut kelas beliau di matakuliah Sejarah Aliran Psikologi (dan sempet ngulang 1x sebelum akhirnya lolos eh lulus hehehe *dibahas*), trus pas gue sidang skripsi, Bu Nani juga salah satu penguji sidang gue dan masih kebayang deg-degannya saat itu (lagi-lagi gara2 pernah ngulang mata kuliahnya). Gue mungkin nggak mengenal beliau secara personal, tapi salah satu fakta yang gue tahu tentang Bu Nani yakni bahwa beliau adalah putri dari salah satu dari tujuh pahlawan revolusi : Alm Sutoyo Siswomihardjo, yang meninggal karena tragedi (yang dulu dikenal) dengan istilah G 30 S/PKI. Semasa kuliah dan berada satu institusi dengan Bu Nani, gue kerap wondering mengenai bagaimana peristiwa tersebut memberikan lessons buat beliau, semacam pengen tahu cerita kronologisnya, bagaimana ia mengenang sosok almarhum ayahnya hingga bagaimana ia melanjutkan kehidupan pasca tragedi tersebut. Wondering tinggal wondering, sampe akhirnya di suatu siang pas lewat Gramedia gue nggak sengaja liat buku dengan sampul seperti dibawah ini:

buku Saya, Ayah dan Tragedi 1965

buku Saya, Ayah dan Tragedi 1965

Dan sangat surprise begitu tahu buku ini ditulis oleh Ibu Nani sendiri dengan tema yang memang sudah dari dulu ingin gue tahu lebih dalam dari beliau. Langsung deh dibeli, dibaca, distabilo kata-kata yang menurut gue bagus hehehe. Buku ini terdiri dari 2 bagian besar. Bagian pertama itu berisikan bab-bab yang sifatnya sangaaaaat personal, dimulai dari Bu Nani menjelaskan awal kelahirannya, masa-masa kecilnya, hubungan dengan ibu kandungnya yang meninggal saat Bu Nani masih anak-anak, hingga bagaimana relasi yang ia bangun dengan ibu tirinya dan tentu saja…kenangan akan sosok ayahanda, keseharian yang dihabiskan, pelajaran-pelajaran yang diperoleh dari sang ayah, hingga tragedi yang merenggut nyawa ayahnya. Pokoknya di bab ini rasa hati pas baca tuh haru biruuu banget. Gue berasa kayak baca anamnesa gitu, riwayat kehidupan seseorang yang penuh warna, penuh liku dan struggling yang luar biasa dari Bu Nani. Kalau diibaratkan tema psikologi, bagian pertama ini sangat psikoanalisa, hehehe. Jadi merenungkan sendiri sama kondisi kita sebagai individu, gimana kita memaknai hubungan dengan ayah ibu dan ternyata pas kita udah gede, banyak tingkah laku dan keputusan2 kita yang tanpa kita sadari itu karena pengaruh relasi kita dengan orangtua di masa lalu dan pengalaman2 lain yang mengikutinya. Cerita tersebut dituturkan dalam bahasa yang mengalir, seperti didongengkan tanpa merasa ngantuk, ada refleksi yang sangat bagus didalamnya, yah mungkin karena yang nulis adalah seorang psikolog, jadi sedikit-sedikit diselipkan background teori psikologi tertentu meskipun dengan bahasa yang sangat sederhana dan mudah dipahami.

Mata gue mulai berkaca-kaca pas baca salah satu bab di bagian pertama itu yang menceritakan hari-hari terakhir kebersamaan Bu Nani (yang saat itu berusia 15 tahun) dengan ayahnya. Gue kagum dengan sosok almarhum ayah Bu Nani yang sudah sejak dini mengenalkan Bu Nani kecil kepada buku-buku dan mendidiknya berpikir kritis. Ada satu quote yang bikin nangis pas baca, yakni pas Bu Nani menceritakan bagaimana dulu ayahnya mendidiknya :

“ Ayah, kami anak-anaknya memanggilnya Papap, pernah mengatakan – “Nan, kalau kamu tidak bisa mendapatkan apa yang kamu ingin cari dari papap, carilah itu dari gurumu atau orang-orang lain yang dekat denganmu. Papap tidak bisa menjawab semua dan menjadi segala-galanya dalam hidupmu, karena papap tidak tahu semuanya.” – hal 49.

Bagian pertama ini juga jadi menarik karena banyak diselipkan foto-foto keluarga, foto-foto jadul pas Bu Nani masih anak-anak yang cute bangettt (dan udah kelihatan senyum khasnya hehehe). Dan tentunya bagian yg gue tunggu-tunggu, adalah bagian kronologis detil kejadian di 30 September dini hari, hiksss itu bener-bener ikutan tegang dan merinding dan pada akhirnya jadi kebayang betapa berat trauma masa lalu yang dialami Bu Nani. Efeknya jadi kagum sekaligus sangat menghargai usaha beliau mau sharing tentang cerita ini.  Satu quote lain yang juga berkesan buat gue adalah pas Bu Nani mengenang orang-orang yang banyak bantu beliau sejak masa sekolah hingga ia dewasa, :

“Nikmat dari Allah bukan harta semata, tetapi bisa berupa berkah yang diberikan melalui orang-orang yang “diutusNya” untuk berjumpa selama saya menjalani hidup ini.”– hal 31.

Nah sayangnya, bagian pertama yang terasa kurang tuh menurut gue pas Bu Nani cerita tentang kehidupan keluarganya sekarang dengan suami dan anak-anaknya. Diceritain sih, pas mereka menjalani kehidupan berpindah-pindah negara, apalagi pas Bu Nani lagi di NY trus tinggal tetanggaan sama seorang wanita paruh baya yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi (itu juga merinding bacanya), nah tapi yang gue penasaran adalah bagaimana peran suaminya dalam mengatasi trauma Bu Nani dan bagaimana relasi yang beliau bangun dengan suaminya, hal-hal sederhana kayak dimana ketemuannya, trus kenapa suka sama suaminya dan apakah Bu Nani menemukan figur pengganti ayahnya dalam sosok suaminya, dll dsb (kepo banget yaaa padahal mungkin jadi gak relevan kalo Bu Nani nyeritain part ini panjang lebar hahaha), abisan suaminya di foto keliatan ganteng banget gitu kan pembaca jadi penasaran hehehe.. Bagaimana Bu Nani menyikapi sebuah tragedi dan pada akhirnya berhasil mengatasi trauma dan mendapatkan makna atas tragedi tersebut juga gue suka banget, seperti yg gue coba kutip berikut ini :

“Suatu tragedi adalah pergumulan nasib yg tidak dapat dimenangkan. Tragedi tidak akan pernah berlalu karena peristiwanya selalu diingat. Rasa sakit dari penderitaan seseorang tidak dapat dibandingkan atau dipertukarkan dengan penderitaan orang lain. Tetapi hanya dapat ditemukan maknanya bila yang mengalami dapat memberi arti demikian bagi hidupnya. “ – hal 110

Sementara itu, bagian kedua lebih banyak membahas mengenai tulisan-tulisan yang dulu pernah Bu Nani buat di dan untuk media / event tertentu, pastinya membahas soal tragedi 1965 dan apa yang ia alami sendiri saat itu. Disini jatohnya emang jadi kayak ngulang-ngulang sama beberapa statement di bab sebelumnya sih, tapi sebagai sebuah kumpulan tulisan, sangat worth it dibaca, terutama bagi yang memang berminat sama psikologi sosial karena aspek ilmiahnya lebih berasa. Hmm buat gue pribadi, bagian kedua ini gak begitu greget lagi lebih karena gue emang gak gitu nyambung sama dunia psikologi sosial hahahaha tapi ngebaca bahasanya jd bikin inget masa2 dulu diajar Bu Nani *maksut lo, In?*

Kesimpulannya, hmm ya meskipun review gue subjektif, tapi believe me buku ini worth it untuk dibeli dan dibaca. Apalagi kalau kepengen baca buku yang gak terlalu ringan tapi juga nggak terlalu berat banget. Trus buku ini juga bikin kita jadi bercermin diri dan instrospeksi sih, ke hal2 sederhana kayak hubungan sama orangtua, jadi lebih reflektif aja gitu sama kehidupan kita sendiri. Seperti satu quote yang diutarakan Bu Nani pada prolog bukunya :

“Hidup ini memang unik, bergerak, kadang awalnya malang tetapi tak berarti maknanya hilang.”

Terimakasih Bu Nani, untuk berbagi.