Kisah Bu Nani, Sang Ayah dan Tragedi 1965

Udah lama gak ngebahas buku, kali ini gue mau bahas tentang satu buku yang apparently, jadi satu buku serius yang akhirnya selesai gue baca di masa-masa sulit fokus ini. Buku tersebut judulnya : “Saya, Ayah dan Tragedi 1965” karya ibu Nani Nurrachman Sutojo.

Sekilas tentang pengarang, Ibu Nani ini adalah salah satu dosen gue dulu di psikologi Atma Jaya. Gue sempet ikut kelas beliau di matakuliah Sejarah Aliran Psikologi (dan sempet ngulang 1x sebelum akhirnya lolos eh lulus hehehe *dibahas*), trus pas gue sidang skripsi, Bu Nani juga salah satu penguji sidang gue dan masih kebayang deg-degannya saat itu (lagi-lagi gara2 pernah ngulang mata kuliahnya). Gue mungkin nggak mengenal beliau secara personal, tapi salah satu fakta yang gue tahu tentang Bu Nani yakni bahwa beliau adalah putri dari salah satu dari tujuh pahlawan revolusi : Alm Sutoyo Siswomihardjo, yang meninggal karena tragedi (yang dulu dikenal) dengan istilah G 30 S/PKI. Semasa kuliah dan berada satu institusi dengan Bu Nani, gue kerap wondering mengenai bagaimana peristiwa tersebut memberikan lessons buat beliau, semacam pengen tahu cerita kronologisnya, bagaimana ia mengenang sosok almarhum ayahnya hingga bagaimana ia melanjutkan kehidupan pasca tragedi tersebut. Wondering tinggal wondering, sampe akhirnya di suatu siang pas lewat Gramedia gue nggak sengaja liat buku dengan sampul seperti dibawah ini:

buku Saya, Ayah dan Tragedi 1965

buku Saya, Ayah dan Tragedi 1965

Dan sangat surprise begitu tahu buku ini ditulis oleh Ibu Nani sendiri dengan tema yang memang sudah dari dulu ingin gue tahu lebih dalam dari beliau. Langsung deh dibeli, dibaca, distabilo kata-kata yang menurut gue bagus hehehe. Buku ini terdiri dari 2 bagian besar. Bagian pertama itu berisikan bab-bab yang sifatnya sangaaaaat personal, dimulai dari Bu Nani menjelaskan awal kelahirannya, masa-masa kecilnya, hubungan dengan ibu kandungnya yang meninggal saat Bu Nani masih anak-anak, hingga bagaimana relasi yang ia bangun dengan ibu tirinya dan tentu saja…kenangan akan sosok ayahanda, keseharian yang dihabiskan, pelajaran-pelajaran yang diperoleh dari sang ayah, hingga tragedi yang merenggut nyawa ayahnya. Pokoknya di bab ini rasa hati pas baca tuh haru biruuu banget. Gue berasa kayak baca anamnesa gitu, riwayat kehidupan seseorang yang penuh warna, penuh liku dan struggling yang luar biasa dari Bu Nani. Kalau diibaratkan tema psikologi, bagian pertama ini sangat psikoanalisa, hehehe. Jadi merenungkan sendiri sama kondisi kita sebagai individu, gimana kita memaknai hubungan dengan ayah ibu dan ternyata pas kita udah gede, banyak tingkah laku dan keputusan2 kita yang tanpa kita sadari itu karena pengaruh relasi kita dengan orangtua di masa lalu dan pengalaman2 lain yang mengikutinya. Cerita tersebut dituturkan dalam bahasa yang mengalir, seperti didongengkan tanpa merasa ngantuk, ada refleksi yang sangat bagus didalamnya, yah mungkin karena yang nulis adalah seorang psikolog, jadi sedikit-sedikit diselipkan background teori psikologi tertentu meskipun dengan bahasa yang sangat sederhana dan mudah dipahami.

Mata gue mulai berkaca-kaca pas baca salah satu bab di bagian pertama itu yang menceritakan hari-hari terakhir kebersamaan Bu Nani (yang saat itu berusia 15 tahun) dengan ayahnya. Gue kagum dengan sosok almarhum ayah Bu Nani yang sudah sejak dini mengenalkan Bu Nani kecil kepada buku-buku dan mendidiknya berpikir kritis. Ada satu quote yang bikin nangis pas baca, yakni pas Bu Nani menceritakan bagaimana dulu ayahnya mendidiknya :

“ Ayah, kami anak-anaknya memanggilnya Papap, pernah mengatakan – “Nan, kalau kamu tidak bisa mendapatkan apa yang kamu ingin cari dari papap, carilah itu dari gurumu atau orang-orang lain yang dekat denganmu. Papap tidak bisa menjawab semua dan menjadi segala-galanya dalam hidupmu, karena papap tidak tahu semuanya.” – hal 49.

Bagian pertama ini juga jadi menarik karena banyak diselipkan foto-foto keluarga, foto-foto jadul pas Bu Nani masih anak-anak yang cute bangettt (dan udah kelihatan senyum khasnya hehehe). Dan tentunya bagian yg gue tunggu-tunggu, adalah bagian kronologis detil kejadian di 30 September dini hari, hiksss itu bener-bener ikutan tegang dan merinding dan pada akhirnya jadi kebayang betapa berat trauma masa lalu yang dialami Bu Nani. Efeknya jadi kagum sekaligus sangat menghargai usaha beliau mau sharing tentang cerita ini.  Satu quote lain yang juga berkesan buat gue adalah pas Bu Nani mengenang orang-orang yang banyak bantu beliau sejak masa sekolah hingga ia dewasa, :

“Nikmat dari Allah bukan harta semata, tetapi bisa berupa berkah yang diberikan melalui orang-orang yang “diutusNya” untuk berjumpa selama saya menjalani hidup ini.”– hal 31.

Nah sayangnya, bagian pertama yang terasa kurang tuh menurut gue pas Bu Nani cerita tentang kehidupan keluarganya sekarang dengan suami dan anak-anaknya. Diceritain sih, pas mereka menjalani kehidupan berpindah-pindah negara, apalagi pas Bu Nani lagi di NY trus tinggal tetanggaan sama seorang wanita paruh baya yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi (itu juga merinding bacanya), nah tapi yang gue penasaran adalah bagaimana peran suaminya dalam mengatasi trauma Bu Nani dan bagaimana relasi yang beliau bangun dengan suaminya, hal-hal sederhana kayak dimana ketemuannya, trus kenapa suka sama suaminya dan apakah Bu Nani menemukan figur pengganti ayahnya dalam sosok suaminya, dll dsb (kepo banget yaaa padahal mungkin jadi gak relevan kalo Bu Nani nyeritain part ini panjang lebar hahaha), abisan suaminya di foto keliatan ganteng banget gitu kan pembaca jadi penasaran hehehe.. Bagaimana Bu Nani menyikapi sebuah tragedi dan pada akhirnya berhasil mengatasi trauma dan mendapatkan makna atas tragedi tersebut juga gue suka banget, seperti yg gue coba kutip berikut ini :

“Suatu tragedi adalah pergumulan nasib yg tidak dapat dimenangkan. Tragedi tidak akan pernah berlalu karena peristiwanya selalu diingat. Rasa sakit dari penderitaan seseorang tidak dapat dibandingkan atau dipertukarkan dengan penderitaan orang lain. Tetapi hanya dapat ditemukan maknanya bila yang mengalami dapat memberi arti demikian bagi hidupnya. “ – hal 110

Sementara itu, bagian kedua lebih banyak membahas mengenai tulisan-tulisan yang dulu pernah Bu Nani buat di dan untuk media / event tertentu, pastinya membahas soal tragedi 1965 dan apa yang ia alami sendiri saat itu. Disini jatohnya emang jadi kayak ngulang-ngulang sama beberapa statement di bab sebelumnya sih, tapi sebagai sebuah kumpulan tulisan, sangat worth it dibaca, terutama bagi yang memang berminat sama psikologi sosial karena aspek ilmiahnya lebih berasa. Hmm buat gue pribadi, bagian kedua ini gak begitu greget lagi lebih karena gue emang gak gitu nyambung sama dunia psikologi sosial hahahaha tapi ngebaca bahasanya jd bikin inget masa2 dulu diajar Bu Nani *maksut lo, In?*

Kesimpulannya, hmm ya meskipun review gue subjektif, tapi believe me buku ini worth it untuk dibeli dan dibaca. Apalagi kalau kepengen baca buku yang gak terlalu ringan tapi juga nggak terlalu berat banget. Trus buku ini juga bikin kita jadi bercermin diri dan instrospeksi sih, ke hal2 sederhana kayak hubungan sama orangtua, jadi lebih reflektif aja gitu sama kehidupan kita sendiri. Seperti satu quote yang diutarakan Bu Nani pada prolog bukunya :

“Hidup ini memang unik, bergerak, kadang awalnya malang tetapi tak berarti maknanya hilang.”

Terimakasih Bu Nani, untuk berbagi.

Teguran Kecil dari Selembar Uang Tip

Pas weekend kemarin mampir ke toiletnya XXI Plaza Indonesia, *cuma ngaca-ngaca doang sih*, trus nggak sengaja nge-gap ada seorang ibu-ibu yang ngasih tip ke mbak-mbak yg jagain toilet itu senilai.. uang kertas berwarna biru rupiah. Gue juga sempet menangkap sekejap mata reaksi mbak-mbaknya yang tampak sangat senang dan nggak nyangka trus bilang terima kasih. Nggak mau terlalu lama melihat reaksi dia takut gak enak orangnya maluk apa gimana kan ya. Padahal ngasih tip nya sebenernya udah termasuk yg diam2 dan duitnya dilipet2 tetep aja sih masih keliatan. Gue langsung kepo deh merhatiin si ibu yg kalo dari penampilannya sih no wonder memang dia akan kasih segitu. Subhanallah banget deh. Tapiiiiiiii bagi dunia gue yang bekas mahasiswa perhitungan dan recently pengangguran plus eks karyawan yang sulit menabung susah kaya iniii.. nominal sejumlah itu sangatlah besar huwaaa apalagi untuk sebuah tip.

Gue merasa apa yang tertangkap oleh mata gue hari itu adalah sebuah pengingat kecil sih, untuk berbagi. Bahwa sebenarnya bukan nominalnya yang penting, tapi ikhlasnya, ya nggak sih hehehe. Dan gue jadi berdoa dalam hati, semoga suatu saat nanti, gue bisa kayak ibu-ibu itu… memberikan tip ke orang-orang yang mungkin selama ini enggan kita tatap atau ajak bicara lama-lama, membuat dia senang dan sukur2 bisa membantu dia meringankan beban untuk sekedar beli susu buat anaknya atau bedak dan lipstik buat dirinya sendiri… Memberi tip tanpa perlu mempertimbangkan berapa yang harus gue kasih dan tidak pernah sedikitpun merasa bersalah atau menyesal memberikannya.

Semogaaaa ya Allah. Amin.

Ketika Saya hanya Memiliki Diri Saya Sendiri

Ada satu quote yang menarik dari dosen gue yang gue denger sebulan lalu waktu gue dan teman2 sekelompok sedang ujian kasus dan kebetulan mbak D (sebut saja beliau demikian) menjadi penguji kasusnya.

Dia mengajukan pertanyaan yg rada out of context ke kami2 ber-7 saat itu, tanyanya gini kurang lebih :
“Kalian tau gak, ketika seluruh dunia ini meninggalkan kalian, sesungguhnya ada 1 hal yang tidak pernah meninggalkan kalian, tau gak apa itu?”
Kami semua sontak tergiur untuk menjawab, hmm keluarga? Salah. Sahabat? Salah. Tuhan? Salah. Yaah siapa dong kalo gitu?
Mbak D menjawab : “Ya diri kalian sendiri lah.”

Kami, terutama saya pribadi, tertawa dengan pertanyaan yang dia jawab sendiri tersebut. Diri saya sendiiiri?? *maksudnya??*

Mbak D lalu memberi penjelasan lebih lanjut, kurang lebihnya begini, “Iya, yang paling setia sama kita sebenarnya ya diri kita sendiri, itulah kenapa kita harus memberi reward kepadanya, menyenangkannya, sehingga ia tidak ikutan pergi meninggalkan kita.”
Inti simpelnya sih : ya menyenangkan diri sendiri itu perlu lho, kalo nggak, lo bisa gila (dgn analogi : diri sendiri meninggalkan kita = we lose ourself = insane).

Berhubung saat itu ujian dilaksanakan di hari terakhir kampus masuk sebelum 2 minggu libur Lebaran, dan jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, kami sudah lelah dengan rangkaian ujian kasus 2-4 jam sehari, ucapan dari mbak D saat itu hanya dijadikan justifikasi bagi kami sebagai tanda : Libur telah tibaaa (for a while)! Dan saatnya memanjakan diri alias senang2. Kami pun makin tertawa seolah mendapat pembenaran atas keinginan senang2 yg mungkin buat bbrp temen gue jd amat berat krn ada rasa bersalah menghinggapi setiap mulai menginjak 1 langkah di mall, memutar tombol play di remote dvd, mencoba 1 sepatu di kaki kanan, membuka pintu salon, dan hobi kami lainnya.

Saat lagi bengong di Puskesmas pas lg jaga praktek gini, tiba2 gw teringat kembali ucapan Mbak D waktu ujian dulu. Merenungkannya. Dan bagai kesambet menganggap bahwa itu adalah suatu quote yang menarik. Coba gue gambarkan ya, kira2 begini :
Ada kalanya kan kita ngerasa gak ada orang lain yang paham ama situasi kita, perasaan kita, kesulitan kita, not even your family or your closest friend. Ketika kita ngerasa harapan satu2nya hanyalah Tuhan, kita ngomong ke Dia. Tapi ga ada jawaban. Kita bisa bilang, mungkin Tuhan lg sibuk dan meninggalkan kita utk urusan hambaNya yg lain. (Well, somehow gw suka mikir kayak gitu kalo keinginan dan doa gw ga terjawab padahal gw pengen cepeet *ya sapa gue??* hehehe). Bagaimana dengan orang yg tidak percaya Tuhan? This quote count them in. Nah itulah mungkin yg Mbak D jelaskan dalam bentuk “seluruh dunia meninggalkanmu.”. Kita lupa bahwa ada 1 yg tersisa, siapakah itu? Ya diri kita sendiri. Gue mengartikan “diri kita sendiri” ini sebagai wujud filosofis sih, bahwa kita human, a sane human. Orang waras adalah orang yg masih sadar bahwa dia punya dirinya sendiri untuk dia andalkan.
Dialah yg menurut Mbak D paling setia namun juga paling terlupakan.

Oleh karenanya, sebelum dia bener2 pergi, sebelum diri sendiri itu ngambek, trus parahnya ogah balik2 lagi dan kita terpisah jauh darinya, maka : bahagiakanlah. Buatlah dirimu sendiri senang. Lakukan apa saja yang sekiranya bisa membuatnya terhibur. Maka niscaya, ia akan selalu setia menemani, dan yang paling penting : memastikan bahwa kamu masih waras berkat kehadirannya.

So, dari situ, gw jadi berpikir, gw gak akan menunggu lama untuk menyelamatkan diri gw sendiri itu, ketika gw sedih, kecewa dengan dunia, teman2, keluarga, kuliah, apa yg mbak D bilang mengingatkan gw bahwa kamu masih punya diri kamu sendiri, bersenang2lah dengannya.

Nanti, kalau kamu dan dirimu sudah sama2 senang bersama, maka dunia akan lebih mudah utk direngkuh, karena kamu punya dirimu.

Ah, sudahlah. Sekian meracau siang2. Saya tidak pandai berfilsafat. Tapi semoga siapapun yg baca, paham ya maksud tulisan ini.

Terima kasih ya Mbak D.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Meracau tentang si Klien Impor yang bikin Gempor

Gue selalu percaya bahwa bukan hanya jodoh yang udah ditentukan ama Tuhan, bahkan yang paling sederhana nih dalam kehidupan gue saat ini, yakni : KLIEN pun terkadang emang udah diatur pertemuannya ama Tuhan. Hal itu gue rasain banget pas gue ketemu sama errr.. sebut saja Miss X lah ya. Dia ini itungannya klien ke-2 selama gue praktek institusi. Lokasi institusinya mayan jauh dari kampus, ketemunya juga hanya boleh sore hari jam 17:00 – 19:00 malem. Effortnya gede deh. Udah mana pas gue kesana waktu itu 4 hari berturut2 ujan terus malemnya.

Pertemuan dengan Miss X gue anggep awalnya sebagai cobaan sih, berhubung dari awal gue udah prepare bakal dapet klien cowok yang emang jd penghuni terbanyak institusi tersebut. Miss X hanya 45 hari ada di sana, pas gue datang, dia sisa menjalani 3 minggu lagi dan itu periodenya sama persis ama jadwal praktek gue. Intinya: gue gak bisa mengelak untuk gak nerima dia jadi klien. That’s why I called it destiny. Pengurus institusinya juga udah nekenin bahwa gue harus ambil karena dia gak bakal lama stay di sana. Dengan suasana hati campur aduk, deg-degan, cemas tapi sekaligus excited, gue sanggupi dengan bismillah. Ahhh gue masih bisa ngerasain groginya saat itu.

Yang bikin gak pede sih sebenernya bukan soal kendala bahasa, walopun gue ngerasa Inggris gue masih suka belepotan, tapi soal vocabulary lumayan lah (sisa grammar yang bubar), yang bikin grogi duluan adalah profil klien gue ini yang rada eksentrik dan alamak kompleksnya. Intinya Miss X adalah seorang alkoholik kronis yang lebih dari separuh umurnya dia habiskan untuk konsumsi alkohol, trus juga dia ada isu KDRT gitu deh, sama rada-rada borderline (ini juga hasil sok2an diagnosis gue aja). Selama 2 minggu gue ketemu dia sekitar 8 kali pertemuan. Selama itu pula pikiran gue selalu dibayang2i ketakutan : Akankah dia memahami apa yang gue bicarakan? Oh boro2 ding, akankah dia mauuu bicara sama gue? Apakah gue terlihat seperti anak susah dimatanya? And so on and so on..

Saking takutnya, setiap sebelum ketemu Miss X, gue bikin daftar pertanyaan. Gue juga translate-in dengan bahasa yang sederhna beberapa administrasi tes psikologi yang akan gue kasih ke dia. Yang paling JUMBO adalah pas gue nge-tes Rorschach sih, itu aslik ya dia ngomong emang cepet banget kan, plus gue harus nyatet verbatimnya, makin kayang deh gue. Udah mana respon dia banyaaaaak banget. Halah stress spokoknya. Yang jadi tantangan lagi adalah, Miss X ini super moody-an (ya namanya juga borderline). Kalo kita salah dikit, dia akan sok2 ngambek trus makin berjarak ama gue. Tipikal yang. “gue gak mau ngomong ah kalo lo gak nanya, gue nggak mau senyum ah, kalo lo gak senyumin gue duluan..” yang gitu-gitu lho.. capedeh. Plus  kondisinya gue kesana udah letoy2 karena menempuh perjalanan yang bikin ngantuk dan capek, nah dianya malah lagi seger2nya (karena jam 5 sore itu itungannya dia udah mandi jd seger beneur..).

Sejak pertama kali kita bercakap-cakap, gue pribadi sudah merasakan adanya kesenjangan emosional antara gue dengan dia. Ya cerita sih cerita, data sih lengkap, tapi entah kenapa perasaan jauh itu selalu ada.  Gue gak merasa empati  dengan dia cerita soal perlakuan abusive yang dia terima, tentang masa kecilnya yang pahit, sama sekali gak (biasanya kalo ama klien lain gue pasti ikutan mellow, maklum  amatir), nah ini gue flat-flat aja. Wah gak beres nih. Stress psikologis lain adalah mikirin mau nanya apa lagi ya, mau ngobrolin apa lagi ya, dsb dsb itu selalu setiap malam susah tidur gara2 gitu doang. Deg2annya juga gak ilang-ilang. Sampai akhirnya pas mau pertemuan terakhir, gue bilang sama Miss X, “Tomorrow  will be our last session, okay?”, dan saat itu gue langsung gloomy mendadak. Besokannya pas sesi terakhir, tak gue sangka tak gue duga, Miss X tumben-tumbenan nyatet segala hal yang terucap dari mulut gue, dia catet saran-saran dan masukan dari gue buat dia, dan akhirnya dia nanya2 tentang diri gue, gimana kuliah gue, apa kegiatan gue sebelum kuliah dsb dsb. Oiya, berhubung Miss X ini asli AS yg 10 tahun tinggal di Bali, kadang gue juga suka sih ngebahas soal Bali (untung sempet kesana!) buat basa-basi mencairkan suasana aja, dan ternyata berhasil. Pas pertemuan terakhir, ada satu kata-katanya yang gue gak bisa lupa gak tau kenapa, cuma  kata-kata penutup basi sih, “ If you come to Bali, just let me know ya.. (sambil kasih alamat emailnya di secarik kertas ke gue),  good luck with your paper and all those reports stuff… bla bla..” basi banget kan, tapi mungkin karena sebelum2nya gak kesambet kayak gini, gue jadi ngerasa , “Awwww…” banget (kayak di Oprah gitu lho.. “aawww… so sweet.” Di mobil pas pulang, gue diem2 ngapus setetes air mata di pipi (hiya kenapa jadi gak banget gini), karena keinget bahwa ternyata gue berhasil merebut atensinya. I got her and I’m teary happy..

Sejak pertemuan itu sampai sebulan lebih setelahnya, gue sudah gak ketemu-ketemu lagi sama Miss X dan mulai repot bikin laporan kasus dia. Bolak-balik revisi, bolak balik cek ricek lagi hasil tes, baca buku A buku B, cari teori A teori B hanya agar bisa dapet gambaran yang komprehensif tentang dirinya. Gue nyaris putus asa karena paper gue nggak kelar-kelar. Udah gak tau lagi mau revisi apaan, butek to the max. Sejauh ini, Miss X adalah klien tersulit gue. Sulit karena inilah pertama kalinya gue berinteraksi cukup panjang dengan orang Kaukasian asli berbahasa Inggris. (bener deh mungkin karena konteksnya pemeriksaan psikologis jadilah yang dibahas seputar masalah dan masalah alhasil kepala gue berat banget setiap abis ketemu Miss X, geger bahasa gitu).

18 Agustus kemarin, tepat 3 minggu setelah kepergian Miss X dari institusi untuk kembali ke Bali, laporan gue resmi di-approve oleh dosen pembimbing.  Senengnya kayak bisul pecah deh. Nilainya sangat memuaskan gue sih (untuk ukuran 5 kali revisi paper dan 3x revisi surat keluar). Tapi bukan itu yang utama. Yang langsung terlintas di pikiran gue sambil tersenyum membawa laporan untuk dikumpulkan adalah kenangan singkat tenag sosok Miss X. Apa kabar dia sekarang, apakah masalahnya selesai, apakah dia masih minum alkohol atau udah berhenti, kambuh lagi gak ya, oh dan pertanyaan paling gong dan lebay dalam benak gue adalah, “ masih inget gak ya dia sama gue..” dia emang sempet kasih alamat email dan Facebooknya, (yang belakangan akhirnya kami udah jd friend di FB), tapi gue gak yang nanya2 hallo2 isi wall dia lah ya simply karena gue gak mau terokupasi oleh perasaan bertanya2 terus menerus tentang kondisinya. Gak mau kepikiran aja.

Sampe detik ini, gue tapinya gak bisa ngilangin sosok Miss X dari kepala.. Ada  batasan semu seperti dinding transparan yang entah kenapa menghalangi gue untuk mengontak dia (mungkin alasan etis juga kali ya), atau cara escape gue aja biar ga kepikiran itu tadi. Rasanya pingin gue ngulang lagi masa-masa 8 kali pertemuan dan ngobrol sama Miss X, mau denger cerita dia lebih banyak lagi dan bisa bantu dia lebih jauh lagi. Walopun perjalanan praktikum institusi gue masih jauh (masih 7 kali laporan lagi yang harus dikumpul), tapi ketika ditanya, siapa klien yang paling berkesan selama praktek, sepertinya gue udah tau jawabannya. Pasti gue akan bilang Miss X. Si klien impor yang bikin gempor. Gempor fisik, gempor hati, tapi kesan yang ditinggalkan ternyata begitu dalam buat hidup gue. Well, gue banyak belajar sih dari pengalaman Miss X, dan merasa malu banget karena dia punya sejarah kelam kehidupan tapi masih asik2 aja sementara gue yang sok drama masih suka ngeluh untuk hal-hal gak penting.

Terima kasih ya Miss X. It’s an honor to know you. Terima kasih Tuhan atas kesempatan emas dan tantangan yang Kau berikan. Finally I did it!

*meracau malam2 ini dipersembahkan untuk memperingati suksesnya menyelesaikan laporan kasus Miss X, seperti janji kecil gue dalam hati untuk setidaknya mengetik kisah tentangnya dalam blog ini. Semoga kelak gue bisa ketemu dia lagi dalam kondisi yang jauh lebih baik dari hari kemarin.*

Belajar Benar Salah dari Abang Kenek Metromini

Tadi pas gue lagi naek Metromini mau ke Blok M, gue kebetulan duduk di kursi belakang, deket pintu keluar yg mana keneknya suka berdiri disitu. Perjalanan begitu aman sentosa sampe di depan suatu ITC, ada sepasang suami istri memberhentikan Metromini yg gue naikin itu trus naek dong ya. Naeknya pas di pintu belakang, si Bapak duduk deket gue, si Ibunya (yg gue asumsikan istrinya lah ya) duduk rada ke tengah dikit. Si Ibu menenteng beberapa kresek belanjaan yg tentunya hasil belanja di ITC tadi (terlihat dari tulisan dan alamat toko di plastik kreseknya), trus belum lagi ditambah tas si Ibu yg rada besar dan baju dia yg kembang2 mencolok lah ribetnya dia di Metromini. Kebetulan kejadiannya siang bolong jem 11:30an.
Nah baru jalan sebentar, si Bapak ini udah rempong pilih2 tempat duduk trs kayak ngomong2 ke Ibunya dgn suara agak kenceng gt (padahal Metromini lg rame ngepass gitu), sampe akhirnya mereka duduk di kursi masing2.
500 meter selepas mereka naek, si kenek nagihin ongkos dong ke si Bapak, gue berharap gue budek saat tak sengaja mendengar si Bapak bilang :

” Numpang aja, bang.”

HAAAA? *maksud lo ga bayar?* dalam hati gue bergumam begitu.

Makin intens lah gw mengamati interaksi memanas antara si Bapak dengan si kenek.

Si Kenek yg masih kalem kebingungan lalu menghampiri si Ibu istrinya yg duduk di tengah, dgn harapan mungkin ada ongkos 4000 rupiah yg diberikan oleh si Ibu. Ternyata si Ibu dengan escape-nya bilang : “Belakang, bang!”, maksudnya ya minta ke si Bapak dong. Huaaaaa. Suasana memanas.

Si kenek lalu menagih lagi ke si Bapak. Yang terjadi tanpa diduga adalah si Bapak mulai memaki2 kenek tersebut. Salah satu kalimat yg terucap dr mulut si Bapak adalah : “Masa numpang aja gak boleh?” (Semoga gue salah denger ya).

Si kenek mulai sewot (YA IYALAH!!), dia bilang : “Ya saya kan nyari setoran juga Pak. Bapak kalo ga suka ya naik Taksi aja, bisa belanja kok gak bisa bayar ongkos sih??”.
Si bapak makin panas hati, dia malah maki2 baliksi kenek. Ada penumpang yg mencoba menengahi dan kasih 5000 rupiah buat bayarin si Bapak dan si Ibu, berharap itu menyelesaikan masalah. Ternyata si Bapak malah gak suka juga dibayarin, dan diambil 5000 itu, dibalikin ke penumpang tadi dan dia memaki keneknya bilang kurang ajar bla bla dan gedor2 pintu bis minta turun. Keneknya dengan senang hati lah ya setopin bisnya.. Jreng, turunlah si Bapak lengkap dengan si Ibu yg (pura2) kebingungan sama ulah suaminya.

Seluruh penumpang terbengong2, ada yg penasaran pgn tau ada apa sih ribut2 di bangku belakang tadi?.

Selanjutnya si kenek maki2 sewot sendirian, dia merasa dia sudah bertindak benar. OH BANGET KOK BANG LO BERTINDAK DGN SANGAT BENAR!!! Gue langsung memihak si kenek dong pastinja.
Kenek nya curhat ke salah satu penumpang di deretan belakang yg jd saksi mata, inti maki2nya kurang lebih gini :

“Orang gak tau diri, masa bisa belanja gak mau bayar bis, lagak doang gede, duit ga ada. Malah marah2, ya saya sewot kan jadinya.
*tiiiiiiit sensor karena si kenek nyebut salah satu suku bangsa yg ia duga adalah suku bangsa si Bapak dan si Ibu tadi.*…lanjut : emang ya manusia itu ada-ada aja. Itu dia makanya cewek suka gampang ketipu penampilan, keren dikit aja langsung iya, padahal yang gembel malah lebih banyak uangnya lho.”

Yak si kenek mulai curhat colongan.

Gue terganggu dengan komentar si abang Kenek itu. Terganggu karena ternyata dia bisa sewot dengan begitu menggigitnya. Gue setuju absolut dengan dia, meskipun kesindir jg sih, apa gue termasuk cewek2 yg dia anggap gampang tertipu penampilan? Ha-ha-ha.

But the point is, pelajaran tentang kehidupan itu ternyata bisa lahir dr mulut seorang kondektur bis. Setidaknya dia punya moral judgement yg lebih baik daripada si Bapak dan si Ibu yg aneh berat itu tadi. Gue gatellll rasanya pengen ikut komen. Kenapa ya hareee genee masi ada aja orang yg gak bisa membedakan elo salah nyet, dan elo bener kok, bener dan salah emg masalah persepsi sih, tapi naek bis ga mau bayar trs pas ditagih marah2 itu kan SALAH ELO PAAAK.

Ah, dunia ini bener2 mau kiamat.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Kartini-ku dalam wujud Mbak Dosen-ku

Bulan April identik dengan bulannya Ibu kita Kartini. Tahun lalu kalo gak salah gue pernah bahas di blog soal remeh-temeh ribetnya jadi perempuan, sekarang tiba-tiba kepikiran mengenai beberapa orang di sekitar gue yang gue anggep keren dan somehow ternyata some of them itu jenis kelaminnya perempuan. Just for share aja, entah kenapa ya, gue tuh selalu suka dan ngefans sama tipikal perempuan cantik yang sukses dan mandiri. Oke gue ralat, lebih tepatnya : perempuan sukses sekaligus mandiri (makin bagus lagi kalo dia cantik). Sengaja –nggak disengaja sih, tapi kalo dirunut ke belakang, indikasi akan ketertarikan gue pada tipe-tipe perempuan fearless sebenernya sudah bisa terdeteksi dari jaman kapan tau, apalagi karena dari kecil (tanpa gue sadar), yang gue inget dari apa yang sudah diajarkan bokap nyokap tuh justru bukan soal agama dan pendidikan dan hal-hal sejenisnya, tapi malah soal kemandirian, khususnya dari nyokap (yang kayaknya kalo dikroscek langsung, dianya juga gak bakalan ngeh kalo pernah ngajarin segitunya). Berhubung nyokap asli Padang jadi matrilinealismenya sudah mendarah daging so cerewet2nya dia pasti gak jauh2 dari urusan keperempuanan yang harus bisa ini, itu, blabla intinya perempuan harus bisa berdiri di kakinya sendiri (ini kiasan ya, ngerti kan maksudnya?)..

Sejauh ini, kemampuan yang bisa gue banggakan adalah dengan terbiasanya gue me-time sendirian dan kemampuan gue berenang (ini bahkan udah bisa sombong, secara temen-temen gw masih ada yg belum bisa renang, bow), nah selebihnya, kayak nyetir, masak, bahkan ngiris bawang aja gue gak bisa rapih. Payah deh. Itu hal-hal sehari-hari ya. Di urusan otak, gue juga nggak pinter-pinter amet, bahkan gw sadarmakin tuir gue berasa makin telmi dalam hampir sebagian besar hal. Tapi, semakin tuir, anehnya gue semakin banyak ketemu sosok-sosok perempuan inspiratif dan sukses dengan kriteria yang tadi udah gue sebutkan.

Contohnya nih, gue mau share tentang salah satu idol ague di kampus, yakni dosen Neuropsikologi gue. Gue sempet diajar sama dia pas semester 1, dan kebayang-bayang terus sampe sekarang akan sosok dan aura-auranya. Buat gue, mbak dosen gue ini juara umum deh. Pertama, dia pinter (banget!! Serius.). Lulusan Amrik di bidang yang amat spesifik dengan nilai sempurna (kayaknya dia cumlaude deh), tapi nggak nge-Amrik, gitu, alias gak “eh, gue keren lho”, nggak yang gitu sama sekali. (Oke, gue sangat bias ama pencitraan orang2 lulusan luar negeri, jadi harap maklum). Kedua, dia tajir. Kalo di Google dan diulik2 gosip, dia cukup beken dan dekat dengan orang-orang penting negeri ini. Beredar banget lah. Wah gue gak perlu kali ya critain harta benda dia yg tampak apa aja, pokoknya tajirnya sampe kalo bisa gue diadopsi, gue mau deh. Tetep digarisbawahi : dia gak sombong. Ketiga, dia stylish!, gue suka gaya busananya yg unik dan selalu passcok dipandang mata.

Setiap masuk kelasnya, dan setiap ketemu dia di koridor kampus, gue cuma bisa terdiam kagum sambil berkhayal, bisa gak ya gue jadi kayak dia. Entah ya namanya juga ngeliat dari permukaan doang, tapi penilaian gue saat itu adalah : ini dia nih fearless female versi gue. FYI, mbak dosen gue ini terkenal strict banget di kelas, kalo ngomong tegas, kritis, dan kalo nanya mahasiswanya bener2 intimidatif bikin lupa semua ama jawaban yg udah kita persiapkan (apalagi kalo gue bener2 gak ngerti, beeuh..). singkat kata, udah pinter, tajir, teges, pergaulan oke, dedikasi oke, stylish, wawasan luas, apalagi sih yang kurang. Kayaknya dunia ada di genggaman deh. Dari sosok dia, gue semakin yakin bahwa : dengan bekal ilmu, kita bakal dihormati dan disegani. (apalagi perempuan, sounds so Kartini, huh? :D). Buat gue, dengan dia punya segalanya, dia bisa melakukan apa saja, berteman dengan siapa saja, meraih apa saja dan pacaran sama siapa saja. Atau malah gak butuh cowok? Eh tapi mbak dosen gue ini ternyata punya cowok hihihi lucu deh (nah karena dia punya cowok, gue jadi makin penasaran, cowok seperti apa yang tak gentar jadi pacarnya ya? *masih bias campur subjektif dan judgement tingkat tinggi*).

Ngefans-nya gue sama dia mulai gue sadari pas tanpa sadar gue potong rambut, dan potongannya mirippp ama potongan rambut dia. Trus makin GR lagi pas gue dipanggil sama dia gara-gara nilai gue jelek trus ditanya sana-sini blabla, tapi itulah salah satu momen akademis yang berkesan sampe sekarang, karena kalo nilai gue bagus mungkin gue nggak akan dapet kesempatan bercakap-cakap dengannya (yes, ini lebay), sampe gue bisa ngendus-ngendus aroma parfumnya (nah, ini creepy), dan usut-usut dia di Twitter dan Google (ini makin creepy). Puncaknya pas balik dari Bali mau ke Jakarta, di airport, gue ketemu sama si mbak dosen dan (kayaknya) pacarnya. Bahkan gue ternyata 1 pesawaaaat, meeen.. GR berat gue. GR sama kebetulan semesta yang nomplok ke gue, kenapa harus 1 pesawat plis banget kaaan (kayaknya Tuhan tau gue ngefans ama dia, jd dipertemukan). Disitulah gue pertama kalinya bisa nyapa dia, dan dia balas tersenyum ke gue. Rasanya puas banget senengnya (abis itu pamer ke temen2 kalo gue 1 pesawat hehe).

Kalo ditanya, kenapa gue bisa segitu ngefans-nya (sekarang sih udah rada mereda dikit karena udah gak diajar lagi), gue juga bingung jawabnya gimana. Mungkin karena mbak dosen gue ini punya hampir semua hal yang gue nggak punya dan tau hampir segala hal yang gue nggak tau. As simple as that. Tapi lebih dari itu semua, dia masih memijak bumi dan membagi apa yang ia punya ke sekelilingnya (maksudnya : ilmunya). Sesuatu yang sebenernya gue sendiri ragu apakah bisa gue bersikap demikian kalo gue jadi dia? Sekarang aja gue udah egois untuk hal-hal yang gak penting. Bener-bener bagai pungguk merindukan bulan.

Dari sosok mbak dosen gue itu, gue jadi makin banyak belajar tentang bagaimana seharusnya perempuan bersikap. Bahwa berdiri di atas kaki sendiri seperti yang nyokap berikan value-nya di gue, ternyata gak berhenti sampai disitu saja. Mandiri dan sukses adalah kebanggaan pribadi (at least for me), cantik itu anugerah Illahi, pintar itu mengasah harga diri, tapi rendah hati, itu yang masih susah dicari.

Setidaknya, gue temukan semua itu di sosok mbak dosen gue.

Semoga someday, gue bisa jadi kayak dia, setengahnyaaaa saja.

Happy (belated) Kartini’s Day!

Belajar dari Opa Bandura

 

Berikut ini adalah beberapa quotes dari Albert Bandura, beliau adalah salah satu tokoh Psikologi yang banyak membahas tentang Social Learning Theory, salah satu konsepnya yang terkenal adalah mengenai self-efficacy, yang artinya kurang lebih : seberapa yakin kita akan kemampuan diri kita sendiri dalam mengatasi suatu hal / meraih keinginan2 kita.

Gue terus terang nggak begitu tertarik awalnya sama Bandura, berhubung gue adalah pecinta psikoanalisa sejati, nah si Opa Bandura ini jelas sangat revolusioner (ya iya lah yaa..), tapi pas baca salah satu jurnalnya, suprisingly, gue nemu beberapa quotes yang sangat encouraging dan hmm yg bener juga yaaa-mode on, gitu (tapi butuh tekad hati yang kuat untuk bisa memenuhi sabda si Opa). Berikut beberapa akan gue share disini, biar ada dokumentasinya. hihi.

People’s self-efficacy beliefs determine their level of motivation, as reflected in how much effort they will exert in an endeavor and how long they will persevere in the face of obstacles. The stronger the belief in their capabilities, the greater and more persistent are their efforts.

When faced with difficulties, people who are beset by self-doubts about their capabilities slacken their efforts or abort their attempts prematurely and quickly settle for mediocre solutions, whereas those who have a strong belief in their capabilities exert greater effort to master the challenge.

The more efficacious people judge themselves to be, the wider range of career options they consider appropriate and the better they prepare themselves educationally for different occupational pursuits. Self-limitation of career development arises more from perceived self-inefficacy than from actual inability.

Those who are assured of their capabilities heighten their level of effort and perseverance, whereas those who are beset by self-doubts about their capabilities are easily dissuaded by failure.

If people experience only easy successes, they come to expect quick results & their sense of efficacy is easily undermined by failure. Some setbacks & difficulties in human pursuits serves as useful purpose in teaching that success usually requires sustained effort

Intinya :

  1. Kalo kita punya keyakinan dalam diri kita, maka kita pasti bisa mengatasi kesulitan yang ada. Semakin besar yakinnya, semakin bisa mengatasi kesulitan yang juga besar.
  2. Nggak ada sukses yang gampang. Semua butuh usaha (yang keras dan berkesinambungan, tentunya).
  3. Kita bisa jadi apa aja yang kita mau, karena kalau kita punya keyakinan kalo kita bisa jadi apa aja, maka (tanpa kita sadari), sebenernya kita udah prepare diri kita untuk belajar dan mencari cara apapun  menuju apa yg kita mau itu.

Lumayan kan nih buat dibaca2 kalau lagi kehilangan motivasi 🙂

Dikutip dari :
Bandura, A (1989). Human Agency in Social Cognitive Theory. Stanford University : American Psychological Association. 22, 1175-1184