Kenapa Aku Resign?

Akhir Januari kemarin, tepatnya tanggal 30, gue resmi keluar dari kantor gue yang sekarang. Sebuah keputusan besar dan penuh spekulasi pastinya ya, walaupun sudah lamaa sekali ada dalam kepala, mikirin plus minusnya baiknya gimana, apalagi setelah lewat 1 tahun bekerja. Mungkin bagi sebagian besar orang mikirnya, baru setahunan kerja, belum apa-apa udah mau resign aja (gue resmi keluar di 1 tahun 5 bulan masa kerja gue), tapi di dalam benak gue (yang detilnya akan gw jelaskan di paragraf berikutnya), kalau gue nggak resign segera, gue akan kayak gitu2 aja dan nggak jadi ‘apa-apa’. Maksud literal dari ‘apa-apa’ disini bukan uang ya, bukan pula jabatan atau harapan promosi, nggaaak lah bukan itu concern utama gue. Ada beberapa hal sebenernya yang makin lama makin membuat gue tidak satisfy (kalau tidak mau dibilang :mengecewakan ya), sebagai karyawan, maupun sebagai individu.

Flashback sedikit ke awal kenapa gue memilih bekerja di kantor gue itu, dengan posisi seperti itu (gue handle semua proses rekrutmen) sebenernya sesimpel harapan gue lulus S2 pengen balik kantoran lagi, pengen nabung lagi lah, berhubung selama kuliah 2 tahun kan dikasi uang jajan full dari ortu, maka ketika 1,5 bulan selepas gue lulus sidang, gue diterima kerja, langsung lah gue iyakan tanpa ba-bi-bu (walopun smpt liburan dulu utk merayakan kelulusan hehe). Waktu itu gue mikir, ah rekrutmen kan sesuatu yg gak baru laaah buat gw, apalagi ini di perusahaan besar (beda sama kantor gue duluuu bgt di konsultan yg karyawannya ga sampe 50 orang), so gak gw pungkiri, alasan : ‘yang penting bisa nabung lagi dan dapat kesibukan baru’ menjadi yang utama.

Ketika gue masuk, gue agak kaget, karena kantor gue tidak pernah memiliki lulusan Psikologi sebelumnya, di divisi HRD. Ya gak musti anak Psikologi sih ya, cuma kok sayang aja perusahaan yg lagi growing bisnisnya dengan pesat, malah gak punya aset karyawan yg emang bisa fokus ke pemberdayaan manusia2 di dalamnya (tsaelah bahasa gue). Akhirnya gue masuk, dan selama beberapa bulan gue menjadi ratu minyak anak psikologi (bahkan psikolog!) satu2nya disana. Beberapa pembaharuan dilakukan, antara lain, adanya proses tes psikologi (walopun baru DISC aja) di dalam flow recruitment yang suprisingly, hanya sesimpel wawancara sama user. Pas awal-awal masuk sih berhubung masih adaptasi dan mengenal flow industri korporat kayak gmn, mempelajari maunya masing2 user gmn, jd belum kerasa matgay-nya. Dalam bbrp vacant positions, gue masih suka wawancarain orang, ngasih tes DISC , skoring dan bikin laporan singkatnya. Kantor gue jg termasuk royal untuk bikin2 event, kayak family day, year end party (ngundang /rif dan Naif!!), dinner di hotel berbintang lima (kapan lagi ngerasain red wine gratis Grand Hyatt sama para boss2 hehehe), bahkan gak jarang, kami tim HR suka ngadain HR session makan2 di fancy resto di mall deket kantor kami (yg gedungnya jd satu dengan salah satu pusat perbelanjaan hits di pusat kota). Hal-hal yang menyenangkan lah, intinya. Teman-teman kerja se tim juga asik2, bahkan gue berhasil ajak temen sekelas gue dulu di KLD, yakni Della, untuk join tandemin gue di rekrutmen (yippiee), makin betah lah yaa. Apalagi ternyata user2nya emang baik2, adaa sih yg rese tapi masi bisa ditolerir, gue yg merasa rada susah kenal orang baru, disini selain dapat pacar (ehehehe), juga dapat temen2 baru yg asik2.

As time goes by, jumlah karyawan semakin banyak (bangga rasanya jika bisa merekrut orang2 baru sesuai dgn kemauan user, priceless hehe), ada masa2 boring sama kerjaan. Perubahan2 kecil mulai terjadi. Yang kerasa banget adalah saat SOP kantor gue (yg emang dasarnya udah gak jelas), jd makin gak jelas dgn adanya perpindahan job desc yg selama ini gue tangani, jd ditangani oleh rekan kerja gue yg lain (masi dlm satu tim HR nih). Wawancara dan tes DISC mulai semakin jarang gw lakukan, dan gongnya adalah mulai dikemukakannya rencana untuk bikin assessment centre sebagai perkembangan dr HR yg sudah ada, dengan gw dan Della sbg psikolog yg akan difokuskan kesana. Nahhhhh  tapi jangan seneng dulu, assessment centre itu masih wacana dari meeting bulan apa entah gw lupa, sampai gue ngajuin resign pun masih wacana, yang mana gue sampai pada satu keyakinan kalau kayaknya kantor gue nggak mungkin punya divisi assessment at least dalam 5 tahun ke depan. Yah, sebagai staf disana, gue pun berkembang melebar, menjadi tau lah busuk2 nya kantor, orang2 yg punya pengaruh, mana yg cuma kacung, hehe biasalahh politik dan polemik korporasi pasti ada aja kan. Sejak wacana assessment centre itu tak kunjung diwujudkan, gue mule menghitung hari, minggu dan bulan yang tepat untuk gue keluar. Job desc gue disisi lain udah mule berkurang banyak, setelah lewat 1 tahun masa kerja, headcount pernah banyak banget sampe megap2 ngerjainnya (untungnya gak sampe lembur sih hehe), praktis gue cuma sourcing dan buka2 Jobstreet aja, trus pilih2 CV yg cocok, telponin pelamar sambil nanya2 dikit, trus ajuin ke user, bikin janji interview, pesen ruangan dan pastikan pelamarnya datang sesuai jadwal yg ditetapkan. Selesai. Kalo usernya cocok, langsung di hire, prosesnya dilanjutkan ke bos gue, dulu tuh gw masih dikasih tanggungjawab untuk bikin surat kontraknya dan proses offering / negosiasi gaji langusng juga dilakukan oleh gue, nah belakangan udah nggak lagi. Tanggung jawab bukannya semakin besar malah semakin berkurang, artinya semakin monoton lah daily basis gue di kantor. Nggak produktif. Mungkin buat sebagian orang enak kali ya ada fasilitas internet gratis di komputer, gue bisa buka socmed macem twitter dan FB, browsing sana sini sepuasnya krn bos gue pun gak pernah protes apa2 (asal kerjaan lo beres, dan kerjaan gw selalu beress bahkan proses rekrut orang menurut gue termausk cepet gue lakukan), tapi ada masa2 dimana gue udah bingung lagi gue mau buka website apa dan mau search keyword apa di Google. Udah sampe ke taraf itu, bayangkan! Hehehe. Gue mulai merasa ada kemunduran secara produktivitas. Penurunan tanggung jawab tanpa disertai pemberian tantangan dan reward psikologis yang baru, yang positif. Kenapa gak ngomong ke bos? Ya, berhubung emang gw follower sejati, pengamat belakang layar, plus personality traits memang ga memilih utk terang2an ngomong, ada lah bbrp pertimbangan (diantaranya sifat pribadi bos gue dan kultur perusahaan) yg membuat gw yakin bahwa eventhough gw ngomong pun, perubahan yg massive akan sulit terjadi di divisi HR pada khususnya.

Untung di kantor gue ada Della. Rekan sesama psikolog yg memang sudah gw kenal lama. karena ada dia, jd gw bisa tetap waras untuk bahas orang (tentunya dari perspektif psikologi hehe all that clinician knows more than anyother people lah yaa haha), dan diskusi ttg kantor ini. We found something odd, sesuatu yg gak ideal (i know, perusahaan maana sih yg ideal sempurna pasti ada lah kurang2nya kan), dan dari sini gue dengan dia mulai merenungkan lagi pencarian jati diri masing2. Well, kalo dalam kasus gue, comfort zone di usia gue sekarang (berasa tua padahal baru 28) memang perlu, lumayan buat nabung2 investasi kan, tapi gue juga merenung mengenai betapa gue berhak dapat kesempatan lebih baik, tentunya dalam hal produktivitas berpikir dan mengaplikasikan ilmu. Mendapatkan sesuatu yg rewarding lah, itu yang gue belum dapat di karier gue sekarang. Gue juga amazed karena seperti kata Della, kami berdua berasal dari suatu lingkungan (dalam hal ini adalah teman2 S-2) yg penuh mimpi, terbiasa di-challenge oleh hal2 besar selama kuliah, ngerjain tugas sampe malem dan pagi buta dan dapat nilai bagus untuk itu, ada apresiasi, ada kerja keras, itulah yang tanpa sadar membentuk kami (dalam hal ini, gue amazed karena gue yg anti idealisme saat dulu belajar di kelas Profesi dan keukeuh mau kantoran, jadi mulai berasa, ya ada benarnya juga sih pengaruh kultur kelas profesi dan temen2 gue dl).

Gue pun memutuskan resign dengan arrangement 2 bulan sebelumnya alias 2 months notices. Nggak wajib musti selama itusih, cuma gue mikir waktu itu, ada tanggungjawab bbrp headcount yg mayan banyak jd ya boleh lah 2 bulan. Selama 2 bulan itu banyak yang terjadi, yg gong adalah ternyata Della pass dapet tawaran dari sebuah klinik yg memang sesuai ama passion dia di neuroscience. Jadilah kami cuma berselisih 2 minggu resignnya. Hari2 terakhir menjelang resign, gue malah entah kenapa semakin yakin sama keputusan gue. Udah nggak sabar aja gitu bawaannya padahal kerjaan baru belum ada. How weird. Like i said, ini keputusan besar buat gw, buat sebagian besar orang yang merasa punya pnghasilan tetap itu harus hukumnya. Gue gak munafik lah, siapa sih yg ga mau uang, ya kan, tapi gue udah mule itung2 kok dan sambil nabung, mule memperketat pengeluaran (ini yg susah haha), dan mule pasang target sampe berapa lama gue akan bertahan dan sampe limit berapa rupiah gue akan bertahan untuk akhirnya terpaksa (duh jgn sampe sih ya) milih pekerjaan apapun yg hadir di depan mata walopun itu gagal mencapai idealisme awal gue. Hufff..

So here i am, not happy anymore with what i’m doing dan kembali ke fase galau ala ala jobseeker. Semoga gue belom terlambat untuk ini semua ya. Sekalian titip pesen buat yang lagi kosong lowongan di kantornya untuk divisi assessment atau jadi assessor lepasan, kabar2i aku ya 😀

Wish me luck. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s