Mengukur Cinta

Jika ada yang bertanya, bagaimana kamu tau, In, kalau kamu dicintai? Maka berikut mungkin bisa menjelaskan:

Gue tahu gue dicintai bukan saat dia datang menjemput ngajak jalan malam minggu pakai mobil, fancy car, yang dingin dan joknya nyaman bisa muter2 kemanapun penjuru kota, kenapa? Ya karena dia gak punya. Belum, tepatnya.

Tapi gue tau, gue dicintai, karena dia bela-belain jalan kaki dl dr rumahnya sampe dapet angkot menuju stasiun Bekasi, nunggu KRL datang, kadang rame, kadang sepi, tapi seringnya telat..
Kebanyakan dilakukan sejak siang hari yang terik, buat apa? Buat ke rumah gue, yang letaknya sama dengan menyebrangi 3 propinsi dari rumah dia.
Tidak jarang, sampai rumah, bajunya setengah basah oleh keringat, nafasnya masih ada sisa ngos-ngosan, ubun-ubunnya lembab oleh keringat, rambutnya acak-acakan karena ketiup angin di Metromini plus sambung ojek baru sampai rumah gue..
Atau ketika kami setiap weekend sering menggantinya dengan bertemu di tengah-tengah yg strategis, kondisinya ga jauh beda, bahkan terkadang lebih tragis, hehehe…
Baju bagian punggung masih basah oleh keringat, belum lagi kalau harus nunggu di halte yang panas dan sepi, dan gue belom sampe-sampe juga karena kejebak macet..
Sering gue menangkap sosoknya lagi menunggu gue di kejauhan, duduk di halte, raut wajahnya kuatir, sesekali gelisah menatap layar handphone.. Mungkin resah kok pacarnya belom sampai2 juga…

Begitu gue sampai dan kami akhirnya bertemu, disitulah gue yakin, gue dicintai..

Selanjutnya, dia selalu bertanya, mau makan apa, cari restoran apa saja, kaki lima samping got hingga warung steak ratusan ribu, atau makanan mall yg jarang enak tp harganya mahal.. Gak pernah dia mengajukan ide duluan, semata karena gue tau dia ingin mengikuti apapun yang gue mau, makan apapun yg gue juga makan, ikut merasakan enaknya rasa di lidah gue tanpa pernah protes atau kesal karena harganya mahal apalagi kalo ternyata ga enak (setidaknya ga ditunjukkan langsung) hehehehe.
Dari situlah gw bisa merasakan, bahwa gue dicintai.

Ketika suatu hari kami iseng ke suatu optik, karena gue mau liat-liat soft lense. Dia bilang bahwa gue lebih cantik kalau pakai kacamata. Lalu dia meminta gue memilih kacamata apapun di optik itu, karena dia ingin belikan pacarnya kacamata baru. Kacamata, bukan emas permata. Itu cuma di optik melawai, bukan Tiffany & Co seperti di chick flick Hollywood. Dia yang memberi agar bisa gue pakai setiap hari, karena gue butuh bukan karena gue mau. Dari situ gue tau, gue dicintai.

Dari dia yang dulu awal sekali datang ke rumah benar-benar nggak bawa apa-apa. Ikutan naik angkot dan bahkan jalan kembali pulang pun dia masih bingung. Saat itu, cuma ingin tau rumah gue, dan berkenalan dengan seisinya. Hingga akhirnya suatu hari yang gue pun lupa kapan, saat di ruang tamu rumah gue, seperti biasa kami ngobrol-ngobrol, dia minta bicara berdua dengan bokap. Dia yang mengutarakan niatnya untuk serius berbagi masa depan dengan gue.
Tanpa sebelumnya bicara dan bertanya langsung ke gue, tanpa satu lutut ditekuk, tanpa cincin hadir dengan kotak kecilnya, cuma jeans dan kaos, dan niat tulus. Dari situ gue tau, gue dicintai.

Bela-belain ikut menonton film yang gw kepengen nonton, meskipun dari ujung mata, gw bisa liat dia boring, ngantuk, tapi tetap gak bergeming. Dari situ gue tau gue dicintai.

Dan banyak lagi.

Kalau kamu apa?

Posted from WordPress for Android

Advertisements